
Adam pulang menggendong Zahra yang sudah tertidur di gendongannya. Begitupun dengan Rafa yang juga tidur nyenyak di gedongan, Syakir. Mereka berdua pun mengantar ke kamarnya masing-masing.
Terlihat Airy yang siap memberikan hukuman menjalin Surah An-Nas sebanyak 50 lembar. Melihat situasi itu, Syakir langsung pamit pulang.
"Nggak nginep aja, Pak Lek?" tanya Adam.
"Ndak lah, Tante mu nanti riweh lagi. Pamit dulu, ya. Assalamu'alaikum," pamit Syakir.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Adam mengantarnya sampai ke depan pintu.
Setelah mengantar Syakir ke depan pintu, Adam langsung masuk ke kamar dan melihat apakah istrinya sudah merampungkan hukumannya atau belum. Ternyata oh ternyata, Airy sudah terlelap. Adam pun mengecek buku salinan yang di tindihin tangan Airy, cepat sekali Airy menyalin, ia sudah selesai.
Merasa bersalah? Tidak! Justru Adam sama sekali tidak merasa bersalah, karena itu memang sudah hukuman bagi Airy. Ia pun membelai kepala istrinya dengan sangat lembut, mencium pipinya dan juga mengangkatnya ke tempat tidur. Menyelimuti tubuh istrinya yang sudah mulai gemuk, kemudian merapikan mejanya.
Airy terbangun, "Mas Adam udah pulang? Rafa dan Zahra mana?" Sambil berusaha bangun, "Lapar." Imbuhnya.
"Kamu lapar? Bentar, Mas bikinin mie mau?" Adam tetap bersikap lembut kepada Airy.
Airy hanya mengangguk. Lalu, Adam segera menuju ke dapur. Bukan hanya memasak mie saja, Ia juga membuatkan Airy teh hangat yang manis. Ketika Adam sibuk di dapur, Airy menyusulnya yang kemudian memeluk Adam dari belakang. Sembari berkata, " Maaf!"
Adam berbalik badan, membalas pelukan sang istri. Kemudian, ia mencium kening Airy. Menikmati makan mie berdua di dapur. Bukan hanya itu saja, malam itu juga mereka melakukan hubungan suami istri juga (keinginan Airy).
---__---
Pagi yang cerah, setelah selesai beberes rumah, Airy segera mengantar Rafa dan Zara ke sekolah. Tak perlu repot ternyata, Aminah sudah ada di depan rumah untuk mengantar mereka. Mungkin, mereka mang sering berantem satu sama lain, tapi setelah itu, mereka pasti akan berbaikan lagi seperti biasa.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kak Aer! Kak Aer, masak apa, Kak?" tanya Aminah yang saat itu langsung masuk ke dapur.
Aminah memang suka memancing emosi Airy dengan memanggilnya Aer. Karena sudah berjanji tidak akan ribut lagi, Airy hanya bisa beristighfar dan mengelus dada.
"Wa'alaikumsalam, tamu apaan yang langsung masuk dapur? Mana tanya masak apa pula, situ tetangga? Tetangga juga nggak gini-gini amat kali," ketus Airy.
"Halah, ngono wae ribut, loh!" ucap Aminah, sambil menyomot bakwan yang ada di atas meja makan.
__ADS_1
"Kamu kenapa nggak sekolah?" tanya Airy dengan berkacak pinggang.
"Ndak punya celana dalam. Kehabisan, kemarin nggak nyuci," Aminah beralasan.
"Alasan opo iku? Timbang cawet durung garing wae ra mangkat sekolah!" Airy memang suka darah tinggi jika berada di dekat Aminah.
"Apa? Dawet? Enak, Ma. Beli yuk nanti, pulang sekolah, oke?" sahut Rafa yang ternyata ada di belakangnya.
Airy dan Aminah saling menatap. Mereka tertawa, karena untung saja yang di dengar Rafa adalah Dawet.
"Iyo, nanti beli sama Tante galak, ya. Karena dia yang mau anterin kamu sekolah," ucap Airy.
"Emm, baiklah. Oh iya, Ma. Zahra sakit, dia nggak bisa masuk sekolah, gimana dong?" ujar Rafa.
"Apa? Zahra sakit?"
Mendengar Zahra sakit, Airy langsung meletakkan alat makannya, dan berlari ke kamar Zahra. Memang Zahra sedang demam, mungkin saja memang dia sedang tidak enak badan. Airy menyuruh Aminah untuk segera mengantar Rafa berangkat sekolah. Lalu, Airy sendiri akan membawa Zahra ke rumah sakit. Tidak lupa untuk berpamitan dengan Adam.
_-_-_-
"Nggak usah, Mas. Aku nyetir sendiri soalnya, Nanti kalau sudah selesai aku langsung pulang, kok." jawab Airy.
"Baiklah, hati-hati di jalan, ya. Mas mau ngajar dulu, Assalamu'alaikum bidadariku!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, jangan lupa sarapan!"
Sampai di rumah sakit, Zahra langsung di tangani oleh Dokter. Dokter anak itu namanya, Hendrawan. Berusia sekitar 30-an tahun ke atas, dia sangat tampan rupawan. Bukan Airy namanya, jika ia tertarik dengan lelaki seperti itu. Kalangan ibu-ibu sebelum Airy masuk, memang mengatakan jika dokternya ganteng.
"Oh, jadi ini dokter gantengnya itu? Ganteng, sih. Putih, tinggi, hahaha sayangnya, masih menarik hati abang manisku yang ada di rumah." batin Airy.
"Tapi kalau di lihat-lihat, kenapa dia mirip Zahra, ya? Jangan-jangan.... " Keluar sifat bar-bar dari Airy.
"Pak Dokter pernah ke Jawa Timur, nggak?" tanya Airy.
__ADS_1
"Saya asli sana, Bu. Ada apa, ya?" tanya Dokter.
Airy masih bergumam dalam hatinya. Setahunya, nama ayah kandung dari Zahra bukanlah Hendrawan, persisnya ia lupa. Tapi, Sari pernah bilang jika Ayah kandung dari Zahra sudah meninggal dunia.
"Dokter,"
"Iya, bu?" Dokter masih sibuk memeriksa Zahra.
"Tes DNA, yuk!" Airy langsung mengajak dokter itu melakukan tes DNA.
Bagaikan tidak kaget, Hermawan sangat terkejut ketika Airy, orang yang baru pertama kali ia temui, tiba-tiba mengajaknya melakukan tes DNA untuk anaknya.
"Maksudnya apa ya, Bu? Tunggu, tunggu! Saya sama ibu kan baru saja ketemu nih hari ini. Detik ini juga, bagaimana mungkin kalau adik Zahra ini adalah anak saya. Mohon maaf, Bu. Tolong jelasin," Hermawan semakin bingung.
"Sekitar 5-6 tahun lalu, apakah kamu mengenal wanita yang namanya, Sari? Dia pernah tinggal di luar negri untuk sekolah, dan sejak kecil berada di pesantren, apakah kau ingat, Dokter yang ganteng?" tanya Airy dengan wajah yang serius.
"Sari? Sari siapa, ya?".
"Astaghfirullah hal'adzim, aku nggak percaya jika aku masih menyimpan foto wanita itu," gumam Airy sambil mengecek ponselnya, mencari foto Sari.
Hermawan terkejut, wanita yang bernama Sari itu, ternyata wanita yang sama yang telah mengambil ****** nya ketika malam itu, sekitar 5-6 tahun yang lalu.
"Wanita itu?" ucap Hermawan dengan ekspresi yang tidak bisa di baca oleh Airy.
"Iya, ini ibu kandung dari Zahra. Kamu bapaknya, 'kan? Hayo ngaku, dasar nggak bertanggung jawab!" teriak Airy.
Karena teriakan Airy takut di dengar orang dari luar, reflek Hermawan membungkam mulut Airy menggunakan tangannya. langsung saja Airy tepis dan mengucapkan, "Bukan muhrim!"
Hermawan meminta Airy untuk membawa potongan rambut nya ke ruang lab untuk di periksa. Ia juga meminta Airy untuk menjelaskan semua yang terjadi. Antara dirinya dengan Zahra. Dan siapa Sari itu, di mata Hermawan.
"Tunggu, bolehkah, saya meminta nomor Ibu?" tanya Hermawan.
"Enak aja, saya wanita apaan. Nggak ada, kalau mau penjelasan, besok kita ketemu lagi pas jam makan siang, ku tunggu di kantin rumah sakit. Assalamu'alaikum! Makasih rambutnya,"
__ADS_1
Airy menolak untuk memberi nomornya. Siapakah Hermawan ini? Kenapa ia kenal mirip dan pernah mengenal Sari. Yang jelas dia Ayah kandung dari, Zahra. Kita simak kisahnya setelah bab ini.