
Airy melangkah, mendekati Sari. Bayi perempuan yang cantik juga ada di sampingnya, nampak sangat sehat.
"Sari? Kamu, kenapa?" tanya Airy.
Hati Airy memang gampang tersentuh, bahkan ia meneteskan air mata ketika melihat kondisi Sari saat itu.
"Kamu, kurus sekali, Sari." lanjutnya.
"Maafkan... " ucap Sari terpotong.
"Stt, tenang. Kamu yang tenang, ya. Simpan tenagamu." Airy menyentuh kepala dan menggenggam tangan Sari.
"Kenapa, kamu menangis?" suara Sari terdengar lemah.
"Aku teringat, Amiku. Kamu, sakit?" tanya Airy.
Sari menggeleng. Ia mencurahkan semua beban hidupnya kepada, Airy. Apa yang di lakukan selama ini, semua juga beralasan. Ia mengaku kesalahannya, namun tidak dengan dirinya yang mencelakai, Bela.
"Aku, tidak sengaja membunuh, Bela. Aku tidak tahu jika saat itu, sesak nafas Bela kambuh."
__ADS_1
"T-tolong, sampaikan maafku kepada, Adam." ucap Sari.
"Aku nggak mau menyampaikan. Kau punya mulut, Sari. Kenapa, aku yang harus menyampaikan. Nggak mau, ah!" jawab Airy, dengan harap, Sari akan semangat mempertahankan kondisinya itu.
Sari tersenyum.
"Aku, boleh minta tolong?" tanya Sari.
"Katakan!" seru Airy.
"Tolong, jaga putriku baik-baik, ya. Aku yakin, jika anakku ini, di asuh olehmu, dia akan menjadi wanita yang jauh lebih baik dariku." tutur Sari.
"Dia anakmu, kau urus sendiri. Cari, bapaknya. Aku sibuk!" Airy masih berusaha membuat Sari bersemangat untuk hidup.
"Dia juga sudah tak memiliki Ayah, Ry. To... "
Mata Sari terpejam, suara mesin Elektrokardiogram juga menunjukkan, bahwa jantung Sari melemah. Airy panik, ia langsung memencet bel, dan memanggil Dokter, yang ternyata masih ada di ruangan.
Adam dan Hafiz bingung melihat semua perawat masuk ke ruangan itu. Melihat, Airy keluar dari sana, Adam dan Hafiz langsung menanyakan, apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?" tanya Adam.
Airy hanya diam saja, dengan tatapan kosong.
"Ry? Airy!" panggil Hafiz.
"Airy, ada apa dengan, Sari? Apa yang dia katakan, dan apa yang sudah terjadi?" lanjut Adam.
Airy hanya memandang suaminya itu, air matanya juga tak henti-hentinya menetes. Adam sadar dengan ketakutan yang ada di mata Airy. Kemudian, Adam pun memeluknya, dan berusaha menenangkan, Airy.
Dokter keluar, membawa berita duka. Dari mengalami komplikasi, pasca melahirkan, dan penyakit yang dia derita selama ini. Tubuh Airy serasa lemas, ia juga belum sanggup dengan amanah yang Sari berikan untuknya. Mengurus anak dari orang yang selalu berbuat jahat kepadanya. Itu tidaklah mudah.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un." ucap Adam dan Hafiz.
Sesuai dengan amanah Sari, ia ingin di makamkan di samping malam Bela. Bayi, Sari masih harus di rumah sakit. Anak itu terlahir di lain negara, jadi harus ada beberapa urusan yang harus di selesaikan, agar bisa di adopsi oleh Adam dan Airy.
Pemakaman itu tak dihadiri oleh kedua orang tua Sari. Mesipun mereka hanya orang tua angkat, tapi tak ada salah satu mereka yang terlihat di pemakaman itu. Malah, terkesan acuh tak acuh, saat Ustad Zainal mengabarkan berita duka itu.
Karena putri Sari di adopsi oleh Airy, itu tidak membuat Ustadzah Ifa cemburu. Ia malah senang, jika sebelum ajal menjemputnya, Sari sudah meminta maaf kepada Airy terlebih dahulu.
__ADS_1