
"Bukannya kamu sedang masa iddah, Mbak? Memangnya boleh keluar rumah?" tanya Laila ketika mereka sudah bertemu.
"Di antaranya tidak boleh menerima pinangan, tidak boleh berhias, tidak menikah, dan tidak keluar rumah kecuali untuk urusan penting. Itu setahuku, tapi pagi ini ini tidak ada yang bisa mengantarkan anakku, jadi ya harus aku yang mengantar," jawab Syifa.
"Memangnya berapa lama masa iddah itu?" tanya Laila.
"Setahuku, empat bulan sepuluh hari," lenguh Syifa.
"Bisakah, kamu mengembalikan suamiku?" tanya Laila tiba-tiba.
"Hah? Kapan aku mengambilnya darimu? Bertemu saja hanya dua kali ketika aku di rumah sakit dan di pemakaman Mas Hadi, itupun denganmu," jawab Syifa terkejut.
Syifa malah tidak tahu kalau mertua dan orang tuanya datang ke rumah Raihan untuk menanyakan wasiat Hadi. Syifa sendiri belum kepikiran untuk kembali berumah tangga setelah kepergian suaminya. Ia merasa kecewa kepada keluarga yang terus mendesak Raihan. Bukan hanya kecewa, ia juga malu kepada Raihan dan Laila.
"Aku benar-benar tidak tahu, dek. Tapi, demi Allah aku nggak ada niatan untuk menjadi madu-mu. Aku juga tidak bisa lupa begitu saja kepada suamiku. Memalukan sekali," lirih Syifa.
"Jika anak Mbak masih manggil suamiku dengan sebutan Abi, aku tidak masalah, Mbak. Tapi, aku sungguh tak bisa berbagi suami dengan wanita manapun. Apalagi, aku dan Bang Raihan akan memiliki bayi, aku tidak mau dia lahir dalam konspirasi ini," ucap Laila.
"Maafkan aku, aku akan bicara dengan keluargaku. Suamimu hanya milikmu, aku tidak berhak merebut kasih darimu. Aku akan meminta keluargaku untuk berhenti mengganggu keluargamu," Syifa mengucapkan dengan lemah lembut dan menggenggam tangan Laila.
Pembahasan sudah Laila anggap selesai. Jika Syifa memang tidak menginginkan pernikahan itu terjadi, berati Laila bisa tenang dan tidak bingung lagi dengan perasaannya. Ia pun mengantar Syifa pulang, karena tidak mungkin membiarkannya pulang sendirian.
"Kamu, punya SIM?" tanya Syifa.
"Punya, setelah gagal 15 kali, baru dapat SIM cantik ini. Ayo, aku antar kamu pulang," jawab Laila dengan cengengesan.
"Hah?"
Sesampainya di rumah Syifa, Laila sengaja turun karena takut tetangganya akan salah paham. Karena waktu itu, ada tetangga yang sedang nongkrong di sebrang jalan rumah Syifa sedang mencari kutu dan momong anak.
"Kamu kenapa turun?" tanya Syifa.
__ADS_1
"Hey, cctv-mu aktif. Mau di su'udzoni? Aku hanya akan muncul keluar saja dan melihatmu masuk pagar, biar mereka melihat Mbak Syifa pergi dengan sesama perempuan," jawab Laila.
"Haha, baiklah. Tapi, mau bagaimanapun ulah kita. Kalau orang tidak pernah menyukai kita, ya tetap saja yang dilakukan kita ini sala di mata mereka," jelas Syifa.
Laila pulang dengan senyum lebar, ia bersyukur jika Syifa sendiri menolak wasiat itu. syifa juga sudah menjelaskan, jika wasiat itu akan dilakukan jika Syifa menyetujuinya, dan Raihan mampu untuk menjadikan Syifa istri ke-2 nya.
Sampai di rumah, Syifa membahas wasiat Hadi kepada keluarga besarnya. Ternyata, Syifa ini adalah anak angkat dari orang tuanya, mereka tidak ingin terbebani akan Syifa dan putranya setelah Hadi pergi untuk selama-lamanya.
-_-_-_-
Di sisi lain, Airy hendak ke makam Aisyah dan Rifky dengan di temani Adam bersamanya. Mereka memang tiga kali dalam seminggu pasti mengunjungi makam orang tuanya. Itu mengapa makam Aisyah dan leluhurnya tidak pernah kotor maupun tumbuh rumput liar.
"Aku kangen dengan Ami. Ami pasti dendam bukan sama aku?" gerutu Airy di pusaran Aisyah.
"Mohon maaf, Nona. Maksud anda, bagaimana?" tanya Adam menyentil bahu istrinya.
"Ami pernah bilang sama aku. Kalau dia akan menyumpahi aku punya anak kembar. Waktu itu aku ngeluh pas di suruh Ami momong Yusuf dan Aminah. Mereka berdua kan seperti kembar, selisih cuma beberapa hari doang," jelas Airy.
"Ini di makam, Sayang. Setidaknya jangan mengumpat. Ayo segera bereskan!" tegur Adam mengetuk kening Airy. "Sebaiknya, kita bergegas pulang. Hari ini Mas mau ke perkebunan." bisik Adam.
Sebelum ke perkebunan, mereka pulang terlebih dahulu dan mandi. Terlihat Yusuf kembali lagi ke rumah, ia tidak jadi ke sekolah karena ada beberapa hal yang harus ia urus untuk persiapan pindah sekolah semester awal nanti.
"Kamu yakin mau pindah sekolah? Bukannya kamu suka dengan sekolah yang itu, ya? Kan sekolahan yang kamu mau yang nggak menjadi satu dengan lawan jenis, gimana, sih?" tanya Airy.
"Jika masuk ke rumah, usahakan ucapkan salam bisa nggak sih, Kak?" tegur Yusuf.
"Assallamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"
"Aku pindah sekolah agar irit biaya transportnya saja. Lumayan kan buat kuliah nanti," jelas Yusuf.
__ADS_1
"Ada rencana kemana, kuliahnya?" tanya Adam.
"Papa sebelumnya memberiku ini, peluang menjadi pengacara dan sekolah di Korea. Bagiamana? Bagus, 'kan?" Yusuf memberikan dokumen peninggalan Rifky untuknya.
Di dalam berkas-berkas itu, terdapat cek dengan jumlah yang tidak kecil dan sertifikat rumah yang mungkin akan di huni nanti untuk Yusuf ketika kuliah di Korea. Airy tidak menyangka jika semua sudah dipikirkan jauh-jauh hari sebelumnya.
"Entah kenapa, kakak kok merasa kecewa ya kalau kamu mau ke Korea?" tanya Airy.
"Masih lama kok, Kak. Ini juga kan baru rencana. Lagian, aku juga nggak tertarik untuk menjadi pengacara," ucap Yusuf kembali ke kamarnya.
Terlihat kekecewaan di wajah Airy mendengar adiknya hendak kuliah di luar negri. Ia merasa, jika Yusuf udah seperti anaknya, sejak kecil hingga sekarang Airy lah yang ada di sampingnya. Ia merasa sedih jika harus jauh dengan Yusuf.
.................
Pulang sekolah, Aminah dan Mayshita melihat Raditya sudah ada di depan gerbang sekolahan. Rupanya, Mayshita belum tahu jika ada sesuatu di antara Aminah dan Raditya.
"Itu, bukannya sahabat Bang Rai, ya? Ngapain dia kesini?" tanya Mayshita.
"Kami ada janji, kamu pulang dulu saja nggak papa, kok." jawab Aminah.
"Ha? Sejak kapan kalian jadi akrab?" tanya Mayshita.
"Pulanglah, akan aku ceritakan nanti di pesantren. Tolong bilang kepada Mama dan Abi, kalau aku pulang lambat," pinta Aminah.
Mayshita bukan tipe orang yang rasa ingin tahunya besar tentang masalah orang lain. Ia pun pulang lebih dulu, lalu Aminah menghampiri Raditya yang saat itu berdiri di samping mobil pic up miliknya.
"Assalamu'alaikum," salam Aminah.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masuklah!" jawab Raditya.
"Kenapa kamu bawa mobil, Bang Dit?" tanya Aminah.
__ADS_1
"Baru aja kirim limbah ke pabrik tahu. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman," Raditya segera menyalakan mobilnya.
Mereka pun berangkat, mencari tempat untuk membicarakan perjodohan itu. Karena Aminah sudah tempat yang tenang dan nyaman, Raditya membawanya ke sebuah pedesaan, di mana usaha pabrik kayunya akan didirikan. Selama itu, mereka hanya diam. Karena hanya ada rasa canggung dan tak enak hati di suasana itu.