
Setelah pertemuan itu, Airy menjadi teringat siapa Bagas di masa lalunya. Cowok yang pernah membantunya ketika ia hampir saja akan di gigit anjing. Siang hari, mereka mencari masjid untuk menunaikan sholat dzuhur.
“Tadi itu siapanya Kak Aer?” tanya Aminah.
“Airy! Kenapa jadi Aer, Min!” perotes Airy.
“Bayangkan bagaimana jadi diriku, namaku Aminah bisa di panggil Minah. Kenapa harus Min dan Parmin. Hufft kan mengesalkan!” Aminah malah perotes balik.
“MasyaAllah, kalian ini bisa nggak sih, sekali saja nggak usah bertengkar. Tiap ketemu adanya bertengkar mulu, nggak capek apa?” sahut Adam dengan nada sedikit kesal,
“Tau tuh!” imbuh Mayshita membuat suasana semakin panas.
“Amin yang duluan,” kelit Airy.
Mereka malah semakin rebut, untung saja Rafa dan Zahra sudah terbiasa dengan situasi itu. Jadi mereka hanya menyumpal telinganya menggunakan handset dan memilih mendengarkan sholawat. Berasa geram, karena kegaduhan yang di sebabkan Airy dan Aminah, Adam pun menghentikan mobilnya.
“Astaghfirullah hal’adzim! Kalian berdua ini, ya. Comel benget mulutnya, ini juga kakaknya nggak masu ngalah. Si adik juga nyahut mulu, Ya Allah tolonglah hambamu ini, tingkatkan level kesabaran di hatiku,”
Mendengar keluhan dari Adam, malah membuat semuanya tertawa. Bagaimana tidak, Adam berakting sangat baik.
“Puulu, pulu, pulu,” jawaban Airy membuat Adam malah gemas kepadanya.
Dan ke uwuan mereka pun di mulai.
__ADS_1
“Sudahlah! Ayo cepat pulang, kalian nggak ngertiin kita yang masih jomblo happy, kah?” racau Aminah.
“Jadi, jika ada suami yang mencium pipi atau kening istrinya itu sah aja, wajar gitu. Halal hukumnya, beda lagi kalau Mas Adam mencium istri orang lain baru haram,” sahut Mayshita.
Krikk… Krikkk…
“Ndak lucu, May!” seru Aminah.
Perjalana mereka pun berlanjut, kali ini Airy memilih untuk tidur dengan Zahra yang ada di pangkuannya. Sementara Rafa tidur di kursi belakang bersama Mayshita. Adam pun masih penasaran dengan lelaki yang bernama Bagas itu, kemudian ia pun menanyakannya kepada Aminah yang masih terjaga.
“Kenapa? Mas Adam cemburu? Nggak usah kepo! Kak Airy orang yang setia,” ucap Aminah sewot.
Rupanya, Aminah masih kesal dengan Adam, kemudian ia pun tertidur. Tak lama setelah itu, sampailah mereka di masjid untuk sholat dzuhur yang sempat tertunda 15 menit. Karena anak-anak tidur, mereka sholat secara bergantian.
Malam telah tiba, setelah mengantar Rafa dan Zahra ke pesantren, Adam dan Airy hendak tidur lebih awal. Masih ada yang mengganjal di hati tentang Bagas, Adam pun menanyakan hal itu kepada istrinya.
“Aku aja lupa, Mas. Entahlah, tapi dia pernah nolongin aku gitu, dulu.” Jelas Airy.
Kelemahan Adam memang dalam kecumburuan, ia hanya tidak ingin hal lalu bersama Hans terulang lagi. Sudah cukup baginya, sangat sakit ketika lelaki lain juga mendambakan istrinya, bahkan sampai menculiknya. Tapi, karena ia pernah di butakan kecumburuan, dulu sempat cek cok dan menjadi masalah dengan istrinya, jadi sekarang ia lebih memilih untuk diam dan menenangkan dirinya dengan istighfar.
“Masih diam saja sih, Mas. Sini aku ceritain,” ucap Airy, ia sadar jika suaminya sedang cemburu dengan Bagas.
“Dulu, istrimu yang unik ini, sering menjadi idola di sekolah. Di mana pun aku sekolah, pasti banyak kaum Adam yang mendekati. Tapi tidak dengan kaum Hawa yang semuanya pada nge-bully dan tak jarang mereka mau akrab denganku,” ungkap Airy dengan menyombongkan diri, agar hati suaminya semakin panas.
__ADS_1
Mendengar curahan hati istrinya, Adam yang merasa kesal pun menutupi dirinya menggunakan selimut. Ternyata, Adam juga tahu cara mengerjai sang istri. Bukannya merasa bersalah, Airy malah semakin membuat hati Adam terbakar.
“Dan lagi, dulu aku sering banget di traktir sama mereka, ahhh rindunya masa badung,” goda Airy.
“Di tambah lagi, aku juga sering di jemput mereka, di lindungi bagai putri raja, di sayangi, ughhh bahagiannya….”
“Cukup, cukuplah, jangan menambah derita lagi,” Adam menyumpal mulut airy menggunakan roti yang berada di sampingnya (stok untuk bekal Airy sebelum tidur).
“Cembukur nie, cembukur hahahaha,” ledek Airy.
Kesal dan malu, Adam langsung menyergap tubuh Airy yang sudah mulai melar karena banyak makan jarang aktivitas itu. Mencium dan menggigit-gigit kecil bibirnya, menghembuskan doa ke ubun-ubun Airy dan mengecup keningnya.
“Boleh?” bisik Adam.
Jarang sekali Airy tertunduk malu, sebelumnya ia malah yang lebih agresif di bandingkan Adam. Mendapat lampu hijau dari Airy, Adam pun mencium bibir Airy dengan sangat kembut dan penuh perasaan. Jantung mereka berdetak sangat kencang, seakan mereka sedang melakukan untuk yang pertama kalinya.
“Mas…” desah Airy.
“Em?”
“Lembut banget, aku ….” Desah Airy kembali.
Malam itu, sudah tak bisa di tahan lagi. Mereka pun beradu di malam yang syahdu tanpa Rafa dan Zahra di rumah. Karena nanti akan ke masjid di sepertiga malam, setelah selesai melakukan kewajibannya, mereka langsung mandi bersama.
__ADS_1
Saling membasuh satu sama lain, menyabuni dan mengusap se centi demi centi kulit mereka, lekuk demi lekuk tubuh, juga di rambah oleh Adam. Entah kenapa, mereka menganggap malam itu lebih istimewa dari malam sebelumnya. Terlepas dari semua itu, mereka juga tidak lupa berendam berdua. Astagfirullah, malam jum'at semalam.