
Sementara itu, Adam yang membawa mertua, istri dan anaknya kembali ke Jogja pun ikut sedih dengan keputusan Raihan. Dia bak datang ketika Airy dan keluarganya susah, setelah itu ia akan pergi ketika semuanya sudah baik-baik saja.
Perjalanan memang tidak panjang antara Jakarta-Yogyakarta. Tak sepanjang perjalanan Raihan ke Jerman. Mereka sudah sampai dengan selamat. Bahkan, Zahra pun sudah menunggunya di pesantren.
"Kenapa kita pulang ke pesantren, Pa?" tanya Airy.
"Mulai sekarang, kalian berdua tinggal di sini. Untuk rumah Adam yang di Jawa Timur, akan di tempati oleh Hafiz, bagaimana?" usul Rifky.
"Tapi usaha kami di sana, bagaimana Pa?" protes Airy.
"Semua sudah di atur oleh suamimu, dia yang memiliki ide ini. Kakung dan Uti mu sudah sepuh, rawatlah mereka sekalian, ya. Papa pulang dulu, Assalamu'alaikum!"
__ADS_1
Rifky pun mengajak Yusuf pulang ke rumah. Sejak kepergian Aisyah, Rifky menjadi sering sakit-sakitan, kesehatannya menurut. Ia juga sudah tidak se heboh dulu, selera humornya tiba-tiba lenyap begitu saja. Bahkan, senyum di wajahnya pun berbeda.
"Rumah baru lagi?" tanya Airy.
"Ya mau bagaimana lagi? Ini jalan satu-satunya agar kita bisa pantau, Papa. Kesehatan Papa mulai menurun," jelas Adam.
Semenjak saat itu, Airy tinggal di Jogja bersama kedua anak dan suaminya. Ustadzah Ifa merelakan Zahra tinggal bersama Airy dan Adam. Sebab, bagaimanapun juga dalam status negara tertulis, bahwa Zahra adalah anak Airy dan Adam.
Begitu juga dengan Raihan yang menjalankan kehidupannya di Jerman bersama Raditya dan Cilo. Di sana juga ada sosok Ibu angkat dari ibu kandung almarhumah Pearl yang menjadi wali mereka di Jerman. Setiap malam, setiap hari, Raihan juga kepikiran dengan Laila. Ini kali pertama Raihan memiliki perasaan terhadap lawan jenisnya, namun rasa itu harus ia dikubur dalam-dalam, sebab Laila sudah di jodohkan dengan orang tuannya.
"Sudahlah, berhenti memikirkan yang lain. Kalau memang dia jodohmu, InsyaAllah, Allah akan memiliki rencana lain untuk mempertemukan kalian kembali!" seru Raditya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku nggak kepikiran sampai kesitu, sih. Aku malah kepikiran dengan Papaku. Semenjak Amiku meninggal dunia, hubunganku dan Papa sangat jauh. Ingin rasanya aku pulang dan terus menjaga Papa, entah kenapa aku merasa nggak mampu saja," jelas Raihan.
"Apa yang membuatmu tidak mampu?" tanya Raditya.
"Banyak hal, Dit. Aku ke kamar dulu, ya."
Raihan pun meninggalkan Raditya di ruang tengah sendiri. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya dan terus beristighfar, berdoa kepada yang Maha Kuasa, agar diberikan jalan kemudahan untuk menggapai semua cita-citanya di negara yang ia tinggal sekarang.
3 tahun berlalu. Kini usia Rafa menginjak 5 tahun lebih dan usia Zahra menginjak 5 tahun kurang. Sejak saat itu juga, Raihan tidak pernah pulang, hanya kabar yang selalu ia sampaikan, juga beberapa kali mengirim uang dan barang dari Jerman untuk Papa, adik dan keponakannya. Nama Laila juga tidak lagi muncul dalam kehidupan meraka. Bahkan tak ada saling berkabar antara Airy dan Laila.
Entah dia sudah menikah atau belum, Raihan hanya berharap jika nama wanita yang sering ia sebut di dalam doanya, mampu menunggunya hingga ia kembali lagi ke negara asalnya.
__ADS_1