
Di lain waktu, Falih mendengar jika Yusuf dan Aminah pergi ke Korea untuk kuliah. Ia pun juga ingin ke sana, namun tidak diberi izin oleh orang tuanya, karena dirinya sudah terlanjur masuk ke Universitas lain di kota itu. Falih merasa kesal dan mencoba menghubungi Hamdan untuk membantunya pindah ke Korea. Namun jawaban Hamdan.....
"Nikmati saja hidupmu. Hargai orang tua ketika mereka masih ada. Jangan karena ingin bersama dengan saudaramu terus, orang tuamu juga membutuhkanmu. Jangan egois!" pesan dari Hamdan.
Tak mungkin Falih meninggalkan orang tuanya lagi. Saat ini, dirinya sudah masuk di Fakultas Hukum sesuai keinginannya. Semenjak Mawar sakit, orang tua Falih juga sering meninggalkan pekerjaan demi menjaga Mawar dulu. Sekarang Falih juga sadar, bahwa ini saatnya dirinya menunjukkan baktinya kepada kedua orang tuanya.
"Aku tidak boleh egois. Mulai saat ini juga, aku harus bisa membahagiakan kedua orang tua dan adikku. Yusuf saja bisa, aku juga harus bisa karena keputusanku, masih ada dukungan orang tua."
Sejak saat itu, Falih berusaha untuk mencapai sarjana hukum. Gak jauh pula dengan Aminah yang sering kali mendapat perlakuan buruk oleh beberapa teman di kampusnya. Tak banyak dan tak sedikit yang menjauhinya karena dianggap aneh oleh mereka. Namun, Aminah tetap kuat menjalani semuanya demi menjadi seorang Dokter seperti Almarhumah Aisyah.
Mendengar jika Yusuf ingin bekerja paruh waktu, Aminah juga ingin melakukan itu juga. Ia ingin belajar mandiri mulai saat itu. Namun sayang, jika Yusuf dalam sehari mendapatkan tiga tempat untuk kerja paruh waktu, Aminah malah di tolak dua belas kali dalam setengah hari.
"Ya Allah, susahnya jadi dewasa," gumam Aminah duduk di halte bus dengan menyandarkan tubuhnya di tiang.
"Kapan aku diberi jalan kemudahan. Apakah mereka ingin cari pekerja yang seksi, hah? Kenapa aku ditolak, sedangkan aku memenuhi kualifikasi mereka?" gerutunya.
"Kita bisa ambil pelajaran dari lampu merah. Tidak semua makhluk di bumi ini diberi jalan dalam satu waktu. Jika semua diberi satu kesempatan yang bersamaan, pasti akan berbenturan. Pasti semua akan jalan pada waktunya, semuanya juga sudah ditentukan oleh penguasa alam. Intinya, sebagai manusia yang bisa berpikir, kita harus sabar dan ikhlas menjalani kehidupan ini. Jangan pantang menyerah!" suara seorang lelaki yang mampu berbahasa Indonesia dengan baik.
"Permisi, apakah.. kamu berbicara denganku?" tanya Aminah merasa di perhatikan oleh lelaki itu.
"Kau dari Indonesia?" tanyanya.
Aminah mengangguk.
"Muslim juga tentunya karena mengenakan jilbab. Perkenalkan, namaku Lee Jeong Tae. Aku seniormu, jangan tanya kenapa aku bisa sedikit bahasa Indonesia, karena aku dulu juga memiliki teman dari sana, sampai berjumpa lagi...." ungkap lelaki yang mengaku namanya Lee Jeong Tae itu.
__ADS_1
Aminah terus menatapnya sampai Jeong Tae naik ke bus dan pergi. Apa yang dikatakan lelaki itu ada benarnya, Aminah tidak. boleh menyerah begitu saja meski sudah ditolak sebanyak dua belas kali dalam setengah hari.
"Siapa dia? Kenapa dia mengikuti urusanku? Katanya, orang Korea paling enggan ikut campur urusan orang lain?" gumam Aminah.
Lee Jeong Tae, seorang lelaki yang lebih tua dua tahun dari Aminah. Dia masuk di jurusan kedokteran, sebelumnya Jeong Tae sudah melihat Aminah ketika di kereta dua hati lalu, lalu melihat Aminah lagi ketika mendaftar jurusan studi yang ia ambil. Jeong Tae ini juga calon dokter anak, apakah Jeong Tae menyukai Aminah sejak pandangan pertama?
--_--_--_--_--
Saat Aminah memikirkan Jeong Tae, nada pesannya berbunyi. Ternyata, ikatan hati Raditya sangat kuat. Ia mengirim pesan di saat yang pas ketika pikiran Aminah memikirkan lelaki lain.
"Assalamu'alaikum, jangan lupa bersyukur hari ini. Semangat ya.. Abang menunggumu di sini."
"Wa'alaikumsalam, hish tau aja si Abang kalau aku sedang memikirkan lelaki lain. Hahaha, aku nggak akan bales deh, yang ada nanti aku kangen dan ingin pulang lagi," ucap Aminah.
"Aku harus semangat, ada Allah bersamaku. Pasti aku bisa dapat pekerjaan. Lebih baik, aku mencari restoran atau toko milik orang muslim saja, siapa tahu kan mereka bisa menerimaku dengan jilbabku ini," memberi suntikan semangat dari Raditya, semangat Aminah menjadi bangkit lagi. Ia memutuskan untuk pulang dulu dan istirahat.
Saat di depan gedung apartemen, tak sengaja Aminah melihat Yusuf turun dari taksi bersama dengan seorang perempuan, yang tak lain adalah Eun Mi. Aminah yang belum mengenali Eun Mi pun salah paham dengan memotret mereka berdua ketika masih berbincang di samping taksi.
"Heh, ketangkep si Ucup. Ucup pacaran, aku bisa memerasnya hahaha...." tanduk Aminah mulai keluar.
Aminah masih menunggu Yusuf selesai mengobrol dan berjalan mendekatinya.
"Assalamu'alaikum, Amin. Kamu baru pulang jam segini?" tanya Yusuf.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, siapa tu? Pacaran ya?" tanya Aminah dengan wajah yang rasanya ingin ditampol menggunakan pot bunga.
__ADS_1
"Na'udzubillah," itu saja jawaban Yusuf dan meninggalkan Aminah.
"Heh? Sia-sia saja foto ini, mending aku hapus aja lah. Susah amat meluluhkan hatinya, dasar keras hati, keras kepala, untung aku sayang dia, untung saudaraku, kalau tidak... uh, udah aku uleg sampai halus!" umpat Aminah.
Ketika Aminah hendak masuk mengikuti Yusuf, ia melihat dari kejauhan seorang lelaki sedang mengingatnya. Aminah merasa bahwa dirinya memang diikuti saat pulang tadi.
"Kenapa dia lari? Siapa dia? Dia mengintaiku, atau mengintai Yusuf?"
Sampai di lift, Yusuf masih bersikap dingin dengan Aminah. Ia masih teringat dengan skandal itu dari Min Ah. Yusuf tidak menyangka jika Senior O bisa mencintai seseorang sampai selama itu. Bahkan ia tahu, jika wanita yang dicintainya sudah dimiliki orang lain dan kini telah pergi selama-lamanya.
"Jika begitu, pasti Paman itu mencintai dengan setulus hati. Bukan karena hawa nafsu saja. Tapi, kenapa harus mencintai Ami-ku? Menurut keyakinan saja sudah berbeda, status Ami juga tidak pernah Ami rahasiakan, kenapa aku masih penasaran aja tentang itu, ya?" batin Yusuf.
"Assalamu'alaikum, jangan bengong, ini di lift. Takutnya nanti ada hantu lift, loh?" tegur Aminah dengan kekonyolannya.
Aminah melirik dan terus melirik ke arah Yusuf.
"Em, Cup ucup ucup. Aku masih kepo dengan liontin itu deh. Itu milik siapa? Ada gambar naga emasnya juga di balik liontin itu. Bisa di ceritakan?" tanya Aminah menyodorkan ponselnya bak seperti reporter.
"Ck, lain kali jangan sembarangan lihat barang orang. Aku nggak tau arti lambang di liontin itu. Karena itu hanyalah sebuah titipan. Dah sampai, sebaiknya kamu segera pulang dan istirahat. Jangan lupa sholat dan ngajinya, biar rasa penasaranmu itu hilang," tutur Yusuf masih menggunakan nada santai.
"Assalamu'alaikum, jangan lupa nanti malam aku main ke rumahmu, jangan pergi kemanapun ya," pamit Aminah.
"Em, Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Yusuf membuka pintu rumahnya.
Yusuf malah belum tahu jika ada lambang naga emas dibelakang liontin itu. Karena yang ia lihat hanya ukiran inisial R didepannya. Karena Yusuf menjadi penasaran, ia pun menghubungi Clara agar bisa mencari informasi tentang siapa gadis bermata biru itu.
__ADS_1