
Setelah pulang sekolah, Falih, Yusuf dan Hamdan berencana untuk jalan-jalan sebentar mengendarai motor milik Gu. Yang baru saja pulang dari, kampusnya, tanpa permisi.
"Astaghfirullah hal'adzim, ini motor Kak Gu, 'kan?" tanya Yusuf.
"Hooh, cenglu njo, mumpung lagek ngaji sik ndue (bonceng tiga yuk, mumpung sedang mengaji yang punya)," usul Hamdan.
"Ndak, ah! Bonceng tiga itu melanggar peraturan, lagian kita 'kan masih di bawah umur, ndak boleh mengendarai motor!" tegas Yusuf.
"Sebentar aja, karena peraturan itu 'kan emang untuk di langgar, yo nggak, Ndan? Ayolah, Suf!" desak Falih.
"Tapi aku tengah, kalau jatuh nanti aku ndak sakit!" ucap Yusuf setuju.
Keburukan memang sangat cepat menular. Yusuf yang biasanya anteng dan pendiam, ia menjadi bobrok jika sudah bersatu dengan Hamdan dan Falih. Akhirnya, mereka boncengan bertiga ke lapangan terdekat, kemudian kembali lagi setelah 2 jam dari waktu mereka pergi.
Gu sudah bingung mencari di manat motor kesayangannya itu, hingga ia mendatangi rumah Syakir, karena biasanya Syakir yang mengendarainya.
"Assalamu'alaikum, Pak Lek tau dimana motorku, ndak?" tanya Gu.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, yo ndak lah. Pak Lek baru saja pulang tausiyah bareng Ustad Gani tadi," jawab Syakir.
"Nengdi, yo (dimana, ya)?" gumam Gu.
"Coba kamu tanya ke adik lelakimu yang lain. Mereka lagi nakal-nakalnya itu pengen naik motor," usul Syakir.
"Tapi 'kan mereka nggak di kasih hp, Pak Lek. Gimana aku mau mau tanya mereka, orang di pesantren ndak ada semua tuh bocah!" ujar Gu masih kebingungan.
Setelah mengalami kebingungan yang sampai membuatnya kesal, akhirnya tiga anak kembar yang lahir di tahun yang sama dan di hilang yang berbeda itu pun pulang juga. Mereka bertiga pulang dengan cengengesan seperti tak memiliki dosa sama sekali.
"Darimana, kalian?" tanya Gu dengan wajah datar.
Baik Yusuf, Hamdan dan Falih tidak ada yang mau menjawab. Mereka malah saling menyenggol siku satu sama lain, pertanda jika mereka tidak ingin di salahkan.
"Kalian push up 10x, lari 5x keliling lapangan pesantren," sahut Gu masih dengan nada yang santai.
"Hah? Tapi kita baru saja pulang, loh." jawab Hamdan.
__ADS_1
"Sekarang!" tegas Gu.
Tanpa negosiasi lagi, mereka bertiga pun langsung melakukan hukuman seperti yang di berikan dari Gu. Melakukan push up dan berlari keliling lapangan. Menurut Gu, kesalahan yang mereka perbuat sudah sangat kelewat batas. Meminjam motor tidak izin, masih di bawah umur, pergi juga tidak bilang ke siapa saja, lalu pulang terlambat dan tidak mengikuti diba'an di pesantren.
"Gu, bukankah kamu terlalu tegas kepada ketiga adik lelakimu itu?" tanya Rifky yang ternyata sudah ada di belakang, Gu.
"Ah, Assalamu'alaikum Pak Dhe!" salam Gu, seraya mencium tangan, Rifky.
"Kalau tidak tegas sekarang, mau kapan? Mereka sudah besar, harusnya tau mana perbuatan tidak terpuji dan perbuatan mulia. Motor Gu, juga rusak, Pak Dhe." jelas Gu.
Dengan nafas terengah-engah, mereka bertiga pun langsung terkapar usai menjalani hukuman. Namun, di siram menggunakan air dingin oleh Ustad Gani, karena mereka mengotori lantai pendopo yang akan di pakai untuk acara mujahadah sore itu.
"Astaghfirullah hal'adzim, Ya Allah. Siapa yang main siram aja, ini!" teriak Falih.
"Saya, kenapa? Tidak suka? Bersihkan lantainya sekarang juga! Sore ini akan ada mujahadah, dan ingat? Kalian juga harus menghadiri acara itu, Wssalamu'alaikum!" tegas Ustad Gani.
"Gini amat jadi santri. Keknya mereka keras hanya ke kita aja, deh!" keluh Hamdan.
__ADS_1
"Astaghfirullah, lambemu! (mulutmu, bibirmu, ucapanmu) Bukan mereka yang keras kepada kita, atau pilih kasih seperti yang kau pikirkan itu. Tapi kita yang salah, dah ayo bereskan semuanya." sahut Yusuf.
Melihat tingkah mereka bertiga, seketika Rifky mengingat akan kekompakan Syakir, Akbar dan Keny dulu. Karena Kabir langsung mengikuti pelatihan militer setelah usia sekolah, jadi tidak banyak memiliki kisah seperti yang lain.