Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 334


__ADS_3

"Nak, siapa lelaki yang kau cintai itu?" tanya Balqis.


"Um, kenapa Abi hanya diam? Kalau mau marah ya marah saja! Aku akan mendengarkannya. Aku akui kalau aku memang bersalah, hukum aku pun aku terima. Aku tak mengapa wahai yang mulia raja," ucap Aminah malah ngelawak.


Masih saja Syakir memandangi Aminah dengan penuh tidak kepercayaan.


"Kamu, jatuh cinta?" tanya Syakir.


Aminah mengangguk sembari makan krupuk.


"Sama siapa?" tanya Syakir lagi.


"Bang Radit. Kenapa?"


"Hah? Raditya?" sebut Syakir dan Balqis tidak percaya.


Aminah menceritakan semua yang terjadi padanya. Tapi, Syakir menganggap hal itu tidak serius, ia malah terus menggoda Aminah hingga kesal. Sementara Balqis, ia malah bangga jika anaknya sudah merasakan jatuh cinta. Memang respon sangat berbeda ketika orang tua melihat anaknya jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Jika anak perempuan, si Ayah yang akan bingung menyikapinya bagaimana, malah yang ada akan marah besar ketika putrinya di cintai lelaki lain. Sebaliknya juga seperti itu, sang Ibu akan jauh lebih bahagia ketika anaknya ada yang mencintainya.


Lalu, ada kalanya jika memiliki anak laki-laki. Jika anak laki-laki mencintai lawan jenisnya, sangat ayah pasti akan merasa bangga. Sebaliknya, sang ibu malah akan merasa kecewa, karena takut anak lelakinya akan melupakan ibunya.


"Abi, aku harus bagaimana ini? Udah dua hari ini aku tak tenang," rengek Aminah.


"Katamu, Raditya akan datang, bukan? Kita tunggu saja, bukti keseriusannya sampai mana, oke? Tuan putri Abi jangan gelisah begini, dong. Ayo, dimakan lagi," ucap Syakir dengan sabar.


Sementara itu, di rumah Raditya.. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya yang berusia 4 tahun lebih tua darinya. Kakaknya ini bernama Rasid, lulusan sekolah luar negri juga. Raditya terlahir dari keluarga yang cukup mampu, makanya ia juga ada dukungan dari keluarganya ketika kuliah di Jerman. Tidak seperti Diaz yang Abinya orang mampu malah tidak mendukung Diaz kuliah di Jerman. Meminta Diaz tetap kuliah di Kairo agar bisa menjadi seperti Ruchan.

__ADS_1


"Bi, aku nggak sadar kalau Aminah itu sudah besar. Dia sudah jatuh cinta, bagaimana cara memberitahu dia kalau almarhumah Umi-nya memiliki pilihannya buat dia?" tanya Balqis.


"Tapi, aku tidak ingin membuat anakku dirundung kegalauan dengan perjodohan. Udah zaman modern kali, tapi gimana cara menolak keluarga mereka?" sambungnya.


"Kita lakukan saja pertemuannya dulu. Jadi atau tidaknya perjodohan, bisa di tentukan oleh Aminah dan lelaki pilihan almarhumah Umi-nya. Bagaimana?" usul Syakir.


"Kapan? Masa iya dalam waktu dekat ini, sih?" tanya Balqis.


"Kita atur saja nanti. Yang penting mereka bisa bertemu dulu.


_-_-_-_


2 bulan berlalu, kini usia kehamilan Airy sudah memasuki terimester ke-2. Adam semakin memanjakan dirinya kapanpun dan di manapun mereka berada. Meski sudah ada Rafa di kehidupan mereka. Karena Airy mengandung bayi kembar, terlihat perutnya sangat besar.


Sementara itu, kandungan Laila juga sudah memasuki bulan ke 4. Karena tubuh Laila kecil, maka perutnya juga terlihat jelas bawa dirinya sedang hamil. Masalah tentang janda sahabat Raihan juga belum selesai. Pasalnya, anak dari Hadi juha memanggil Raihan dengan panggilan Abi.


Siang itu, terjadilah percekcokan kecil antara Raihan dan Laila. Karena keluarga Hadi dan Syafa (istri Hadi) bertamu ke rumahnya untuk menanyakan tentang bagaimana selanjutnya dengan wasiat yang sudah Hadi berikan.


"Begini, tapi keponakan saya ini belum siap jika menikah lagi, berpoligami itu... ahh bagaimana mau ngomongnya, ya?" ucap Syakir.


"Saya nggak bisa, Pak, Buk. Maaf, saya *** dah ada istri yang sedang mengandung sekarang, saya gak bisa menikahi Mbak Syafa, saya belum mampu," jelas Raihan.


Laila di dalam kamar sedang tegang, dengan di temani Airy, sesekali air matanya menetes. Bagaimana tidak, suaminya di kamar oleh kedua keluarga untuk di bukankan dengan Syafa, janda dari sahabatnya Raihan.


"Ry, gimana? Aku gak bisa berbagi suami," desis Laila.

__ADS_1


"Siapa yang mau menikah lagi? Nggak ada yang mau menikah lagi, Bang Rai itu sayang dan cinta sama kamu, nggak mungkin dia mau menikah lagi!" Airy berusaha menenangkan Laila.


"Saya bukan seorang yang mulia, Pak. Saya juga tidak mampu berbagi kasih, lagipula pasti istri saya tidak menyetujui hal ini. Saya kasihan dengannya karena sedang hamil," lagi-lagi Raihan meminta maaf.


Namun, kedua keluarga tetap tidak jera. Mereka sudah sangat menyukai Raihan untuk dijadikan suami nya Syafa. Syafa sendiri juga seumuran dengannya, orang tua Hadi bilang, tidak akan aneh jika nantinya Raihan menikahi Syafa.


"Tapi, bagaimana dengan Mbak Syafa-nya sendiri? Apakah dia juga mau menikah lagi? Saya yakin, sulit baginya untuk menerima lelaki mana pun setelah di tinggal suami meninggal, lalu apakah dia juga mau menerima seorang lelaki yang sudah beristri?" tanya Adam.


Kedua orang tua Hadi dan Syafa terdiam.


"Mungkin, di pikiran Bapak dan Ibu ini, agar anak Mas Hadi ini memiliki ayah, apalagi sekarang memang sudah dekat dengan Abang saya. Tapi, coba Bapak dan Ibu ini posisikan diri di posisi Mbak Syafa. Apakah beliau juga mau melakukan poligami ini?" lanjut Adam.


Semua terdiam, karena memang kedua orang tua Hadi dan Syafa belum membicarakan hal itu kepada Syafa. Bagi mereka, Syafa pasti mau jika semua untuk masa depan anaknya, dan masa depan dirinya agar terhindar dari ocehan tetangga karena dirinya menjadi seorang janda.


"Menjadi seorang janda itu tidak hina, Pak, Buk. Jadi untuk apa kala ia menjaga mulut tetangga? Mbak Syafa juga bukan wanita nakal, 'kan?" tanya Adam lagi.


"Lagipula, Raihan ini baru menikah. Saya khawatir jika..." ucapan Syakir terpotong.


"Saya tidak bisa menyakiti batin dan lahir istri saya, maaf saya menolak poligami ini!" tukas Raihan.


Keluarga Hadi dan Syafa terus meyakinkan Raihan, Syakir dan juga Adam. Tapi tetap, mereka tidak ingin melakukan poligami itu. Dengan segenap jiwa raga, kedua keluarga itu memberi Raihan waktu lagi agar bisa memikirkan hal itu kembali. Lalu, berpamitan dengan wajah yang kecewa.


"Apa mereka bilang? Mereka menyuruh suamiku untuk berpikir lagi, poligami? Minta di beri pelajaran ini!" ketus Laila, sambil menggulung lengan bajunya.


"Hei, mau apa? Sudahlah! Mereka juga sudah pergi, sebaiknya kita keluar, jangan mbesengut begini. Suamimu sedang bingung, jangan tambahin sedih lagi karena melihatmu, begini." Airy menyeret Laila keluar menemui para suamimu.

__ADS_1


Laila memang belum bisa berpikiran dewasa. Masih butuh waktu untuk menerima semua itu. Namun, bagaimanapun sifat Laila, Raihan selalu sabar menghadapinya. Sama dengan Adam dulu, ia juga selalu sabar menghadapi tingkah dan sifat Airy yang sering membuatnya pusing.


__ADS_2