Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 64


__ADS_3

Berjalan menyusul Adam yang sejak tadi terdiam, Airy berusaha menggandeng tangan Adam yang berjalan tertatih itu yang masih sakit. Airy berjalan di samping Adam, tersenyum dan berusaha membuat hati Adam tetap tabah. Bahkan, sampai dirumah pun ia hanya duduk di sofa, Airy segera membawakan teh hangat untuk Adam.


"Maaf, harusnya aku tadi nggak buat masalah seperti itu, aku lepas kendali, maafkan aku Ustad, aku....." Sebelum menyelesaikan kata-katanya, Adam menggenggam tangannya dan mulai berbicara tentang Bela.


"Bela itu adikku satu-satunya, walaupun dia adik sepupuku, tapi kami masih satu air susu. Dia memiliki riwayat asma, saat meninggalnya Bela, aku sedang berada di luar negri. Semua orang bilang, bahwa Bela meninggal karena kelelahan, dan mereka juga tidak mengatakan apa penyebab kelelahannya." Ucap Adam.


"Bahkan, sampai sekarang aku tidak tau jika yang melakukan itu adalah Sari, Sa..... Astaghfirullah hal'adzim," Adam tidak sanggup untuk menyebut kejahatan Sari itu.


Bukan hanya karena Bela, tetapi Adam jauh lebih sakit karena Sari ingin mencelakai Airy, orang yang paling berharga saat ini dalah hidupnya. Melihat air mata Adam yang menetes di pipinya, Airy segera mengelapnya, ia juga memeluk Adam.


"Stt Kok nangis sih? Kan sekarang udah tau kebenarannya, jangan sedih lagi yaa," Kata Airy mengusap air mata Adam.


"Aku sedih bukan hanya karena mengetahui kenyataan meninggalnya Bela, tapi aku sedih, saat tau, teman yang aku anggap orang baik, teman kecilku, tega berencana mencelakai istriku, orang yang paling berharga untukku." Ucap Adam.

__ADS_1


Ini kali pertama ada seorang laki-laki kecuali keluarga menyebut Airy adalah orang paling berharga, tidak terasa air matanya pun menetes, Airy bahagia mendengar itu.


"Stt kita sama-sama berharga dalam hubungan ini, aku jadi ikut nangis kan? Aku jelek kalau nangis, mana ingusku meler lagi," ambyar dah ahh.


"Ih joroknya, kamu nggak tau situasi sedih sih. Ya Allah ya zawjati." Kata Adam menepuk-nepuk pipi Airy.


Kruk... ,krukkk...


Suara perut Airy memecah keseriusan malam itu, karena mereka sudah mengetahui kebenarannya, mereka akan meberikan tanggung jawab itu kepihak yang berwajib. Malam itu, Ustad Zainal langsung memanggil orangtua Sari, Zahra dan Soni.


Sementara itu, Clara, selaku pengacara penuntut dari korban (Adam) yang tertulis penuntut oleh Kakak Ipar korban yakni Raihan, ia akan datang esok hari beserta bukti-bukti yang sudah Raihan, Raditya dan Rindi berikan kepasanya.


Malam itu, Airy dan Adam menimati makan malam berdua, mereka juga bersenda gurau layaknya pengangin baru. Melihat kisah mereka seperti melihat Kabir dan Zara di drama India.

__ADS_1


"Laillahaillahah muhadarrosullullah, Airy, kamu habis makan segitu?" Tanya Adam.


"Aku lapar, setelah marah-marah tadi jadi lapar Ustad, memang nggak boleh makan segini ya?" Airy manja sekali dengan Adam.


"Kamu harusnya yang lebih tau tentang itu, makanlah! Malam ini setor surah ya, jangan lupa selesai makan berdoa juga." Ucap Adam mengingatkan Airy.


"Udah nikah pun harus masih setor surah kah?" Tanya Airy sambil makan.


"Mulut penuh jangan bicara, habiskan dulu makanannya!" Kata Adam tegas.


"Ishh, serasa udah seperti Ami dan Yusuf deh. Mereka bedua paling heboh jika ada yang bicara saat makan. Jadi kangen sama mereka," kata Airy sambil memakan makanannya dengan lahap.


"Alhamdulillahilladzi ath'amanaa wa saqonaa wa ja'alnaa muslimiin" doa setelah makan.

__ADS_1


Setelah beberes dapur, mencuci piring dan lainnya, Airy segera berganti baju dan merebahkan tubuhnya ke kamar, hingga lupa jika harus setor surah terlebih dahulu sebelum tidur.


__ADS_2