
Mereka berdua berbicara panjang lebar di telfon. Bahkan, Rifky juga menceritakan jika Airy sedang menjenguknya ke rumah. Raihan senang sekali, jika Airy dan Adam mampu meluangkan waktu untuk menjenguk Papanya. Karena dia sendiri belum mampu pulang pergi untuk menjenguk Papanya.
"Kamu tenang saja disana. Belajar rajin-rajin ya, agar nanti bisa menjadi anak yang sukses! Jangan hiraukan yang dirumah, jaman sudah canggih, kalau kamu kangen rumah, kamu bisa telfon seperti ini kan? Dah sana, Papa mau istirahat dulu, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Rifky mengakhiri telfonnya.
Tengah malam yang sunyi, Airy terbangun hendak buang air. Kamar mandi berada di luar, berbeda dengan kamar Rifky dan Aisyah yang kamar mandinya ada di dalam. Airy pun membangunkan Adam untuk menemaninya, karena ternyata malam itu sedang mati listrik.
"Astaghfirullah hal'adzim! Kenapa dunia gelap gulita? Mas Adam bangun! HP mana HP?" Airy meraba-raba tempat tidur mencari ponselnya.
Ia juga berusaha membangunkan Adam dengan cara memencet hidungnya. Mungkin karena kecapekan, Adam sulit untuk di bangunkan.
"Ishh, Ya Allah Ya Rabb, kenapa susah banget sih di bangunin! Udah nggak tahan lagi aku!"
__ADS_1
"Mas Adam! Bangun dong! Aku pengen pipis tau, anterin lah!" Airy masih berusaha membangunkan Adam.
"Masa pendekar wani perih ndak berani ke kamar mandi sendirian sih?" gerutu Adam.
"Bukan masalah berani atau tidaknya. Masalahnya ini mati listrik, siapa yang pegangin senternya nanti!" Airy masih saja ribut.
"Yah, Yah,...... Yah... Ah elah, mrembes,"
Surrrrrr...... Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya kendi Airy bocor diatas kasur. Merasa ada yang hangat-hangat mengalir di tubuh bagian belakangnya, Adam pun langsung terbangun.
"Itu air emasku bebeb," jawab Airy dengan santai.
__ADS_1
"Jorok ih! Mana pesing lagi, kok pipis disini sih?" Adam masih saja tak merasa bersalah, harusnya ia segera bangun dan mengantar Airy buang air.
"Ahhh, siapa tadi yang susah dibangunin, kan aku jadi ngompol," kata Airy manja.
"Ya udah ayo ke kamar mandi dulu, Mas antar ya. Nanti Mas rapikan dulu ya, sementara kita bobok di karpet aja ya, ndak papa kan?" tanya Adam dengan lembut.
"Mboten nopo-nopo, (Nggak papa-pap) ayo ke kamar mandi dulu!"
Adam pun mengantar Airy ke kamar mandi yang ada disebelah dapur. Bukan hanya menerangi saja, Adam juga membantu Airy membuka bajunya yang bau pesing itu. Belum juga selesai ke kamar mandi, listrik sudah menyala kembali. Kemudian, Adam pun membersihkan tempat tidurnya, lalu mereka kembali tidur. Tetapi mereka tidur di atas karpet lantai.
Subuh menjelang, ketika keduanya terbangun, mereka mendapati tubuhnya sakit semua. Bahkan, Airy sampai kaku karena jarang tidur dia atas karpet lantai. Kali ini Airy sholat subuh sendiri di kamar, sedangkan Adam bersama dengan Yusuf dan Rifky pergi ke masjid untuk berjam'ah.
__ADS_1
Lalu, setelah sholat Airy pun bergegas memasak. Kini Airy sudah mulai pandai memasak, karena setiap kali Adam mengajarinya. Tepat pukul 06.00, Suami, Adik dan Papanya kembali dari masjid. Sebelum sarapan, mereka bertiga pun mandi terlebih dahulu.
Betapa senangnya jika pagi hari, pulang dari masjid sudah tersedia sarapan di meja makan. Setelah Aisyah pergi untuk selamanya, Yusuf dan Rifky jarang sekali masak untuk sarapan, mereka lebih mengandalkan beli atau kadang di antar sarapan dari Leah atau Clara.