
"Rafa belum ada yang jemput, ya? Biar aku telfon Yusuf aja deh." guman Raihan.
"Ayo, Mama antar Rafa pulang, ya. Udah mau sore, Rafa juga harus ngaji, 'kan?"
Raihan menengok ke arah Laila yang sudah memakai jaketnya dan menggandeng tangan Rafa. Kemudian mengambil kunci yang di gantung di gantungan.
"Mau kemana?" tanya Raihan.
"Antar Rafa, mau ikut?" jawab Laila.
"Nggak ada. Rafa sudah mau di jemput oleh Yusuf, kamu tetap di sini!"
Keras hati Raihan juga ada alasannya. Laila langsung masuk ke kamar. Raihan pun memanggil Rafa, untuk dan duduk bersamanya. Ia menceritakan jika Mama Laila sedang mengandung, jadi Raihan tidak mau membahayakan janinnya, karena Laila sangat ceroboh.
"Rafa tau kok kalau Mama Laila sama seperti Mama. Itu mengapa Mama berikan seblak-nya yang nggak pedes," ujar Rafa sambil mengayunkan kakinya.
"Kamu tau?" tanya Raihan.
Rafa mengangguk. Ternyata, Airy tidak bisa di sepelekan, bahkan ia mengetahui kehamilan Laila sebelum ia memberitahunya. Sambil menunggu Yusuf datang, Raihan mengajak Rafa duduk di teras. Belum juga duduk dengan bahagia, seorang kurir datang membawa paket yang lumayan agak besar, sebesar kardus helm.
"Paket! Apakah benar ini rumah Ibu Laila?" tanya kurir itu.
"Iya benar, apakah paket itu untuk istri saya?"
__ADS_1
Kurir itu mengiyakan, kemudian meminta Raihan untuk tanda tangan terima. Perlahan Raihan membawa paket itu masuk, masih penasaran dengan isi paket. Raihan memanggil Laila untuk segera membukanya.
Tak ada nama pengirim, Laila menjadi ragu untuk membukanya. Tapi, Raihan tetap memintanya untuk membuka paket itu. Terkejut dengan isi paketnya, melihat isinya, Laila teriak ketakutan. Siapa yang tidak takut, isi boneka itu adalah boneka bayi yang di congkel matanya.
"Astaghfirullah, siapa yang mengirim ini?" Raihan bergumam.
"Buang, cepat buang!" pinta Laila mojok ketakutan.
Saat itu Rafa juga melihat boneka menyeramkan itu. Bukan hanya mata yang tercongkel, boneka itu juga di lumuri lumpur merah yang entah apa itu, tapi berbau amis seperti darah.
"Buang cepat, Bang! Aku nggak mau lihat itu lagi!" teriak Laila.
Raihan kembali memasukkan boneka itu, ia berusaha menenangkan Laila yang masih saja ketakutan mojok di dinding. Yusuf yang mendengar teriakan Laila itu pun langsung berlari masuk dan menanyakan apa yang tengah terjadi.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu bawa dulu itu kardus, Abang akan membawa kakakmu ke kamar. Tolong juga Rafa, ya...." perintah Raihan.
Sebelum membawanya, Yusuf membuka kardus itu kembali. "Astaghfirullah hal'adzim, perbuatan siapa lagi ini?" batinnya. Kali ini, orang jahat menggunakan teror untuk mengganggu rumah tangga Abangnya.
"Setahu aku, Bang Rai itu tak pernah berbuat negatif yang merugikan orang lain. Kenapa musuhnya banyak banget, sih? Siapa orang yang mengirim ini?" gerutunya.
Sengaja Yusuf tidak membuang boneka sekaligus kardusnya. Ia memasukkannya ke bagasi dan membawanya pulang agar bisa ia selidiki, tangan usil siapa kali ini yang mengusik ke rumah tangga Abangnya.
Yusuf pun pamit, Ia juga memberikan saran untuk Laila dibawa ke rumah Leah dan Ruchan agar lebih aman daripada rumah itu. Yang Yusuf pikirkan dan yang di herankan, baik Aisyah, Rifky maupun Raihan bukanlah orang jahat atau orang yang banyak musuhnya, kemudian ia pun berpikir lagi jika pengirim boneka itu adalah musuh dari pihak Laila.
__ADS_1
"Bismillah, aku akan bereskan ini. Mumpung masih libur tengah semester, jadi masih ada waktu untuk menyelidikinya. Ajak Falih dan Hamdan sekalian, biar rame!" niat Yusuf.
Rafa bingung dengan Pak Lek-nya. Tapi, sadar jika dirinya masih kecil dan tak ingin mencampuri urusan orang dewasa. Jadi, Rafa memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Itu namanya sifat yang tidak tanggung jawab!" seru Yusuf mengendarai mobil (kepepet).
"Aku masih kecil. Lagian, kenapa Pak Lek Ucup bawa mobil? Kan nggak boleh kata Abi," Rafa pintar berkilah.
"Ngerti kepepet, ora? Motor di rumah di bawa sama Om Raditya. Mau jalan kaki?" tanya Yusuf sedikit sensi.
"Galak banget! Tak doakan cepet tua!" kesal Rafa.
Yusuf hanya tersenyum ketika keponakannya mengejeknya. Ia hanya sedikit lelah dengan masalah yang baru saja ia pecahkan untuk, Abangnya. Mungkin dengan cara bersembunyi dan diam-diam menyelesaikan masalah Abangnya adalah bentuk kasih sayangnya untuk Raihan. Tapi semua itu tidaklah benar, keputusannya untuk melakukan individu itu tidak tepat. Harusnya ia memberitahu orang dewasa yang lain. Ancaman boneka itu tidaklah main-main.
Sampai juga mereka di rumah, Yusuf meminta Rafa untuk tidak membicarakannya kepada Mamanya. Karena Airy sedang hamil juga, ia tidak ingin kabar buruk itu membuatnya semakin down. Akhir-akhir ini, kesehatannya terganggu karena mengandung bayi kembar.
"Jadi, Lek Ucup menyuruhku berbohong? Aku tidak mau!" protes Rafa dengan melipat tangannya ke depan.
"Lek Ucup kasih martabak manis deh," Yusuf berusaha menyogok Rafa.
"Dosa! Menyogok itu perbuatan buruk. Rafa nggak mau bohong! Dosa nanti masuk neraka, Rafa nggak mau! Karena Rafa ingin bertemu Zahra di surga."
Mendengar kata Zahra, Yusuf jadi teringat kembali keponakan bawelnya itu. Sedikit pengertian, kenapa Airy tidak boleh tahu dengan masalah itu, akhirnya Rafa mengerti juga. Yusuf sangat menyayangi Airy dan calon keponakan kembarnya.
__ADS_1
Setelah bernegosiasi dengan keponakan yang perhitungan itu. Yusuf segera pergi ke pesantren membawa kardus berisikan boneka seram itu, agar bisa di teliti bersama Falih dan Hamdan.