Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 185


__ADS_3

2 bulan berlalu, kondisi Adam semakin hari semakin membaik. Bahkan, ingatannya pun banyak yang kembali. Tetapi, ingatan ilmu belajarnya saja yang baru kembali, ingatan siapa dirinya, bahkan siapa Airy masih belum bisa ia ingat.


Sementara itu, setiap seminggu sekali, Airy mendatangi pantai di mana Adam tenggelam, lalu hilang. Hingga senja, ia hanya duduk di batu besar itu. Berharap, Adam akan datang dan memanggilnya 'istri istimewaku'.


"Tuan Putri," panggil seseorang, memecahkan lamunannya. Airy menoleh, mungkin memang bukan suaminya yang kembali. Namun, seorang yang juga sangat berharga dalam hidupnya.


"Bang Rai?"


Air matanya tak kuas ia tahan. Airy berlari, memeluk Raihan dengan erat. Ia tumpahkan segala emosi, air mata dan kesedihannya di pelukan, sang Kakak. Tahan terus mengusap kepala Airy dengan lembut, tanpa mengucap sepatah katapun, itu sudah menjadi bentuk rasa empatinya untuk sang adik.


"Mas Adam," lirih Airy.

__ADS_1


"Istighfar, sebut asma Allah, bersholawat untuk baginda rosul, selipkan nama Ustad Adam di setiap doamu. Doakan dia, agar dia bisa pulang dengan sehat wal'afiat. Abang yakin, Abi Rafa pasti baik-baik saja." tutur Raihan.


Di depan Rifky, Papanya. Airy masih bisa menahan air matanya, bahkan dia juga masih sempat tersenyum. Tetapi tidak dengan Abangnya. Jangankan tersenyum, ia pun tak lagi bisa menahan air matanya. Sesak itu tak bisa di sembunyikan, semua ia curahkan kepada separuh jiwanya itu.


"Kita pulang, yuk. Rafa sudah menunggu." Ajak Raihan.


Airy pun menurut. Sampai di rumah, Rafa dan Zahra tengah menunggunya bersama dengan Hafiz. Karena, malam ini hanya ingin bersama Rafa dan Raihan, Airy meminta Hafiz untuk membawa Zahra kepada Ustadzah Ifa terlebih dahulu.


"Tapi, Ry. Menurut hukum, Zahra juga anakmu, 'kan? Jangan pilih kasih, ya. Dosa." ujar Raihan.


Hafiz mengiyakan apa yang Airy inginkan. Ia membawa Zahra ke rumah, dan membiarkan Airy bersama dengan anak dan Kakaknya. Raihan memberi beberapa saran agar Airy bisa bangkit lagi. Karena selama dua bulan ini, bukan hanya perusahan dan kuliahnya yang berantakan. Bahkan anak-anaknya saja tidak keurus olehnya.

__ADS_1


"Gimana kalau kita ke Jakarta. Kita urus usaha bersama, kita urus Rafa dan Zahra bersama juga di sana. Bagaiamana?" usul Raihan.


"Tapi bagaimana jika Mas Adam nanti kembali, Bang. Aku nggak mau pergi dari sini!" seru Airy.


"Kita tetap memantau pencarian, suamimu. Tapi kamu juga harus maju, Airy. Ingat masa depan anak-anak juga, dong. Airy, kamu nggak sendiri, masih ada Abang, Papa, Yusuf dan keluarga lain yang bersamamu,"


"Abang yakin, jika Ustadz Adam itu baik-baik saja. Kita perlu berdoa, dan jangan pernah putus asa mencarinya, tapi bukan berarti kita jalan di tempat seperti ini." Raihan masih terus menguatkan hati Airy.


"Kita akan berangkat ke Jakarta besok juga. Abang nggak mau tau, malam ini harus bersiap!" Tegasnya.


"Nggak bisa gitu dong, Bang. Bagaimana kalau Maaf Adam pulang, aku dan anak-anak nggak di rumah. Aku jadi istri durhaka, dong." tolak Airy.

__ADS_1


"Besok kita berangkat! Malam ini, kamu tidur lebih awal, biar Abang yang beresin semuanya. Termasuk kebutuhan, Rafa!" tungkas Raihan.


Mungkin terkesan pemaksaan, bagi Airy yang baru saja kehilangan separuh hati dan separuh hidupnya. Tapi, yang Raihan lakukan bukanlah tanpa alasan. Ia mendapat kabar, bahwa Adam berada di Ibukota, tapi belum tau di mana nya. Mengingat kelabilan yang di miliki Airy saat ini, ia sengaja tidak mengatakan kebenaran itu kepadanya. Karena Raihan menginginkan semangat hidup adiknya kembali lagi seperti sebelumnya.


__ADS_2