Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 202


__ADS_3

Di luar kota, Raihan sedang melakukan perjalanan bisnis dengan rekannya. Ia bertemu dengan seorang gadis yang saat itu, tengah keluar dari sebuah rumah yang sangat besar. Pertemuan itu, di adalah dengan mereka yang saling bertabrakan.


"Aw, kalau lihat pakai mata, dong." sengol gadis itu.


"Em, bukankah jalan itu pakai kaki, ya?" goda Raihan.


"Hahaha ngelawak, lu? Kagak lucu! Dah sana, majikan gue udah ngomel, permisi!" ucap gadis itu dengan lantang.


"Laila, kamu mau kemana? Laila jangan pergi!" di susul dengan seorang gadis santun, berhijab dan memakai gamis berwarna kuning cerah yang sangat cantik.


Gadis itu menatap, Raihan. Melihat baju kotor Raihan, gadis itu sudah nembak, pasti adiknya yang membuat baju Raihan kotor.


"Maaf, apakah baju kotor anda di kotori oleh Laila? Kalau iya, silahkan masuk biar saya yang bersihkan." ucap gadis itu.


"Nggak, gak usah kok. Lagian, saya juga sedang menunggu seseorang di sini, takutnya malah kami nggak ketemu. Terima kasih sebelumnya." ucap Raihan, dengan ramah.


"Beneran ini? Saya mohon maaf ya, mewakili adik saya. Kalau begitu saya permisi dulu, Assalamu'alaikum." pamit gadis yang mengaku sebagai kakaknya, Laila.

__ADS_1


Di lain tempat, gadis yang bernama Laila itu masih saja menggerutu, hingga menabrak Raditya, yang kebetulan akan bertemu dengan Raihan.


"Aw," jerit mereka bersamaan.


"Nabrak lagi, nabrak lagi. Hobi banget gue nabrak orang. Lagian lu, ya. Jalan tuh pakai mata, minggir!" seru Laila, mendorong tubuh Raditya.


"Dia yang nabrak, dia yang marah juga. Astaghfirullah," ucap Raditya.


"Assalamu'alaikum," salam Raditya saat bertemu dengan, Raihan.


"wa'alaikumussalam. Lama banget, sih. Udah nungguin nih di sini, sekitar...," Raihan menatap jamnya.


"Ya Maaf, tadi aku di transit, Han. Yuk ah, udah capek banget nih, lagian ngapain kamu jadi tinggal di Jakarta, sih?" tanya Raditya.


"Nemenin Airy, doang. Nanti, kalau semua udah baik-baik saja, aku akan balik lagi ke Jerman, tenang saja." jawab Raihan, santai.


Mereka pun masuk ke mobil dan pulang menuju rumah yang berada di Jakarta. Tidak ada alasan lain, jika Raihan ingin kembali lagi ke Jerman suatu saat nanti. Karena memang perusahan itu, milik Airy, bukan miliknya. Lagi pula, di sana juga dirinya mempunyai amanah dari Michael, sanga ayah angkatnya. Tidak mungkin, dia tinggalkan begitu saja.

__ADS_1


Di rumah sakit, Airy terus menghabiskan waktu bersama sangat suami, hingga ia lupa harus kembali lagi ke kantor.


"Sayang, bukankah? Hari ini kamu masih harus kembali ke kantor, ya?" tanya Adam.


Mendengar kata 'sayang', jantung Airy seakan berdetak sangat kencang. Ini lain pertama, ketika Adam memanggilnya 'sayang' di kondisi Adam yang masih amnesia.


"Kamu bilang apa? Sayang? Katakan sekali lagi, aku ingin dengar itu," pinta Airy karena terharu.


"Aku reflek. Bahkan sekarang saja, aku sudah menggunakan bahasa non normal denganmu, apakah aku akan di pecat?" lawak Adam.


"Aku bahagia saat kau panggil aku sayang. Bisakah ucapkan kata itu setiap waktu, Mas Adam?" kata Airy.


"InsyaAllah, ya. Aku akan berusaha, oh ya waktu di Kairo, aku memberikanmu tasbih kecil, 'kan? Apakah pernah aku berikan padamu?" tanya Adam.


Airy mengangguk, memang tasbih kecil itu sudah ia terima dan ia rawat.


"Mas Adam, ingat saat di Kairo?" tanya Airy.

__ADS_1


"Perlahan tapi pasti! Aku..., "


Obrolan itu terpotong karena ponsel Airy berdering. Ia harus segera kembali ke kantor lagi, karena memang masih jam kerjanya. Tidak ingin mengganggu pekerjaan istrinya, Adam pun meminta Airy untuk segera kembali. Sebelum itu, saat Airy pamit dan mencium tangan Adam, ia mengecup kening Airy yang saat itu tepat di depan bibirnya. Tidak terasa, air mata Airy terjatuh. Dengan senyuman, Adam mengantar istrinya sampai ke depan pintu.


__ADS_2