
Hari itu, Raihan pulang ke rumah. Niat ingin meminta izin untuk melakukan pertukaran pelajar di Jerman. Kebetulan, saat perjalan pulang, ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Ia sempat berhenti di toko untuk membeli beberapa kebutuhan.
"Assalamu'alaikum, kamu Raihan kan?" sapa gadis itu.
"Wa'alaikumsalam, iya. Maaf? Kamu ... ?"
"Woy, nggak ingat sama kita? Kita temen masa SD, kita pernah makan di kantin nggak bayar dulu. Masih ingat kan? Aku Cilo, anak paling ganteng di kelas 6 dulu." Sahut lelaki yang mengaku bernama Cilo.
"Ucil? Nama panggilan mu, dulu ucil kan? Yang sering kena hukuman?" tanya Raihan.
"Hahaha, benar kan Cil, yang orang ingat emang kerusuhan mu saja. Kan kamu nggak ada prestasi, hahaha." Tawa gadis itu.
__ADS_1
"Dan kamu? Mita bukan? Temen perempuan yang paling cerdas di kelas, aku ingat sekarang. Apa kabar kalian berdua?" akhirnya Raihan mengenali dua temannya.
"Puji Tuhan, dua minggu lagi kita mau ke Jerman Han. Kamu sendiri gimana?" jawab Cilo.
"Iya, Alhamdulillah kita bisa berangkat ke Jerman. Ahh senengnya," sahut Mita.
"Wah, bakal jadi sahabat nih kita. InsyaAllah aku juga akan ke sana, kalau Papaku memberi izin."
"Wah seru nih. Kita tukeran kontak yaa, simpen nomorku, kasih nama ya. Cilo cah bagos hahaha." Tawa Cilo membuat Raihan ikut tertawa.
Rifky bukan orang tuanya yang egois. Meskipun dalam hatinya berat ditinggal Raihan ke Jerman, tetapi itu semua demi masa depannya. Izin telah Raihan geram, ia habiskan waktu lima hari di Jogja, kemudian langsung berangkat ke Jerman. Tinggallah Diaz di Kairo sendiri, karena ia tidak mungkin ikut berangkat ke Jerman. Cita-citanya sama seperti Farhan Abi nya, yang akan belajar di Kairo.
__ADS_1
3 bulan berlalu, hari demi nyari Airy habiskan waktu bersama Adam di perkebunan dan kolam lele. Bahkan, mereka juga sudah siap membuka cabang restoran milik Rifky di kotanya. Selama tiga bulan itu, belum ada pergerakan apapun dari Sari. Airy dan Hafiz pun saling menjaga jarak masing-masing, meskipun tak menjauh, karena mereka memang tinggal dalam lingkungan yang sama. Akan tetapi, sebagaimana mungkin, mereka berdua tak lagi menunjukkan sisi keakraban yang mereka miliki.
"Kamu kenapa, kok cemberut gitu sih?" tanya Adam memeluk Airy dari belakang.
"Baju aku, pada mengecil. Nggak muat di perut Mas, ku menangis ... " ucap Airy manja.
"Nanti beli baru ya, kita beli daster juga buat kamu." Tutur Adam.
"Em, sepertinya nggak usah deh Mas. Mubadzir duitye, mending aku minta Papa buat kirim beberapa baju Ami saja. Ide bagus kan? Sekalian berasa kek meluk Ami," ucap Airy sambil mengetik pesan kepada Papanya.
"Kamu kenapa sih? Kok Mas merasa, kamu ini nggak mau pakai uang Mas, kan itu bentuk dari nafkah lahir," ucap Adam.
__ADS_1
"Mas, aku terima semua nafkah darimu. Tapi untuk saat ini, lebih baik kita nikmati yang ada dulu. Keuangan Mas juga sudah mulai stabil kan? Dan soal daster, Ami itu punya buanyak banget daster, jika di depan mata aja ada, kenapa harus beli yang baru. Mayan kan uangnya bisa buat yang lain?" Jelas Airy.
Kemesraan itu terganggu dengan bunyi dering ponsel Airy. Semenjak di Jerman, ini baru pertama kali Raihan menelfon nya.