Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 300


__ADS_3

"Gu, nanti kamu tolong antar ini ke tempat Airy, ya. Hari ini aku mau pergi bersama Naira sebentar. Bisa?" pinta Laila kepada Gu.


"Bisa, kok, Kak. sini, nanti aku berikan kepada Kak Airy. Sekarang... kita langsung pulang, atau masih mau kemana lagi?" tanya Gu, menerima sebuah kantong plastik berisikan suatu barang yang tak ia ketahui.


"Ke toko buku, yuk! Aku mau membeli buku untuk Yusuf, katanya dia suka membaca, bukan?" ajak Laila.


"Emm, lagi mau ambil hatinya, ya? Percayalah, dia baik-baik saja, kok, Kak. Dia nggak gimana-gimana kepadamu,"


Laila tahu, Yusuf tak mungkin membencinya. Tapi, Laila memang ingin mendekatinya sebagai adiknya, bukan karena kecanggungan di antara mereka.


Sesampainya di toko buku, Laila bertemu dengan Mita yang sedang ada di toko itu juga. Ia melirik ke luar, menatap Gu dan tersenyum sinis. Mita masih menganggap jika Gu itu selingkuhannya Laila.


"Berondong tuh! Siapa dia, Bos?" desis Mita.


Laila melihat ke arah Gu. Lalu, menjawab pertanyaan konyol Mita. "Iya, pacarku. Ganteng, 'kan? Seperti oppa-oppa Korea, bukan. Hmm, cinta banget aku sama dia." di tambah, Laila mengatakan semua itu dengan nada manja.


"Gila! Gila sumpah!" ucap Mita menggelengkan kepalanya.


"Demi, apa? Kamu selingkuh?" tanya Mita.


"Hm, kasih tau nggak, ya... Dasar, sok tau!" Laila meninggalkan Mita.


Mita manahan lengan Laila dengan kencang, hampir saja Laila terjatuh. Laila bingung dengan sikap Mita itu, ia merasa tak mengenal dengan Mita, tak pernah memiliki masalah juga dengannya. Seolah-olah, Mita menganggap Laila ini adalah musuh bebuyutannya.


"Tunggu, deh. Sebenarnya, lu ada masalah apa sih sama gue? Heran, deh. Nggak sejak awal, sekarang juga sikap lh ke gue begidong, ehh begini. Mau lu itu apa, sih? Pona'ah?" tanya Laila gemas.

__ADS_1


"Ceraikan Hansel!" hardik Mita.


Laila hanya tersenyum, kemudian membisikan sesuatu yang membuat Mita murka. Mita menampar Laila dengan keras, mereka pun membuat keributan di toko itu, hingga di usir oleh karyawan toko.


"Kenapa? Lu kan emang murahan! Kalah lu merasa tidak murahan, suami orang nggak lu embat juga, Pona'ah!" seru Laila.


"Hansel hanya milik aku, kami juga pernah melakukan hal itu ketika di Jerman. Kasihan, kamu hanya menerima bekasku saja," Mita masih kekeh.


"Dih, terus? Itu masalah lu, bukan gue. Jangan ganggu gue lagi, pergi jauh dan bawa nama Hansel lu itu, Raihan selalu-nya akan tetap menjadi Raihan Jazeera, suami Laila." jelas Laila, kemudian meninggalkan Mita.


Sakit? Iya, hati Laila tetap merasa sakit karena suaminya di dambakan wanita lain. Laila memang tak mempercayai dengan apa yang di katakan Mita, tapi itu sudah menyakiti hatinya. Tak terasa, bulir air matanya mengalir.


"Kak," Gu khawatir dengan Laila, yang keluar dengan menangis.


"Ada, apa?" tanya Gu.


Gu tak lagi bertanya lagi, ia segera menghidupkan mesin motornya, kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Sekuat-kuatnya Laila menghadapi Mita, tapi hati Laila juga rapuh, ketakutan akan kehilangan sang suami juga ada dalam benaknya. Ia tak mengetahui banyak perihal Mita dan Raihan di masa lalu, tapi Laila percaya jika memang tak ada hubungan apapun di antara mereka, baik di masa dulu dan sekarang.


"Nih cewek asli, meresahkan banget. Perlu di basmi!" batin Laila.


Tak lama setelah itu, sampailah mereka di rumah, Gu langsung pamit pulang karena ada kepentingan. Sementara Raihan sudah menunggunya di depan rumah. Memang tak ada hal yang terjadi, mereka tetap bersikap sewajarnya, mengucap salam, kemudian mencium tangan Raihan setelah bepergian.


"Assallamu'alaikum," salam Laila.


"Wa'alaikumsallam, warahmatullahi wabarakatuh, kok telat pulangnya? Nggak ada masalah, 'kan?" tanya Raihan.

__ADS_1


"Tadi, aku di buat kesal sama Mita, yang katanya masa lalu, Abang itu," jawab Laila.


"Terus, kamu percaya?" tanya Raihan.


"Enggak, hahahaha. Buat apa, sih? Kalau bahas masa lalu itu tak akan ada habisnya, malah yang ada bikin sakit hati," ucap Laila seraya melepas jaketnya.


"Masuk, yuk. Aku tadi beli jajan sebelum pulang," ajak Laila.


Raihan sengaja membatalkan jadwal dengan Syakir, hanya demi meluruskan tentang Mita. Ia tidak mau ada permasalahan yang tidak penting di ruah tangganya. Penjelasan yang Raihan berikan malah membuat Laila tertawa, pasalnya, Mita memang wanita yang tak tahu diri baginya.


"Aku memang berkata selayaknya dulu waktu di Jakarta. Aku kesal saja, dia mau merebutmu dariku, katanya." ucap Laila menyatukan tangannya.


"Kamu nggak cemburu?" tanya Raihan.


"Em, enggak. Siapa yang cemburu, dah lah. aku mau mandi dulu," Laila menutupi perasaannya dengan dalih ingin mandi. Tapi, di kamar mandi, ia terus saja menggerutu tiada henti.


"Aku cemburu! Kenapa nggak peka banget, sih. Sapto!" kesal Laila memukul pintu.


"Lagian, tuh cewek sok kecentilan banget. Ih, percaya diri banget sok-sokan menjadi wanita yang baik dan naif, benci deh dengan orang yang memiliki sifat begitu." gerutunya. Masih dengan menggedor pintu.


"Ada, apa? Kenapa?" tegur Raihan.


"Haih, aku nggak papa, kok. Lagi akting saja!" teriak Laila.


Masa lalu, yang menyakitkan akan menimbulkan luka lama terbuka kembali. Trauma masa lalu tak akan pernah lepas dalam hidup kita. Begitu juga dengan kenangan manis masa lalu, ketika kita mengingat manisnya itu, pasti rasa ingin mengulang itu ada, dan akan menimbulkan masalah dengan pasangan yang sekarang. Sebaik dan seburuknya masa lalu, sebaiknya biarlah menjadi masa lalu, yang tak harus di bahas lagi. Cukup jadikan pelajaran dan motivasi hidup ketika ingin melangkah kembali.

__ADS_1


__ADS_2