
Di rumah Raditya, terlihat ia sedang memandang foto ketika dirinya bersama dengan Aminah di Korea. Datanglah Rasid, lalu menanyakan Aminah kepadanya.
"Mas Rasid yang mau dijodohkan, kenapa tanya kepadaku?" ujar Raditya.
"Dit, aku dengar tadi, kamu mengenal Aminah. Bahkan sering ke pesantrennya, pasti kamu tahu dong sifat dan sikap Aminah," kata Rasid seraya menghisap barang rokoknya.
"Yang pasti dia tidak suka cowok perokok!" ketus Raditya menggibas-gibaskan tangannya karena terkena asap rokok.
Raditya masih kesal dengan situasinya. Ia bahkan malas mengobrol dengan keluarganya. Lalu, memilih untuk berkunjung ke rumah Raihan. Namun sayang, niatnya tertunda karena Ibunya malah demam. Saat di meja makan, Ibunya bertanya kepada Raditya tentang dirinya yang sejak tadi menjadi pendiam.
"Dit, kamu kenapa? Kok diam sejak siang tadi? Padahal kami paling bersemangat untuk ketemu dengan keluarga jodohnya, Kakakmu?" tanya Ibunya.
Raditya enggan mengatakan perasaan yang sejujurnya kepada orang tuanya. Karena takut, Ibunya akan semakin sakit dan ia tak tega dengan jika melihat Ibunya sakit. Setelah makan malam, ia masuk ke kamarnya, merebahkan diri dan memandang potret Aminah di ponselnya.
"Maaf," ucap Raditya.
"Dit, kamu bisa jujur dengan kami. Aku tahu apa yang ada di ponselmu," ucap Rasid menahan bahu Raditya yang hendak beranjak pergi.
"Aku sudah mengantuk, besok ada acara di pabrik. Assallamu'alaikum!" salam Raditya pergi begitu saja.
Ibunya menanyakan hal apa yang di tutupi oleh Raditya, namun Rasid masih merahasiakannya karena ia tidak ingin adiknya kehilangan muka di depan Ibunya. Keduanya sangat menyayangi Ibunya, hingga Ayahnya selalu mengalah akan itu. Baik Raditya atau Rasid, mereka masih memikirkan tentang perjodohan itu. Rasid tahu jika ada sesuatu di antara adiknya dan Aminah. Begitu juga dengan Raditya yang tak ingin menyakiti hati ibunya karena mencintai gadis yang dijodohkan dengan Kakaknya.
Malam itu, Raditya berencana menghubungi Aminah dan meluruskan semuanya. Tapi, Aminah tidak mengangkatnya, sudah beberapa kali juga Aminah tidak mengangkat telfon Raditya.
"Assalamu'alaikum, tolong angkat telponku." sekali lagi Raditya menelpon Aminah dan kali ini ia mengangkatnya.
"Wa'alaikumsallam, ada apa lagi?" tanya Aminah dengan ketus.
__ADS_1
"Aku harap besok bisa menemui dirimu. Kita harus bicara, aku tidak tenang selama pertemuan tadi. Bisakah?" pinta Raditya.
"Hm, apakah hari ini kamu masih di Jogja? Bukankah, rumahmu ada di Malang?" tanya Aminah.
"Ibuku orang Jogja. Ayahku yang berada di Malang. Dan aku baru sampai kemarin, maaf jika aku belum mengabarimu," jelas Raditya.
Rasid mendengar obrolan Raditya dan Aminah dari telpon, karena tidak mungkin orang lain lagi yang di telpon adiknya. Karena Raditya baru saja menyebutnya pertemuan tadi. Rasid merasa tidak enak hati kepada Raditya.
"Sejak kecil, perhatian dan cinta Ibu, Ayah hanya tertuju padaku. Sekarang, aku merebut cinta masa depannya. Kakak macam apa aku ini? Tapi, aku tidak bisa menolak perjodohan itu, karena Ibu." gumam Rasid.
_-_-_
Hari yang sibuk di pagi hari. Setelah selesai sholat subuh, beberes dan yang lainnya, Laila akan berangkat membantu Leah di dapur untuk membuat sarapan bagi seluruh rumah. Entah mengapa Rafa lebih memilih tinggal bersama Ruchan dan Leah di bandingkan dengan orang tuanya. Ya tentu saja, Kakek Nenek lebih memanjakan cucu dari pada orang tuanya.
"Buyut, kenapa buyut makannya bubur?" tanya Rafa saat di meja makan.
"Bolehlah-boleh." jawab Rafa membuat Leah dan Ruchan tertawa. "Ayo, Mama Laila, beri aku bubur yang banyak, ya. Biar aku cepat besar!" seru Rafa.
Sementara itu, ponsel Raihan berdering terus menerus. Ketika tahu siapa yang menelponnya, Laila menjadi kesal. Penelpon itu adalah Syifa, ia juga mengirim pesan untuk minta tolong kepada Raihan untuk bertemu dengan keluarganya lagi. Kesalahpahaman muncul lagi, Laila tidak tahu maksud Syifa yang sebenarnya karena ia sudah kesal lebih dulu sebelum membaca pesan sampai akhir. Ia berencana untuk menemui Syifa setelah mengantar Rafa sekolah nanti.
Di sisi lain, Airy sedang bingung karena Rafa tidak mau pulang. Ia merasa, jika Leah akan membuat Rafa semakin manja, sudah susah payah Airy tegas kepada Rafa. Setiap pulang ke rumah, pasti Rafa sering membandingkannya dengan Leah yang memanjakannya.
"Sudahlah, ayo cepat di makan sarapannya. Kamu juga, Yusuf. Cepat makan, dan segera berangkat ke sekolah," pinta Adam.
"Mas, aku kesal dengan Uti. Dia selalu memanjakan Rafa, aku sudah bilang jangan kasih dia permen, masih saja Uti ngasih permen dan nggak kira-kira. Kan aku menjadi kesal!" seru Airy.
"Hanya maslah permen? Sayang, apakah kamu tidak ingat jika Rafa sedang di beri tugas selama seminggu tinggal bersama kakek neneknya? Kamu lupa?" tanya Adam dengan lembut.
__ADS_1
"Mas, jangan tanya itu. Kakakku ini sekarang sudah menua. Dia sudah mendekati pikun, Mas Adam. Hahaha," ledek Yusuf.
"Kalian ini, ya. Lelaki mana tau, perasaan emak-emak muslimatan kek aku!" kesal Airy dengan bibir manyunnya.
Jika Airy, Adam dan Yusuf menghabiskan paginya dengan candaan, berbeda dengan Aminah yang masih diam-diaman dengan orang tuannya. Bahkan Aminah tidak mau sarapan ketika di minta sarapan oleh Balqis.
"Aku harus berangkat lebih lagi," ucap Aminah.
"Aminah, apakah kau masih marah kepada kami?" tanya Balqis.
Aminah menggelengkan kepala.
"Lalu, kenapa kamu sampai nggak mau sarapan bareng kami?" tanya Balqis lagi.
Aminah kembali menggeleng.
"Aminah, jangan keras kepala. Makanlah! Hargai waktu yang Mama-mu habiskan untuk membuatkan makanan kesukaanmu. Dia juga menyiapkan bekal untukmu," sahut Syakir.
Aminah hanya malu kepada orang tuanya. Ia merasa bersalah karena mengatakan mereka jahat kepadanya. Yang nyatanya itu hanya salah paham karena dirinya sedang patah hati. Perlahan, Aminah duduk dan mulai makan, ia juga minta maaf kepada Balqis dan Syakir atas apa yang ia lakukan semalam.
"Kita lupakan hal yang sudah berlalu, oke? Sebaiknya kamu cepat sarapan dan berangkat ke sekolah, Mama akan mengantarmu," Ucap Balqis masih lembut.
"Makasih, Ma."
Masalah satu selesai, kini tinggal Laila menyelesaikan masalahnya kepada Syifa melalui metode bertemu langsung dan menanyakan apa yang sebenarnya Syifa mau. Setelah melihat Rafa masuk ke kelas, Laila langsung bergegas ke rumah Syifa. Ia pernah sekali ke rumahnya ketika pemakaman Hadi, suaminya 2 bulan lalu. Sebelumnya, Laila juga sudah menghubungi Syifa lebih dulu, memastikan jika mertuanya sedang tidak ada di rumah.
"Kita bertemu di taman kota saja. Bukankah, itu dekat dengan sekolah keponakan Raihan, dan sekolah anakku? Soalnya di rumah masih ada mertuaku, aku tidak enak juga karena aku masih harus menjalani masa iddah," pesan dari Syifa.
__ADS_1