Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 201


__ADS_3

"Silahkan, apa yang ingin Anda sampaikan." ucap Airy.


"Sebenarnya, saya kemari ada hal lain yang ingin saya bicarakan dengan Pak Raihan. Kebetulan Bu Calista yang menyambut saya, jadi saya ingin bicara masalah pribadi saja dengan, Anda. Bagaimana?" kata Hans.


"Mohon maaf, ini waktunya kerja. Dan ini di kantor, tidak tepat jika melakukan perbincangan di luar masalah pekerjaan. Dan lagi, saya tidak tertarik dengan, Anda. Saya sudah bersuami." tegas Airy.


"Tapi, bukankah suamimu hilang? Bisakah kita yang tak se iman ini memiliki jadi se amin?" goda Hans.


Airy menghela nafas panjang, dan membalas godaan Hans, "Tidak!"


Jawaban singkat yang membuat Hans semakin tertarik dengan Airy. Tapi, Airy juga masih harus kontrol emosi, mengingat Hans ini adalah Mitra usahanya saat ini. Airy juga mulai risih, ketika Hans mulai menggodanya lagi.


"Andai saja dulu saya mau di jodohkan dengan, Anda. Pasti kita akan menjadi sepasang suami istri muda yang sukses. Bukan begitu, Bu Calista?"

__ADS_1


"Hm, sudah saya tegaskan, bukan? Kalau yang ingin di jodohkan dengan Pak Hans ini, adalah adik saya, Naira. Bukan saya." ungkap Airy.


"Ayolah, kita ini hidup di Ibukota, tak ada salahnya jika kita mencoba. Lagian, suamimu juga nggak tau, 'kan?" ucap Hans.


"Karepmu!" pekik Airy, sambil memainkan ponselnya.


"Jika tidak ada kepentingan lain, bisa dong saya permisi duluan. Ada hal penting yang harus saya kerjakan. Permisi!" Airy pergi begitu saja.


"Kamu yakin, belum mengingat semuanya, Nan? Lebih baik, kamu mulai tinggal saja di rumah istrimu, siapa tahu ingatanmu perlahan akan pulih. Kasihan juga 'kan mereka." saran Lulu.


"Aku hanya ingat, ketika aku kuliah di Kairo, Lu. Dan mengenai istriku, aku juga mengingat namanya, tapi tidak dengan kisah kami." jelas Adam.


"Perlahan tapi pasti, Mas Adam. Aku akan mengembalikan ingatanmu, walaupun aku harus menjadi wanita penghiburmu, aku siap melakukannya." batin Airy.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," salam Airy, dengan senyuman manis terukir di wajahnya.


"Wa'alaikumsalam, eh Bu Calista. Kalau begitu, saya tinggal dulu, ya. Assalamu'alaikum."


Lulu pun meninggalkan pasangan suami istri itu. Dengan wajah sumringah, Airy membuka bolu yang ia buat sendiri. Airy sangat ingat saat itu, Adam jatuh cinta dengan Airy karena bolu yang ia buat.


"Mas Adam belum makan, 'kan? Aku sengaja bikin bolu pandan kesukaan, kamu. Semoga lidah Mas Adam nggak berubah, ya. Karena kalau mau masakan, Mas Adam kan tahu sendiri, aku belum pinter banget, jadi aku bikinin bolu, deh. Di coba, ya." ucap Airy menyuapi Adam dengan sangat telaten.


"Terima kasih, ya. Kamu sudah mau sabar menunggu kesembuhan ku, aku yakin semua ini sulit bagimu, bismillah dan tetap yakin." tutur Adam membelai wajah Airy.


"Aku yakin, dia ini adalah belahan jiwaku. Membelai nya seperti ini, membuat jantungku berdegup sangat kencang. Bodoh sekali jika aku tidak berusaha mengingat semuanya." batin Adam masih membelai wajah Airy dengan lembut.


Kala itu, sengaja Rafa di asuh oleh orang rumah, termasuk Doni. Itu semua Airy lakukan, supaya bisa memiliki waktu bersama dengan suaminya. Semakin dekat dengan Adam, Airy yakin jika semakin cepat juga ingatan suaminya akan pulih.

__ADS_1


__ADS_2