Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 252


__ADS_3

“Astagfirullah hal’adzim!” ucap Adam.


“Ya Allah, sandal siapa itu, Ustad?” tanya Ustad yang tengah bersama Adam.


Mata Adam masih terus mencari-cari dari mana sumber sendal berwarna biru itu. Tentu saja Adam tidak buta. Ia melihat Raihan yang berjalan mengendap-endap dengan satu sendal. Siapa lagi jika itu bukan ulah Raihan, Adam pun memanggilnya dan memberinya hukuman dengan menyalin Surah Al-Mulk sebanyak 38 lembar atau satu buku.


“Hah? Yang benar saja, Ustad?” protes Raihan.


Orang yang berilmu dan beradab, sebesar apapun ilmunya, pasti bisa menempatkan rasa hormat kepada orang yang semestinya. Contohnya, Adam dengan Raihan. Adab Adam menghormati Raihan sebagai kakak dari istrinya, begitu juga dengan Raihan, menghormati Adam layaknya sebagai gurunya, sama seperti ketika mereka di pesantren dulu.


“Mau aku yang hukum, atau adikmu Aminah yang hkum?” goda Adam.


“Astaghfirullah, kenapa jadi ke Aminah. Iya udah Ustad, nanti malam aku setor, ya. InsyaAllah, Assallamu’alaikum, mari Ustad,”


Raihan pamit dengan tergesa-gesa.


“Ustad yakin, menghukum Abang sendiri?” tanya Ustad yang bersama Adam.


“Lah memang kenapa, Ustad. Kan dia berbuat salah, harus di hukum, dong.” Tegas Adam.


 Adam dan Ustad pun kembali ke pesantren. Begitu juga dengan Airy yang baru saja pulang dari rumah Ruchan. Mereka membahas bagaimana cara bicara tentang batasan itu, antara Rafa dan Zahra. Dengan terpaksa, Airy harus membongkar rahasia yang sudah ia simpan rapat-rapat.


Yang artinya, ia harus membuka luka lama di hatinya. Bagaimana saat Sari menyakiti hatinya ketika dirinya hendak melahirkan. Semua itu demi Zahra, seorang anak yang lahir dari rahim wanita yang selalu melukai hatinya. Kurang besar seperti apa hatinya?


Tok, tok, tok..


Airy mengetuk pintu kamar, Zahra. Saat itu, Zahra masih termenung sendirian di ujung kasur. Airy meminta izin untuk masuk dan bicara kepadanya. Zahra hanya mengangguk dan menggeser sedikit duduknya. Airy merasa jika Zahra memperbolehkan masuk itu pun langsung duduk di samping, Zahra.


“Anak Mama masih marah, kah?” tanya Airy dengan membelai rambut Zahra yang panjangnya sebahu.


“Maafkan Mama, ya. Tapi, memang harus ada yang Zahra ketahui,” ucap Airy ragu-ragu.

__ADS_1


Zahra menatap Airy dengan mata yang mirip dengan Sari. Seketika air mata nya menetes, ia tidak tega mengucapkanya. Tapi ini harus ia luruskan, demi kebaikannya. Sebelum itu, Adam juga kebetulan sudah pulang, dengan semangat Airy membukakan pintu untuk suaminya.


“Assalamu’alaikum,” salam Adam.


“Wa’alaikumsallam. Ayo Mas, segera masuk, aku sudah temukan cara untuk mengungkapnnya, tapi aku butuh Mas, agar Zahra lebih paham!” tiba-tiba Airy menarik lengan suaminya dengan sedikit tenaga.


“Mas baru aja pulang, loh. Masa iya harus malam ini, sih?”


“Sabar, masih banyak waktu, Sayang. Mas sangat menghargai kasih sayang yang kamu berikan kepada Zahra sangat besar, tapi…”


Ucapan Adam terputus, karena Rafa baru saja pulang dari pesantren bersama Aminah. Suasana menjadi canggung ketika Aminah muncul. Dengan tanpa dosa, Aminah masuk dan malah ingin tidur bersama Zahra.


“Ini anak memang nggak ada sopan santunnya, main masuk aja tanpa ijin,” gerutu Airy.


“Aminah!!”  teriak Airy.


“Sayang, kita bahas Zahra lain waktu saja,ya. Ada yang ingin Mas sampaikan malam ini, ayo masuk!” Adam menarik tangan Airy dan membawanya ke kamar.


Sementara itu, di kamar, Adam segera mengajak Airy untuk duduk di kasur dan Adam duduk di depannya. Kasur mereka berada di bawah, meskipun  Airy di kasur, Adam masih bisa bertatap muka dengan istrinya di karpet lantai.


“Ada apa, Mas?” tanya Airy penasaran.


“Mas..”


“Iya?”


“Mas..”


“Mas, kenapa?” tanya Airy mulai gemas.


“Pelangi dan du,” ucap Adam dengan senyuman lebar.

__ADS_1


Sengaja Adam mengulur waktu untuk Airy tidak mengungkap kebenaran untuk saat ini. Karena memang waktunya belum tepat. Di samping itu, Adam juga masih memiliki beberapa kejutan untuk Airy dengan memberikan sebuket bunga dan coklat yang lumayan besar.


“Wah, buat aku, Mas?” tanya Airy terlukiskan kebahagiaan di wajahnya.


Adam mengangguk..


“Ada acara apa, ini?” tanya Airy kembali.


“Nggak ada, Mas hanya ingin lebih dekat saja dengan istri istimewaku ini. Mas merasa, akhir-akhir ini kita seperti memiliki jarak yang agak jauh, bisakah kita memulainya seperti awal lagi? Mas rindu dengan kebawelan istriku ini,” ungkap Adam dengan menyentil dagu Airy.


Tanpa Airy rasakan, air matanya sudah tak lagi ia bending. Tercurahkan semua air matanya, ia memang merasa akhir-akhir ini sedikit merenggang hubungannya dengan suaminya. Dengan nada yang bergetar, Airy mengungkapkan permintaan maafnya karena sudah begitu larut dalam kesedihan selepas Papanya pergi.


“Maafkan aku, Mas. Tak seharusnya aku berlarut-larut dalam kesedihan. Hingga suami dan anak-anakku saja tidak terurus olehku. Maafkan aku, aku merasa berdosa sekali, aku mencintaimu.” Ungkap Airy dengan derai air mata.


Melihat istrinya yang menangis, Adam langsung memeluk dan menenangkan perasaanya. Bukan salah siapapun dalam situasi itu, tapi memang takdirnya sudah seperti itu.


“Taukah kamu, Sayang? Mas sungguh sangat tersiksa dengan kerenggangan ini. Mas gagal menjadi pelitamu ketika kegelapan menerpamu, maafkan Mas juga, ya.” Bisik Adam, masih dalam adegan pelukan.


Aminah tidak sengaja mendengar perbincangan mereka. Ia begitu sangat bahagia dengan hubungan kakaknya yang begitu harmonis. Tidak seperti keadaannya yang memang sedang menyembunyikan kesedihannya, karena merasa kesepian. Sang adik tak pernah di izinkan untuk pulang menemuinya.


“Ami Ais, aku sangat beruntung memiliki Ami sepertimu, dengan air susumu aku bisa tumbuh sebesar ini. Aku lahir dan besar dari ketiga ibu yang hebat di hidupku. Aku janji, aku akan menjadi tante yang baik untuk Rafa.” Batin Aminah.


Ketika Aminah sedang menyeka air matanya, Airy membuka pintu kamarnya. Aminah berdiri tepat di depan pintu kamar Airy. Terjadilah peperangan di antara mereka berdua.


“Kamu nguping?” tanya Airy.


“Hih, sok yes!” jawab Aminah dengan judes.


“Barang siapa menguping pembicaraan orang lain, sedangkan mereka tidak suka di dengar, maka telinganya akan dituangkan cairan tembaga meleleh di Hari Kiamat,” tegur Airy.


“Dan fitnah adalah perbuatan keji yang sangat di benci Allah. Fitnah itu dosanya lebih besar dari pada pembunuhan. Pelajari Surah Al-Baqarah ayat 127. Assalamu’alaikum!”

__ADS_1


Merasa kesal dengan kakaknya, Aminah pun kembali ke kamar Zahra dan melanjutkan tidurnya. Begitu juga dengan Airy yang hendak ke dapur, membuatkan secangkir kopi untuk suaminya. Di dapur, Airy baru menyadari, jika ia harus mengurungkan niatnya dulu, untuk mengungkap identitas Zahra.


__ADS_2