
Diam-diam Rifky menghubungi nomor Airy, namun tidak tersambung. Iya, karena ponsel Airy ada di rumah. Lalu, Rifiky pun menelfon ke nonor Adam. Dan langsung Adam angkat. Adam menjelaskan akan hal yang sedang ia lakukan di Jepang. Sehingga ia harus buru-buru tanpa pamit ke siapapun terlebih dahulu. Rifky merasa lega telah mendengar langsung dari menantu kesayangannya itu. Meskipun dalam hati masih ada yang janggal, Rifky berusaha untuk tetap positive tinking.
"Kok, perasaanku masih nggak enak, ya. Ada apa sebenarnya?" Gumam Rifky.
Di apartemen, Airy dan Adam malah menikmati malam mereka berdua dengan romantis. Padahal kedua anak yang mereka tinggalkan di Jogja sedang menangis merindukannya.
"Sayang, kalau seperti ini, kita jahat kan sama Rafa dan Zahra. Kasihan mereka, menangis terus." ucap Adam.
Airy hanya mengangguk-angguk, kemudian menepuk-nepuk bahu suaminya.
__ADS_1
"Ya Allah, jadi orang yang tidak bisa bicara ternyata seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan, betapa sedihnya mereka yang tidak bisa bicara sejak lahir," batin Airy.
Tanpa aba-aba, Adam mencium pipi Airy dengan sangat lembut, hingga mata Airy mulai terpejam. Di sematkan doa dari Adam yang di hembuskan di ubun-ubun istrinya. Tangannya, kini saling menggenggam satu sama lain, bisikan-bisikan cinta dari Adam kini mulai terdengar.
"Nih orang, anak lagi histeris di rumah, malah main nyosor aja denganku," batin Airy.
"Stt, 'kan sama istri sendiri. Kita jadikan ini untuk melupakan sejenak kejadian sebelumnya. Bagaimana kalau kita buat dedek buat Rafa dan Zahra?" bisik Adam.
"Kan kita harus usaha, Mas juga nggak penah berhenti bedoa, ingin anak perempuan." Lanjutnya.
__ADS_1
Malam itu, mereka pun menumpahkan rasa lelahnya, dalam satu keringat, satu selimut dan satu ranjang bersama. Hingga Airy tertidur karena kelelahan, sebaliknya, Adam masih tetap terjaga.
"Jujur, aku takut saat kamu di bawa pergi oleh, Pak Hans. Ketakutanku di dunia ini, selain dosa Kepada Allah, aku juga takut di tinggalkanmu, meninggalkanmu dan anak-anak kita, Sayang." ungkap Adam sembari membelai rambut Airy.
"Aku pernah jauh darimu, hilang ingatan tentang semuanya. Dan aku tidak akan membuat hal itu terulang lagi," imbuhnya.
Ternyata, Airy belum tidur pulas, ia mendengar semua yang di katakan oleh suaminya, dan merasa terharu. Airy juga tidak tahu, ketika insiden penculikan itu tidak di ketahui suaminya, mungkin ia masih bersama lelaki jahat itu. Seketika, Airy mengingat apa yang dilakukan Hans ketika di pesawat pagi tadi.
"Sayang, kamu nangis? Kenapa? Yang tadi sakit, ya?" tanya Adam.
__ADS_1
Airy menggelengkan kepala, dan memeluk suaminya dengan erat. Ia menangis dan terus menangis, merasa berdosa karena sudah di cium dan di raba oleh laki-laki lain yang bukan mahramnya. Adam tidak mengerti kenapa Airy menangis seperti itu, ia berusaha untuk menenangkan da membuat Airy mengatakan apa yang telah terjadi.
Kemudian, Adam pun mencari pena dan kertas, untuk Airy menulis. Dengan tangan gemetar, Airy menuliskan semuanya ketika di pesawat itu. Reaksi Adam malah tidak terduga, setelah membaca tulisan Airy, ia langsung mengucapkan, "MasyaAllah, begitu merasa bersalahnya kamu, ketika ada lelaki selain mahrammu, menyentuhmu? Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu, terima kasih ya." Adam kembali memeluk Airy.