
Sesampainya di rumah Airy, di sana ternyata sudah ada Raihan, Syakir dan juga Balqis yang sudah menunggunya di sana. Yusuf menjadi gugup karena ia menebak, pasti ada hubungannya dengan dirinya yang akan ke Korea.
"Assalamu'alaikum," salam Yusuf.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Masuk, kami ingin membicarakan hal penting denganmu," ucap Syakir.
Syakir memulai pembicaraan tentang bagaimana kesiapan Yusuf berangkat ke Korea. usuf menjawab jika dirinya hanya tinggal menunggu izin tulus dari Kakaknya dan segera berangkat.
Terlihat Airy meneteskan air matanya. Melepaskan kepergian Yusuf memang sulit baginya. Tapi, apa yang dikatakan Adam sebelumnya memang ada benarnya jika Yusuf berhak untuk menentukan masa depannya sendiri.
"Kau mau Kakak jawab jujur, atau mau Kakak ikuti keputusanmu sendiri?" tanya Airy.
"Aku mohon Kakak izinkan aku, ini semua juga aku lakukan karena Ami dan Papa sudah menyiapkan semuanya untukku," jawab Yusuf tidak berani menatap mata Kakaknya.
"Oh, ini semua karena Ami dan Papa? Bukan kemauanmu sendiri, kah?" tanya Airy, ia hanya ingin mendengar Yusuf memantapkan hati pergi ke Korea karena kemauannya sendiri.
"Bukan, aku memang ingin ke sana. Aku ingin belajar banyak hal lagi. Sebagian dari anak lelaki dikeluarga kita menuntut ilmu sampai ke luar negri dan aku juga ingin tahu bagaimana rasanya berjuang sendiri," jawab Yusuf mantap.
"Tapi, kakak tahu kamu lelaki seperti apa. Kamu sungguh tak tahan dengan wanita yang sering terbuka pakaiannya. Bahkan kamu juga membenci wanita yang merokok dan minum. Semua itu ada di sana, meski dikawasan kita juga ada," ucap Airy.
"Itu ujian bagiku, Kak. Allah ingin aku menguji imanku sendiri dengan semua itu. Aku membuka mata dan di dunia ini tak semua orang beragama islam seperti kita. Aku juga tau batasan, larangan dan aturan, jadi dengan bekal agama yang selama ini aku pelajari, insyaAllah akan mampu membuatku berpikir lebih jernih menghadapi dunia ini." tukas Yusuf.
Melihat keteguhan sang adik, Airy mengizinkannya pergi ke Korea dengan Aminah dan Hamdan. Meski aslinya tak ingin adiknya pergi jauh, tapi airy juga ingin melihat adiknya bisa sukses kedepannya.
__ADS_1
"MasyaAllah, siapa ini? Apakah ini adikku yang sering memintaku membelikan ciki-ciki dulu? Kau semakin dewasa Yusuf, Abang bangga kepadamu," ucap Raihan menepuk bahu Yusuf.
"Anak kecil yang suka mengekorku ini juga sudah besar ternyata, pikiran dari siapa itu? Siapa yang menuruni otak cerdas dan bijaksana seperti ini?" sahut Syakir.
"Bukan orang lain lagi, Ami Aisyah yang tumbuh dalam hati dan pikiran anak ini," ucap Balqis mencubit pipi Yusuf.
Izin sudah di dapatkan, tinggal Yusuf mempersiapkan diri untuk berangkat ke Korea. Itu semua juga tak jauh dari Adam juga, dialah yang mampu membujuk Airy untuk mengizinkan dirinya berangkat ke Korea.
"Terima kasih, Mas," bisik Adam.
"Apapun yang terbaik pasti akan aku lakukan untukmu." jawab Adam.
Flashback….
Malam sebelum hari itu, sengaja Adam mengajak Airy bicara setelah anak-anaknya terlelap membahas masalah keberangkatan Yusuf.
"Tidak!" jawab Airy.
"Adik kita juga harus maju, loh. Kita harus dukung dia. dia juga cuma belajar, pasti akan kembali lagi, apa yang kamu takutkan?" tanya Adam.
"Aku sayang kepadanya, aku hanya tidak ingin dia merasa harus mandiri secepat ini ketika orang tua sudah tiada semua, Mas…," jelas airy.
"Sayang, Yusuf sudah besar. Bulan depan dia sudah berusia 18 tahun. Dia berhak menentukan masa depannya sendiri. Kalau kamu seperti ini, kamu bakal membuatnya malah menjadi tertekan. Dia juga akan merasa bahwa dirinya akan berhutang budi kepadamu, dan…." belum juga Adam melanjutkan kata-katanya, Airy sudah menyelanya.
"Aku ini kakaknya, hutang budi apa? Aku tulus menyayanginya," potong Airy.
__ADS_1
"Iya, itu menurut kamu, Sayang. Tapi tidak dengan Yusuf, lagipula semua ini sudah disiapkan oleh almarhum orang tau kita. Mereka sudah susah payah banting tulang menghasilakan uang untuk masa depan Yusuf di Korea. Jujur, Mas juga tahu di sana umat beragama sedikit sekali, tapi pendidikan di sana juga bagus, kita cukup percaya dengan Yusuf, itu saja! Tolong renungkan semuanya dengan hati tenang dan pikiran yang positif, Mas akan buatkan kamu teh hangat dulu." tukas Adam mengakhiri pembicaraannya.
Sejak malam itu, Airy memikirkan semuanya. Memang Yusuf sudah besar, ia juga berhak menentukan keputusannya sendiri. Apalagi, Rifky, sang Papa juga sudah memasukkan nama Yusuf dalam pembelian apartemen itu.
Rifky tahu jika anak lelaki dalam keluarga Ruchan dan Leah harus bekerja keras. Karena memang sejak awal peraturan keluarga, harta warisan akan turun di anak perempuan. Bukan menyalahi aturan agama tentang pembagian warisan itu, tapi semua juga atas persetujuan seluruh keluarga besar.
_-_-_
Betapa bahagianya hati Yusuf sudah mendapat izin dari Airy. Ia mulai berbenah dan menyiapkan barang mana yang hendak ia bawa ke Korea. Saat ia berbenah, tak sengaja menyentuh buku harian gadis bermata biru itu.
"Ini.. ini buku anak itu. Apakah aku harus membacanya? Ini juga ada surat yang dia titipkan untukku kepada tetangganya itu. Aku harus baca sekarang juga," ucap Yusuf membuka amplop pink.
Halo, Kakak. Aku yakin kakak akan mencariku sampai ke rumah. Maaf, jaketmu akan aku bawa agar aku bisa kuat menjalani kehidupanku. Aku titip semua dokumen penting kepadamu. Tolong jaga sampai aku kembali nanti, oke? Aku akan kembali untuk menikah denganmu, Kakak mau menikah denganku kan? Aku yakin Kakak mau. Jadi, aku juga berharap Kakak bawa liontinku kemana kakak pergi, agar aku di sini bisa kuat karena separuh hatiku dibawa olehmu, yaitu liontin itu. Terima kasih pangeranku.
"Astaghfirullah, Allahu Akbar, aku sudah menduga ini. Kenapa dia terobsesi benget ingin menikah denganku? Ada-ada saja, deh. Ngeri sendiri aku jadinya!" gerutu Yusuf melempar surat itu ke kasurnya.
Tapi tetap saja, tanpa sadar Yusuf memasukkan liontin itu kedalam dompetnya. Supaya lebih aman, Yusuf akan memberikan dokumen itu kepada Clara esok hari, karena Clara yang sangat paham tentang hukum daripada dirinya.
"Baiklah mata biru, dimanapun kamu berada, aku akan doakan semoga kamu selalu baik-baik saja. Kembali dengan selamat, dan segera ambil barangmu," ucap yusuf.
Di sisi lain jauh di sana, gadis itu juga sedang berdoa di greja.
"Bapa, aku tahu dia dan aku berbeda. Aku terlahir sebagai anakmu, dia terlahir sebagai umat islam. Aku mungkin masih kecil sekarang dan tak tahu apa perbedaan ini. Tapi, aku akan izin, jika suatu saat nanti aku lebih memilih dia, jangan salahkan aku, oke? Sekarang, aku harus berpura-pura menjadi anak baik dulu." Doa gadis itu mengenakan jaket milik Yusuf.
Keesokan harinya, Yusuf mengantar semua dokumen itu kepada Clara dan menjelaskan kepadanya tentang apa yang ia alami dengan gadis kecil itu. Clara mengerti dan menyarankan Yusuf untuk tidak menceritakan hal itu ke orang lain lagi.
__ADS_1
Clara yakin jika gadis itu sekarang baik-baik saja, ia mengatakan kepada Yusuf jika nanti gadis itu berusia 17 tahun, akan banyak orang yang jahat kepadanya, itu yang IPA baca dalam surat penting yang belum dibuka oleh Yusuf,
Surat itu ditulis oleh Kakeknya, sebelum meninggal. Karena berbahasa Mandarin, Yusuf menjadi tidak mengerti. Namun, Yusuf sudah tak lagi ingin berurusan dengan anak itu. Ia akan fokus dengan pendidikannya nanti. Akan tetapi, Yusuf tak sadar jika liontin itu akan sellau bersamanya sampai dirinya kembai bertemu dengan gadis itu.