Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 11


__ADS_3

Suasana tegang itu membuat Raihan tidak nyaman, ia tidak enak dengan Ustad Zainal dan Ustadzah Ifa. Karena hal yang telah dilakukan Airy sudah membuatnya malu, walaupun itu tidak sepenuhnya kesalahannya.


Setelah selesai mentrasfer uang, Raihan meminta Airy untuk pulang dan pindah sekolah ke MA milik pesantren, karena ngambek, Airy pun lari dan meninggalkan ruangan kepala sekolah. Raka pun menyusul Airy.


"Airy tunggu!" Teriak Raka.


"Ada apa?" Tanya Airy.


"Dia Kakak kamu? Masih SMA juga?" Tanya Raka.


Airy hanya diam saja, ia masih kesal tentang Raihan menyetujui soal kepindahannya dari sekolah itu ke MA milik pesantren.


"Ok, siapapun dia, tapi dia ada benarnya Airy. Kamu harus pindah dari sekolah ini, yang terbaik untukmu adalah MA pesantren, bukan maksutku sekolah ini tidak baik, tapi lebih tepat dan lebih afdol jika kamu sekolah disana" Kata Raka.


"Hem, sekarang kamu pun menceramahi aku? Baik dan buruk kehidupanku itu tergantung denganku sendiri" Seru Airy.


"Airy" Panggil Ustadzah Ifa.


"Asaallamualaikum" Salam Ustadzah Ifa.


"Waalaikum sallam"


Ustadzah Ifa memberi pengertian kepada Airy, mau tidak mau memang sekolah yang cocok untuk Airy adalah MA milik pesantren yang juga dekat dari pesantren. Begitu juga dengan Dila yang harus keluar dari sekolah itu sesuai perjanjian Raihan, Ustad Zainal dan orang tua Dila.


Dengan berat hati, Airy pun menerimanya dengan lapang dada, itu semata-mata hanya untuk menghormati Raihan. Bagaimanpun juga, Raihan adalah pengganti orangtua Airy ketika berada di pesantren.


"Baik," Kata Airy dengan wajah mencurigakan.


"Alhamdulillahhirobbil'alamin, makasih ya Airy" Kata Ustadzah Ifa.


"Eits, dengan satu syarat" Kata Airy.

__ADS_1


"Airy" Kata Ustadzah Ifa.


"Ya kalau mau, kalau enggak ya. Aku lebih baik nggak sekolah" Kata Airy.


"Emm kalau gitu saya pamit ke kelas dulu ya Ustadzah, Airy. Assallamualaikum" Pamit Raka.


"Waalaikum sallam"


"Dengar ya Ustadzah Ifa yang cantik dan solihah, bilang sama Bang Raihan, aku mau pindah ke MA, dengan satu syarat, jangan pernah melarangku naik pohon lagi, this ok! Aku akan nangkring dikala malam saja. Itu caraku menenangkan diri, Assallamualaikum cantik" Kata Airy mencolek dagu Ustadzah Ifa.


Apa boleh buat, untuk menyenangkan hati Airy memang tidak mudah syaratnya bagi seorang santri. Namun, semua itu bisa Ustadzah Ifa dan Raihan tahan, agar Airy bisa menjadi lebih baik lagi.


Ini perpisahan antara Raka dengan Airy, Raka yang sudah mulai jatuh hati padanya harus mau merelakan jauh dar Airy. Ia yakin, suatu haru nanti, dirinya pasti bisa menemui Airy lagi. Dan bisa lebih berani mengungkapkan perasaannya itu.


Sampai di pesantren, Raihan meminta kepada Airy untuk pergi dengan Ustdazah meminta sragam MA yang baru, karena sragam sekolah Airy berbeda dengan sragam MA. Airy sih mengikuti saja, karena kebebasan telah ia dapatkan dari Ustadzah Ifa dan Ustad Zainal.


"Ahh calon adik iparku itu sangat unik. Tunggu calon suaminya pulang terus di nikahin. Hahaha aku nggak sabar reaksi adikku kayak gimana, yang satu kalem, yang satu petingkah seperti itu" Kata Ustad Zainal kepada Raihan.


"Hey, kenapa harus malu, bagaimana pun dia adalah adikmu, kembaranmu. Kamu harus bangga dengannya, kudengar dia juga hafidzah sepertimu kan, ya kalau kamu hafidz. Itu point plusnya Airy, bagaimana tingkahnya, tapi agamanya ia perhatikan" Kata Ustad Zainal menepuk bahu Raihan.


-_-_-_-


Setelah mendapatkan sragam sekolah baru, Airy kembali ke kamarnya yang sunyi itu. Tidak! Kamar Airy telah diisi dengan santri baru yang pagi tadi bertabrakan dengannya.


"Assallamualaikum Airy, kita berjunpa lagi. Tau nggak, aku nggak nyangka kalau ternyata kita sekamar loh, aku seneng banget punya teman sekamar sepertimu, dan tau nggak?" Kata Nadia tanpa nafas.


"Enggak, aku capek mau tidur, kalau perlu kamu pijitin aku. Cepat!" Kata Airy merebahkan badannya.


Nadia mau-mau saja di suruh Airy memihatnya. Bertambah satu lagi benih Airy di pesantren itu. Kenakalan Airy juga akan membawa Nadia masuk kedalamnya. Airy tertidur dengan nikmatnya pijatan Nadia, melihat Airy tertidur, Nadia pun akhirnya juga ikut tertidur.


Hingga sampai ashar, Airy dan Nadia masih tertidur pulas, dibangunkan pun juga sangat susah, mau tidak mau Rindi menyiramnya menggunakan air satu gayung.

__ADS_1


"Bangun! Sholat woy sholat!" Teriak Rindi.


"Apaan sih kamu Rin, bangunin baik-baik kan bisa, kenapa mesti pakai siram-siram segala, aku kan jadi kaget" Kesal Airy.


"Bangunin baik-baik? Hello, orang kayak kamu itu emang harus disiram, dan kamu anak baru! Kamu itu harus mencontoh santri yang baik, teladan seperti aku ini, kenapa kamu mencontoh aliran sesat seperti Airy," Kata-kata Rindi sudah mulai membuat tanduk Airy keluar.


Seketika, Airy menarik baju Rindi dan menunjukkan kepalnya. Namun, sebelum ia ingin memukul Rindi, ia teringat akan janjinya kepada Raihan untuk menjaga perilakunya ketika di pesantren.


"Kenapa? Kenapa berhenti, ayo pukul. Aku nggak takut meski kamu adalah adik Raihan yang sangat tajir itu, bahkan aku sangat membencimu, sangat membencimu" Kata Rindi.


Airy melepaskan kepalannya di baju Rindi, lalu mengambil handuk dan pakaian, pergi mandi dan sholat ashar berjama'ah, tentu saja mengajak Nadia dengannya.


Desas desus kepulangan anak kedua Kyai besar sudah beredar, sejak sholat Ashar, Maghrib dan Isyak hanya itu saja yang mereka bahas. Hingga membuat Airy muak mendengar semua itu.


"Haih apa sih istimewanya anak kedua Kyai besar?" Kata Airy dengan nada keras.


Semua Ustadzah, para santriwati sampai menoleh kearah Airy yang saat itu sedang mengaji bersama di aula. Semua menatap Airy dengan keheranan, kecuali Nadia dan Ustadzah Ifa yang menepuk jidatnya.


"Anak kedua Kyai besar ya calon suamimu Airy, Masya Allah tingkah anak ini buat aku gemes aja, pantas Aminya sangat kuwalahan menghadapinya."Kata Ustadzah Ifa.


"Eh aku serius tanya, kenapa seheboh itu seh?" Tanya Airy masih heran.


"Kamu itu nggak punya tata krama ya, dia itu anak Kyai besar, masa iya kamu nggak tau. Dia itu tampan, solih, dan berakhlak. Nggak kayak kamu" Katus Rindi.


"Bodo amat, peduli apa aku. Kalian ngidolain sampai segitunya kah? Hey, ingat! Dia itu belum tentu menjadi milik kalian, sok yes ah kalian, mending aku, nyantri tuh cari ilmu sebanyak-banyaknya buat bekal amalan nanti di akhirat, soal jodoh ya itu bonus dari Yang Maha Kuasa, hahahha iya nggak Ustadzah?" Kata Airy tidak mau tahu.


"Awas aja kalau kamu naksir, kami yang mengidolakan dia akan menggilingmu" Kesal Rindi.


"Emang aku pikirin? Seganteng apapun dia, dia tetaplah manusia biasa, aku hanya tertarik dengan pilihan orang tuaku, dan terlebih ilmu nya harus melebihi Kakekku, Assallamualaikum!" Salam Airy langsung pergi dari aula.


Airy memang belum tahu soal perjodohannya dengan anak kedua Kyai besar itu, orang pesantren juga baru beberapa yang tahu, sengaja mereka rahasiakan agar Airy fokus menuntut ilmu terlebih dahulu. Namun, anak kedua dari Kyai besar itu telah mengetahui masalah perjodohan itu, bahkan pernah sekali di beri tahu tentang Airy dari Ustad Zainal dan Raihan.

__ADS_1


__ADS_2