
"Kalian ini ya, sini dulu!" seru Syakir.
Syakir menarik salah satu telinga Raditya dan Aminah. Membawa mereka kebelakang rumah dekat sumur, lalu meminta mereka memang kedua telinganya masing-masing dengan tangan menyilang. Kemudian Syakir juga menyuruh meraka untuk mengangkat satu kaki di bawah teriknya mentari.
"Abi, masa iya aku juga ikutan, sih? Kan yang bolos Aminah?" ucap Raditya.
"Enak aja, yang buat izin palsu siapa? Yang narik masuk ke mobil siapa? Yang ajak aku nanonano siapa? Hah? Tumpahin aja semuanya ke aku sampai aku kenyang!" protes Aminah tak terima.
"Tunggu!'
"Nanonano apa? Apa itu? Kalian darimana? Kenapa kalian keluar berdua, bolos sekolah juga tidak ada izin dari Abi ataupun Mama?" Syakir curiga.
Baik Raditya dan Aminah sama-sama tidak menjawab pertanyaan sederhana Syakir. Tentu saja membuatnya marah, ia kembali mempertanyakan kenapa mereka pergi berdua tanpa izin dan malah bolos sekolah.
"Ayo jawab! Kalian darimana?" teriak Syakir.
"Maaf...." ucap Raditya dan Aminah bersamaan.
"Heh, sekarang kalian menunjukkan keromantisan kalian. Huft, cepat katakan kemana saja kalian, dan apa nano-nano yang kamu maksud itu, Amin?" tanya Syakir.
"Abi, sudahlah. Mereka biarlah menjalani hukuman dulu, baru dipertanyakan lagi. Kita makan camilan yuk, Mama buat pisang goreng coklat campur keju, sambil menikmati kopi berdua, yuk!" ajak Balqis sembari melirik kearah Aminah dan Raditya yang masih dalam masa hukuman.
Sengaja Balqis lakukan karena hari ini Syakir akan berangkat kelar kota, Balqis tidak ingin mood suaminya menjadi buruk karena masalah Aminah. Setelah setengah jam, Syakir memanggil Aminah dan Raditya masuk. Ia ingin mengintrogasi mereka berdua. Dengan pelan dan jelas, Raditya mengungkapkan niatnya untuk serius dengan Aminah. Ia juga mengatakan kesanggupannya untuk menunggu Aminah pulang dari Korea mengenyam pendidikannya.
"Hah? Siapa yang mau ke Korea? Aminah?" pertanyaan itu bisa diucapkan oleh Syakir dan Balqis secara bersamaan.
Syakir dan Balqis tak tahu menahu soal Aminah yang hendak ke Korea. Setahu mereka, Aminah akan berangkat ke Singapura dan bertukar tempat dengan Sarah. Seketika, tga pasang mata menatap Aminah yang saat itu sibuk dengan pisang gorengnya.
"We?" tanya Aminah dengan wajah tanpa dosa.
"Kamu kamu ke Korea?" tanya Syakir.
__ADS_1
"Iya, Bi. Aku akan berangkat bareng Yusuf. Kami juga sudah mengambil kelas bahasa di sana. Ini formulirnya, aku mendapatkan formulir ini dari Yumna," ucap Aminah menyerahkan formulir yang sudah ditanda tanganinya.
"Kamu yakin mau ke Korea? Jauh banget, bisa ke Singapura saja nggak yang deket gitu?" usul Raditya.
"Nggak, aku sudah memutuskan. Katanya Bang Dit mau dukung aku…." ucap Aminah manja.
"Sayang, tapi kamu di sana akan tinggal dengan siapa?" sahut Balqis. Terlihat Syakir dan Raditya mengangguk penasaran juga.
Aminah akan tinggal besama Yusuf di apartemen sebelah Kabir. Ia juga siap untuk mencari pekerjaan paruh waktu untuk menghemat pengeluarannya di sana. Sebenarnya Balqis merasa kecewa karena Aminah tak jadi bertukar tempat dengan Sarah. Balqis juga ingin bisa bersama anak kandungnya di rumah itu.
Berkat Yusuf, Balqis tak lagi akan merasa sedih karena setelah Aminah pergi, Sarah akan ke Jogja untuk tinggal bersama Syakir dan Balqis. Yusuf berhasil meyakinkan Arifin dan Intan selaku nenek dan kakek Sarah, orang tua Balqis, untuk kembali tinggal di Jogja dan meninggalkan semuanya yang di Singapura.
"Benarkah? Nenek dan Kakekmu setuju?" tanya Balqis tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" sahut Syakir juga tidak percaya.
"Semua ini berkat Bang Dit dan Yusuf. TApi, lebih besar Yusuf usahanya. bang Dit cuma nemenin saja ke sana," jawab Aminah.
"Semula kami juga ragu untuk meyakinkan mereka, Abi. Tapi, dengan mulut masin Yusuf, entah bagaimana mereka menyetujui dengan mudah begitu saja. Mereka juga sudah mendapatkan rumah baru di sekitar pesantren sini. Jadi, meski berat Aminah pergi ke Korea.. tolong izinkan dia, Abi, Mama…." Raditya juga ternyata sudah tahu niat Aminah pergi ke Korea dari Yusuf. Itu mengapa ia mengikat Aminah lebih dulu sebelum ia pergi.
Begitu juga, Aminah ingin Syakir membujuk Airy untuk mengizinkan Yusuf berangkat bersamanya. Mungkin, Syakir akan minta bantuan dengan Raihan jika bersangkutan dengan Airy. Apalagi untuk merayu pendirian Airy itu sangat susah bagi seluruh keluarga.
Bukan hal mudah juga bagi Raditya di terima oleh keluarga Aminah. Syakir masih saja mempertanyakan tentang bagaimana Ibunya, soal hubungan mereka. Syakir enggan melepas Aminah untuk Raditya jika ibunya masih bersikap sama seperti sebelumnya.
"Itu akan menjadi urusan saya, Abi. Masih ada waktu untuk merubah keputusan Ibu saya," ucap Raditya mantap.
"Kamu yakin? Maksudnya, kami hanya tidak mau, Aminah…." Balqis pun mengkhawatirkan tentan itu.
"Sebelumnya, saya mohon maaf dengan sikap dan perlakuan Ibu saya, Abi, Mama. Saya juga tidak menyangka saja kalau ternyata Ibu dan Kakak saya memiliki rencana jahat dengan mengatasnamakan perjodohan itu," sesal Raditya.
"Tapi yang Abi ingin tahu, apakah niatmu ini benar-benar sudah yakin dengan Aminah kedepannya? Abi hanya tidak ingin kalian terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan," Syakir mulai menanting Raditya.
__ADS_1
"Bismillah, niat yang baik pasti diridhoi oleh Allah, Abi, Ma. Ini bukan hanya masalah satu dua bulan saja, tapi perasaan ini sudah saya tahan sejak satu tahun terakhir ini. Saya hanya tidak ingin perasaan ini malah menjadi dosa, jadi saya akan mengutarakan niat saya untuk melamar Aminah," Raditya terlihat sangat gagah saat mengatakan hal itu.
Balqis dan Aminah saja sampai tertegun. Raditya bukan main-main, ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Beberapa waktu lalu, mereka mengalami perselisihan dan salah paham dengan hadirnya Nadia di kehidupan Raditya lagi. Meski sempat renggang, tapi Raditya tidak menyerah begitu saja. Banyak penolakan dari Aminah saat itu, namun Raditya sama sekali tidak gentar. Ia terus membuktikan dengan melamar langsung Aminah di depan kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah, Abi begitu kagum dengan jawabanmu ini, Radit. Tapi, apakah nantinya kamu tidak akan menyesal menikah dengan Aminah?" goda Syakir. "lihatlah dia, anak begitu mau kamu jadikan istri?" imbuhnya.
"Abi!"
"Dan lagi, dia harus banyak belajar lagi tentang rumah tangga. Cuci baju saja masih belum bersih, bedain kunyit dan bengle saja masih nggak bisa. Kamu kudu sabar nunggu dia, Raditya…." timpal Balqis.
"Mama!"
"InsyaAllah, semua itu tidak akan menjadi masalah bagi saya, Abi, Ma. Semua bisa dibelajari, kok. Yang penting Aminah juga mau menerima saya apa adanya," jawaban Raditya membuat Aminah semakin meleleh. Jarang sekali ada lelaki yang sekeren Raditya.
Ia berani mengungkapkan keburukan Aminah dengan orang tuanya. Ingin menyukai saja, dulu juga izin kepada Syakir, dan sekarang saja tanpa dampingan kedua orang tuanya atau walinya, Raditya mampu memenangkan hati Syakir dan Balqis dengan mudah.
Sementara itu, Yusuf masih sibuk mengurus surat pembelian secara online bersama Jamil. Tekad Yusuf sudah ulat, restu dari Airy memang sangat ia butuhkan. Tapi, hadiah dari orang tuanya jauh lebih penting baginya. Selesai di ruang komputer, Yusuf keluar menabrak Cindy yang membawa buku sangat banyak dari perpustakaan.
"Aduh!"
"Innalillah, kamu nggak papa?" tanya Yusuf.
"Aku nggak papa, kok.Kamu sendiri ba… apa ini? Nota pembelian apartemen? Kenapa ada huruf Korea juga di situ? Apa itu?" Cindy penasaran.
Kecuali keluarga, teman-teman Yusuf juga belum mengetahui dengan rencananya kuliah di Korea, termasuk Cindy. Yusuf beralasan, itu hanyalah tugas dari guru bahasa Indonesia saja. Ia juga langsung pergi meninggalkan Cindy.
Di kelas, di kantin, bahkan sampai pulang sekolah Yusuf terlihat begitu lesuh tidak semangat, Ia masih teribayang dengan wajah penolakan Airy tentang keberangkatannya ke Korea. Sejak pagi, Yusuf sudah merancang cara untuk mendapatkan izin dari Kakaknya itu.
"Aku harus bagaimana, ya? Semua formulir sudah aku isi. Sayang sekali kalau aku tidak berangkat," gumamnya. "Bagaimana kalau aku minta tolong sama Mas Adam saja. Kenapa aku nggak kepikiran sejak kemarin, sih?" imbuhnya.
Siang itu juga Yusuf langsung menghubungi Adam sebelum pulang sekolah. Ia masih ada beberapa urusan untuk pergi ke catatan sipil mengurus dokumen penting. Lebih tepatnya bertemu dengan sahabat Aisyah yang akan membantunya dalam mengurus semua data miliknya. Next bab, ada pertemuan sebentar Yusuf dengan gadis kecil itu.
__ADS_1