
Acara masih berlangsung, di pelaminan, Laila bersanding dengan Raihan. Mereka nampak biasa saja, tak ada bergandengan tangan, genggaman tangan bahkan saling sapa.
"Hey, ngobrol, dong!" bisik Airy.
"Mau ngobrol apaan? Dia kan kuper, jadul pula," jawab Laila.
Raihan hanya menatap sinis istri barunya itu, ia tak ingin membuat masalah saat di atas pelaminan.
"Awas aja nanti, aku akan jadiin kamu perkedel, dasar Mecon!" batin Raihan kesal.
Di penghujung acara, semua memberikan selamat kepada kedua mempelai. Tentu saja terpisah, laki-laki ada di sebelah kiri dan perempuan ada di sebelah kanan.
"Meriah banget, turut bahagia deh untuk Abang dan Laila," ucap Airy penuh kebahagiaan.
"Maaf," ucap Adam yang saat itu di sampingnya.
"Memangnya, Mas berbuat salah, apa? Kok minta maaf?" tanya Airy dengan polos.
__ADS_1
"Karena aku tak bisa memberikan pesta pernikahan seperti, Abang dan Mbak Laila," Adam menunduk.
Airy menggenggam tangan Adam seraya mengucapkan, "Aku bahagia dengan pernikahan kita, jadi jangan seperti ini lagi."
Tak ada yang membahagiakan untuk Airy jika ia dulu menolak Adam untuk menjadi suaminya. Meskipun Adam sangat pencemburu, tapi kasih sayangnya sangat besar. Mungkin, acara pernikahan Raihan dan Laila terkesan mewah. Tapi, di saat pernikahan Airy dan Adam, kedua orang tuanya masih bisa hadir. Semua orang juga bisa hadir termasuk Oma Irene, Kakung Ikhsan dan Uti Vina. Karena mereka masih ada saat itu.
"Airy,"
Seseorang memanggil Airy, ia pun menoleh. Menemukan seorang pria yang memanggilnya, yakni Opa Sandy dengan membawa sebuah bingkisan kecil untuknya.
"Opa!"
"Ah Opa, aku sudah berias, belum juga poto. Masa di suruh nangis, sih? 'Kan nggak epik," manjanya Airy.
Mereka bertiga sekarang duduk dan mulai mengobrol, banyak hal yang Sandy dan airy obrolkan saat itu, hingga Aminah memanggilnya untuk berfoto bersama Raihan dan Laila.
"Aku di sini dulu aja!" teriaknya.
__ADS_1
"Sayang, nggak baik kalau teriak-teriak. Sebaiknya, kamu ke sana dulu, nanti di sambung lagi bicaranya," tutur Adam dengan lembut.
"Tapi, 'kan? Aku mau makan dulu juga, gimana dong. Mas Adam juga belum makan, 'kan?" nada bicara yang sangat membuat Adam sangat gemas, sehingga Adam pun mencubit pipi Airy.
Melihat pasangan cucunya sangat lembut memperlakukan Airy, Sandy merasa bahagia. Beruntung ada yang bisa menjaganya sekarang, karena Papanya telah tiada. Sandy meminta Airy untuk mengikuti kemauan Aminah, karena ia juga ingin bicara dengan Adam berdua saja.
"Yah, tapi aku masih kangen sama Opa," rengek Airy.
"Nanti lagi, Opa masih lama kok di sini." jawab Sandy.
Setelah Airy pergi ke pelaminan Abangnya, Sandy mulai mengajak Adam untuk mengobrol. Sandy teringat akan Ruchan muda dalam diri Adam. mereka berdua memiliki sifat yang sama, lembut dan penuh kasih sayang. Sandy juga melihat Leah dari diri Airy, itu mengapa ia selalu merindukan Airy. Meskipun Leah masih sehat wal'afiat.
"Ketika Raihan dan Airy lahir, kami semua sangat bahagia. Akhirnya cucu pertama pesantren lahir sekaligus dua, hahaha masih ingat sekali waktu itu," ungkap Sandy.
"Kamu ini mirip sekali dengan Ruchan, bedanya kamu lebih ganteng hahahaha," tawa lepasanya Sandy membuat Adam menjadi lebih nyaman ngobrol dengannya.
"Kalau Airy, Opa? Dia lebih mirip kepada siapa? Ami atau Papa?" tanya Adam.
__ADS_1
"Haha, dia lebih mirip ke Uti-mu, Leah. TApi bedanya, ketika menikah dan sudah memiliki anak, Leah sangat dewasa sekali. Berbeda dengan Airy yang masih seperti anak kecil. apalagi kalau sudah bersatu dengan Aminah. Semua jadi kacau!"
Banyak hal masa kecil yang di katakan kepada Adam saat itu. Sampai di mana Airy sering sekali menerima hukuman karena kesalahan yang beribu kali ia ulangi. Bukan kapok, sehari Airy pernah sampai di hukum sepuluh kali karena saking bandelnya.