
Di dalam kamar, Laila masih mempertanyakan tentang santainya keluarga besar suaminya menghadapi masalah. Sejak awal masuk, Laila merasa jika keluarga suaminya memang unik sekali. Kebersamaan dan kekompakan meraka patut diacungi jempol 100.
"Tante, aku masih heran dengan keluarga ini. Teror itu serem, tapi kalian semua masih bersikap santai? Ya Allah, jiwa kalian ini terbuat dari apa?" tanya Laila.
"Sebenarnya, kami berdua juga masih heran, loh, Lail? Entah kenapa mereka ini seperti waw, tapi kasihan banyak cobaan gitu!" seru Balqis.
"Hm, Mbak Sera aman. Dia dah lama mengenal dekat keluarga ini. Lha aku? Awalnya kesini mau nyantri tapi malah di pek mantu, huhu...." desis Balqis.
"Kau begitu karena Aminah, 'kan? Masih ingat waktu ibunya Aminah meninggal, kasihan banget, bayi umur seminggu ditinggal ibunya," timpal Sera.
"Tunggu, Aminah itu...." ucap Laila.
"Tidak, dia bukan putri kandungku. Putri kandungku ada di Singapura, adiknya Aminah yang bernama Sarah. Saat kalian menikah, dia datang kok. Dengan rambut pirangnya," jelas Balqis.
__ADS_1
"Wah, kenapa di keluarga ini gampang banget angkat anak, ya? Dulu Ami Aisyah katanya angkat Naira, terus Tante Balqis, Kakaknya Hamdan, si Airy angkat Zahra. Hoho, besok aku angkat anak siapa, ya hehehe," celetuk Laila, membuat Balqis dan Sera tertawa.
Balqis dan Sera lega ketika melihat wajah tertawa di bibir Laila. "Jangan lupa! Uti Leah mengangkat Abang Akbar, hahaha...." imbuh Sera. Semakin menjadi Laila tertawanya, seketika terlupakan masalah boneka itu.
-_-_-_
Keputusan sudah di ambil oleh Yusuf dan saudaranya, keluarga sudah memberikan tanggung jawab itu kepada mereka. Ruchan tersadar, jika dirinya sudah tak muda lagi seperti dulu, kini banyak generasi penerusnya yang memang seharusnya menggantikan tugas dirinya sebagai orang yang lebih dewasa.
"Iya, baru sadar tuh, jika Abi itu sudah sepuh? Hehe, anak-anak kita aja udah pada tua tuh, masa kita mau muda terus, sih?" ledek Leah.
"Heleh, siapa dulu yang nangis di kerjai Bang Sandy dan Sindi pas Abi telat pulang tausiyah di luar kota? Sampai ndak mau makan lagi, Abi tahu Mama sudah jatuh cinta dengan Abi kan waktu itu? Ngaku!" Ruchan tidak mau kalah ketika di ledek Leah.
"Heh, kata siapa? Abi mah mainnya ungkit masa lalu, kan Mama jadi malu! Em, siapa yang ngajari bohong pas mau ketemu Viko? Ehem siapa, ya? Ustad kok pandai berbohong!" balas Leah.
__ADS_1
"Allahu Akbar, Ya Rabb... Ustad juga manusia kali, ya lagian Mama waktu itu jual mahal amat mau ngomong sama Viko ngajak-ngajak, Abi!" kesal Ruchan.
"Siapa yang nangis pas di selingkuhi, ya. Sampai menghabiskan bakso banyak dan setelah itu langsung menerima perjodohan?" lanjut Ruchan.
Leah menyipitkan mata-nya, memonyongkan bibirnya, kemudian melipat tangannya. "Malam ini, Abi tidur menghadap sana! Mama ndak mau ngomong dengan, Abi!" kesal Leah.
"Lah, kok ngamok?" ledek Ruchan dengan nada menyebalkan.
"Terus kenapa? Jangan buat Mama marah lagi, atau besok Mama ndak jadi buatin Abi jenang sagu!" ancam Leah.
"Jangan, dong. Kita sudah sepuh, jadi jangan berantem, ya. Hayuk bobok, sini Abi peluk," goda Ruchan.
Pertengkaran konyol mereka berakhir dengan pelukan. Itu resep mereka agar hubungan tetap harmonis meskipun sudah menjadi Aki-aki dan Nini-nini. Bagi Ruchan, keharmonisan keluarga itu penting. Sebab itulah, dalam setiap menghadapi masalah keluarga, Ruchan selalu membuat candaan agar suasana tidak menjadi tegang.
__ADS_1