Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 48


__ADS_3

Ternyata, tanpa sepengetahuan Adam dan Airy, kedua pihak keluarga sudah menyebar undangan untuk tamu-tanu ternama di kota itu, seminggu sebelum pernikahan mereka.


Malam tahlilan sudah dimulai setelah buka bersama di pesantren. Setelah tahlilan juga, di adakan tarawih jama'ah seluruh bapak-bapak di desa itu. Selesai semua itu, Ruchan dan Leah sedang berbincang dengan Ustad Zainal di ruang tamu, sedangkan Aity sedang mengobrol berdua dengan Raihan di bawah rindangnya pohon rambutan malam itu.


"Tidur sana Ry, besok hari ijab qobul mu kan? Abang sedih deh, pernikahan impianmu tidak terlaksana." kata Raihan.


"Kenapa aku harus egois memikirkan resepsi Bang, aku memikirkan bagaimana perasaan Ustad Adam dan Ustad Zainal. Insyaallah, resepsi bisa di laksanakan nanti setelah ini kan? Santai aja Bang, gimana kalah kita main tebak-tebakan aja?" Airy mengalihkan pembicaraan.


"Tebak-tebakan apa?" tanya Raihan.


"He, he apa yang menyentuh hati?" tanya Airy.


"Apaan sih Ry? Gak jelas banget deh, mana ada He yang menyentuh hati!" protes Raihan.


"Hey, Abang Raihan yang paling aku sayangi." Ucap Airy sambil menepuk bahu Raihan.


"Garing ah, garing!" kata Raihan.

__ADS_1


"Harus ketawa lah, lucu ini, harus ketawa, kalau enggak, aku ambilin Bang Rai ulet bulu nih!" ancam Airy.


"Jangan, hahaha iya ketawa ini haha. Hore, Airy lucu ya hehehe" kata Raihan mengetuk kening Airy.


Melihat senyuman yang terukir di wajah Airy dan Raihan membuat Ustadzah Ifa bahagia. Jarang sekali ada saudara, bahkan saudara kembar yang sangat akrab seperti mereka berdua.


Dikamar, Rindi dan Siti sudah ada di dalam, mereka ternyata menungu Airy datang. Karena mereka di tugaskan untuk membuat suasana hati Airy tetap stabil, seperti yang sudah terjadi, jika Airy berubah suasana hati, ia akan susah di ajak kompromi.


"Assallamu'alaikum, kalian ngapain disini?" tanya Airy.


"Wa'alaikum sallam, eh sini Ry! Kami punya sesuatu untukmu!" kata Rindi memberikan ponsel milik Airy yang sebelumnya di sita oleh Ustadzah Ifa.


Disisi lain, Raihan sedang bersama dengan Raditya sedang menuntaskan hafalan-hafalannya. Karena tidak lama lagi mereka akan ke Kairo untuk melanjutkan sekolahnya. Mengikuti jejak sang Kakek, dan Pak Lhek nya, walaupun beda kota. Raihan sangat ingin sekali mengejar ilmu sampai ke negri itu.


"Ahh susah banget ini di hafalinnya, lihat deh. Tapi kita harus semangat, buat masa depan, Isyaallah." Tutur Raditya.


Tetapi Raihan tidak mendengar apa yang Raditya ucapkan, ia masih kefikiran dengan Airy. Karena cita-cita ingin ke Kairo adalah mengajak Airy bersamanya, sejak kecil Airy ingin sekali menunggangi onta dan menyentuh padang pasir.

__ADS_1


"Han, Han, Assallamu'alaikum!" Salam Raditya


Raihan masih tidak melepas lamunannya.


"Asaallamu'alaikum warrohmatullahi wabbarokatuh!" Ucap Raditya tepat di telinga Raihan.


"Wa'alaikum sallam warromatullahi wabbarokatuh, opo sih Rad? Sakit tau telingaku!" kesal Raihan.


"Ngalamun mulu sih, ada apa sih?" tanya Raditya.


"Nggak papa kok, aku mau tidur dulu aja ya. Besok hari bersejarah untuk adikku, aku harus tampil cemerlang didepannya, Allahumma lakasumtu....."


Plaakkkkk,,


Suara buku di gibasakan di paha Raihan oleh Raditya.


"Doa makam itu, doa makan Han. Astaghfirullah, kamu ndak mau ikut lek-lekan kah di depan rumah Kyai Besar?" tanya Raditya.

__ADS_1


Lek-lekan itu adalah adat jawa, atau entah mungkin di luar jawa ada yang melakukan ini atau tidak. Yang artinya tidak tidur/begadang sampai subuh, selama (mitung dina) tujuh harian kematian itu. Sepengetahuanku gitu.


Nahh kakak-kakak kalau mau usul visual juga boleh heheh, aku bingung cari visualnya.


__ADS_2