
"Serius? Bang Dit menolak perjodohan itu?" tanya Aminah dengan kata berbinar.
"Demi kamu!"
Aminah tak tahan, rasanya ingin jungkir balik, tersungkur, terjungkal dan terbang bebas melayang di udara. Ia bahkan ingin berteriak sekencangnya, bersyukur dan bahagia sekali sampai hatinya berbunga-bunga.
"Kenapa senyum-senyum? Pasti udah su'udzon kan sama aku?" tebak Raditya.
"U'um, habisnya langsung dimatiin, sih, telponnya. Siapa yang nggak mikir aneh-aneh coba?" Aminah masih saja membela diri.
"Oh, terus itu kamu gunain buat kesempatan deket dengan senior yang ganteng itu, ya? Mana mampu aku dibandingkan dengan dia, gantengan dia gitu...." giliran Raditya yang ngambek tak tertolong.
Manja-manjaan versi syar'i ala Raditya dan aminah, bahkan mereka duduk saja masih berjauhan. Namun masih bisa melontarkan kata-kata manis satu sama lain. Mereka akhirnya berbaikan lagi, sampai Hamdan pulang dengan ke adaan lelah, mereka malah sedang masak sambil ketawa ketiwi berdua.
"Assallamu'alaikum, oh ada kalian ya?" salam Hamdan merebahkan dirinya ke sofa.
"Wa'alaikumsallam, dari mana saja? Kok, baru pulang?" tanya Aminah kembali.
"Biasa, aku harus ke kantor Ibu untuk membantunya menyelesaikan hal penting. Kalian masak apa? Heboh bener?" nada bicara Hamdan sudah setengah sadar dan setengah lagi ingin ke alam mimpi.
Tak sampai lima menit, ia sudah tertidur sekaligus mendengkur indah di sofa. Karena merasa kasihan.. Raditya memindahnya ke kamar. Ia juga melepas kaos kakinya yang super bau itu.
"Ya Rabb.. kaos kakimu ki mbok ra kumbah pirang dino to, Ham. Ambune loh ora karuan!" gerutu Raditya. (Kaos kakimu tidak dicuci sudah berapa tahun to, Ham. Baunya loh nggak karuan).
Setelah selesai mengurus Hamdan yang seperti bayi, Raditya kembali ke dapur untuk membantu Aminah memasak. Raditya sengaja akan berlibur selama seminggu di sana, semua sudah ia rencanakan ketika mengetahui Aminah sedang kesal kepadanya tetang perjodohan itu.
"Oh iya, cewek yang akan dijodohkan dengan Abang siapa, sih?" tanya Aminah menyinggung tentang perjodohan lagi.
"Dia, dia seorang santri di pesantren keluargamu," jawab Raditya.
__ADS_1
"Siapa?"
"Nabila,"
"Nabila? Yang baru masuk tahun lalu itu? Oh, jadi keluarga Bang Dit suka yang bodinya aduhai seperti Nabila ya? Hish, dah sana duduk! Biar aku yang masak!" ketus Aminah bernada nge-bas.
"Salah lagi, dia yang nanya. Giliran aku jawab, salah lagi. Emang cewek mah nggak mau kalah, iya in sajalah. Daripada urusannya ribet," gumam Raditya murung dan berjalan ke sofa.
Sore itu, Yusuf dan Eun Mi pergi ke swalayan di dekat kampus. Mereka hendak berbelanja kebutuhannya sendiri. Kali ini juga tanpa Hae Jun, karena lagi-lagi Hae Jun harus mengikuti kelas tambahan karena dia salah satu anak tercerdas juga yang akan mewakili kampus untuk pertukaran pelajar di Jepang.
"Kalau seperti ini, kapan aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan Hae Jun," lenguh Eun MI.
"Pasti, nanti kalau sudah waktunya. Sabar saja, cuma tiga bulan juga kan di Jepangnya? Tapi, apakah secepat itu kampus mengadakan pertukaran pelajar?" tanya Yusuf.
"Aku juga kurang tau. Tapi kalau saat SMA dulu, pertukaran pelajar itu dilaksanakan tengah semester. Ahhh, aku sungguh tidak bersemangat jadinya," Eun Mi begitu mencintai Hae Jun.
Yusuf hanya pendengar setia curahan hati Eun Mi tentang kisah cintanya. Selesai belanja, mereka berpisah di halte bus, karena jalan rumahnya tidak searah, jadi Eun Mi pulang lebih dulu karena bus nya sudah datang. Sementara Yusuf masih duduk santai di halte menunggu senja.
"Suah jam segini, kenapa dia belum juga datang?" seorang pria mengejutkan Yusuf, pria itu duduk di sebelah Yusuf dengan sedikit mabuk.
"Bau alkohol. Pria ini pasti habis minum dan mabuk, bahaya juga kalau menyetir sendiri," batin Yusuf.
Pria itu, Lee Jeong Tae. Pria yang menyukai Aminah sejak tiga bulan lalu. Ternyata, Jeong Tae memahami Yusuf kala itu, tapi Yusuf tidak mengenal siapa itu Lee Jeong Tae. Karena selama ini mereka belum pernah bertemu.
"Kau tau, aku mencintai seorang wanita yang sangat cantik. Dia seorang muslim, berhijab dan sangat bagus attitudenya. Ahh, aku sungguh mengangguminya, hingga aku bisa mencintainya," ungkap pria itu merangkul Yusuf.
"Kau mau tau siapa dia? Lihatlah, aku pernah berfoto dengannya. Dia cantik, bukan? Tapi sayang, dai sudah mencintai pria lain, payahnya aku ini…. Mina... saranghae,
*na*neun geuleul neomu salanghanda..." Jeong Tae semakin tak terkendali.
__ADS_1
"Aminah?"
"Dia, Jojo? eh, Jenong, eh bukan! siapa sih sulit banget namanya. Aku harus mengantarnya pulang, pasti ada kartu identitasnya di sakunya," batin Yusuf mencoba merogoh saku Jeong Tae guna menemukan kartu identitas.
Saat mengetahui alamat rumah Jeong Tae, Yusuf segera mengendarai mobil mewah itu dengan cepat dan membuka google map untuk mencari jalan yang benar. Sampailah di depan rumah yang amat besar dan menjulang tinggi. Rupanya, Jeong Tae ini anak konglomerat di sana. Dengan sempoyongan Yusuf memapah Jeong Tae masuk ke rumahnya.
"Tuan Muda?"
"Siapa anda?" tanya seorang asisten rumah tangganya di sana.
Yusuf menjelaskan jika dirinya adlah temannya, ia terpaksa berbohong karena tidak mungkin mengatakan jika ia adalah saudara dari perempuan yang Jeong Tae sukai. Orang tua Jeong Tae juga sedang di rumah, mereka menyambut Yusuf dengan hangat. Ucapan terima kasih juga di ucapkan oleh Ibu Jeong Tae berkali-kali. Karena sudah terlambat pulang, setelah merebahkan Jeong Tae ke kamarnya, Yusuf berpamitan dan menitip salam untuk Jeong Tae ketika sadar nanti.
"Maaf, siapa namamu?" tanya Ibu Jeong Tae. "Maksud saya, jika nanti Jeong Tae sadar, saya bisa mengatakan jika kamu yang membawanya pulang," imbuhnya.
"Katakan kepada Jeong Tae, gedung nomor 56 lantai 2 unit 12, permisi," pamit Yusuf.
Dunia memang tak seluas itu jika kita berjodoh dengan orang tersebut. Di luasnya Korea saja Yusuf bisa bertemu dengan Jeong Tae yang sedang mendekati Aminah. Padahal Aminah jarang sekali membicarakannya. Lalu, seluas kota Seoul juga Yusuf juga mampu bertemu dengan Min Ah, Bona dan juga Senior O. Selaku generasi muda orang tuanya.
"Hari ini aku lelah sekali, dua jam lagi aku harus bekerja. Sebaiknya aku rebahan dulu dan mengerjakan tugas rumah lainnya. Aku yakin Hamdan sedang mendengkur sekarang." gumamnya.
Ternyata Yusuf lupa jika hari itu Raditya datang ke rumahnya. Ia sudah sangat lelah, lapar dan juga bau muntahan Jeong Tae di jaketnya. Di posisi itu, pasti suasana hatinya sedang buruk, di tambah lagi dirinya telat sholat ashar karena mengantar Jeong Tae. Ketika membuka pintu, Yusuf malah melihat Raditya dan Aminah sedang uwu-uwuan nonton kartun pororo di ruang tengah.
"Assalamu'alaikum…." salam Yusuf ketika membuka pintunya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Raditya dan Aminah bersamaan.
Pandangan mata Yusuf seketika menjadi datar, ia melihat televisi, kemudian melihat mereka berdua yang sedang menikmati omellet berdua. Itu Yusuf ulang-ulang sampai dirinya geli sendiri.
"Aku benci pikiranku, pandanganku dan suasana hatiku saat ini. Tak bisakah kalian kalau pacaran jangan di rumah ini? Pergi sana ke rumah Ayah!" ujar Yusuf seperti sudah tak berdaya untuk bicara.
__ADS_1
"Halah, lihat saja nanti. Jika kau dan pemilik liontin itu jatuh cinta. Aku sumpahi kamu gengsi dengan perasaanmu dan tersiksa sendiri," Aminah memang tak bisa di saring bicaranya.
Itu membuat Yusuf semakin kesal dan memutuskan untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mencuci jaketnya yang bau itu. Selesai mandi, Yusuf kembali ke luar dari kamarnya melewati mereka berdua. Karena malas lama-lama di dapur, Yusuf meminta Aminah untuk membuatkannya kopi.