Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 325


__ADS_3

"Rasa apa ini?" batin Aminah melirik ke arah Raditya.


"Ambyar tenan, roso ne nambah sesek. Jantung koyo rep ngeblok ngene, ndes!" batinnya lagi, ia terus saja ngedumel tanpa bersuara.


(Ambyar sekali, rasanya nambah sesak. Jantung seperti akan meletus gini, ndes!)


Sampai di depan lift, mereka masih diam-diaman. Raditya masih saja salah paham menganggap bahwa Aminah menjadi diam karena melihat orang ciuman di pinggir jalan. Akan tetapi, Aminah sendiri merasa kalau ia masih bingung dengan perasaan yang baru saja ia rasakan. Melihat leher Raditya beberapa waktu lalu, membuat jantungnya berdegup kencang. Aminah tahu jika itu tidak baik atau bisa menimbulkan zina mata, zina pikiran dan zina hati. Tapi yang masih ia bingungkan, perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan itu.


"Kamu kenapa jadi diam gitu, sih? Nggak enak tahu kalau kita diam-diaman kayak gini. Nanti yang ada, orang di rumah mengira kalau kita ada sesuatu." Tanya Raditya mematahkan keheningan.


"Bang Dit, enggak akan tiba-tiba menciumku, 'kan?" tanya Aminah polos.


"Astaghfirullah hal'adzim! Mana ada! Dosa tau, belum jadi mahram juga!" seru Raditya menyentuh bibirnya sendiri.


"Kalau di drama... ah enggak! Sebaiknya kita jangan bahas ini lagi!" Aminah semakin tidak jelas.


"Hah? Kamu sehat, 'kan?" Raditya masih bingung.


"Bang Dit pikir aku gila? Hah? Ya aku sehat lah!" bentak Aminah.


"Alhamdulillah, kalau sudah bentak-bentak gini, berarti dia Aminah. Haha, hampir saja jantungku copot," ucap Raditya mengelus dadanya.


Sampailah mereka di rumah Kabir. Di sana, Ceasy sudah menyiapkan beberapa makanan untuk mereka makan malam. Namun, di rumah itu.. baik Aminah dan juga Raditya tidak melihat Yusuf, Hamdan dan juga Falih. Ternyata, mereka belum pulang, mereka masih menikmati indahnya malam di Korea.


"Assalamu'alaikum," salam Aminah dan Raditya bersamaan.


Kali ini, benar-benar tidak biasa yang di rasakan Aminah. Meski sering mengucapkan salam bersamaan, Aminah tidak pernah merasakan jantung berdebar seperti saat ini.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ayo masuk!" jawab Kabir.

__ADS_1


"Falih, Yusuf dan Hamdan belum pulang. Kalian makanlah dulu, besok tante akan bawa kalian ke rumah makan Om Jamil dan Tante Yoona. Kalian masih lama kan di sini?" Ceasy nampak gembira menyiapkan masakan halal alasan Korea di meja.


"Mungkin dua hari lagi kita pulang Tante. Sekolah Aminah sama anak cowok kan beda, jadi dua hari lagi harus masuk sekolah," jawab Aminah.


"Oh, kalian beda sekolah, ya. Ya nanti kamu pulang sama siapa ini?" tunjuk Ceasy.


"Radit tante," jawab Raditya.


"Oh Radit, temennya Raihan, ya?" sahut Kabir.


"Iya, Om. Kami teman waktu nyantri dan sekolah di Jerman, hehe," jelas Raditya.


"Kalau tidak salah... Kamu ini yang sering disebut kembarannya Raihan, 'kan?" tanya Kabir. "Waktu iitu, Kak Ais ernah bilang kalau Raihan memiliki sahabat sekaligus saudara laki-laki bernama Raditya di pesantren. Om juga dengar dari Papanya Raihan kalau sahabatnya itu juga sekolah bersama di Jerman. Bahkan rela menghabiskan uang simpanannya untuk kuliah di Jerman. Bukan begitu?" imbuhnya.


Raditya mengatakan jika dirinya memang sudah sangat akrab dengan Raihan. Ia menganggap jika dirinya dan Raihan memang saudara, persahabatan meraka juga bukan persahabatan biasa, jadi saat dirinya memutuskan untuk ikut melanjutkan pendidikannya di Jerman, itu bukan suatu beban karena dirinya juga mampu membayar kuliahnya.


"Banyak, Om. Alhamdulillah sekarang ada usaha sendiri, cuma jadi petani tapi hehehe," tawa Raditya sudah tidak canggung lagi.


"Wah, jangan salah itu. Petani adalah orang kaya yang sebenarnya, kalau sukses. Terus semangat ya untuk halalin gadis pesantren," bisik Kabir.


Mendengar kata gadis pesantren, Aminah menjadi tersedak. Raditya langsung cekatan memberikan air putih kepada Aminah. Melihat hal itu, Kabir dan Ceasy menjadi senyum-senyum sendiri. Mereka tahu, apa yang terjadi di antara anak hamba Allah yang masih sama-sama gengsi ini.


"Udah? Nggak papa, 'kan?" tanya Raditya.


Aminah mengangguk. Kabir dan Ceasy hanya menjadi penonton saja.


"Min!"


"Iya, Om?"

__ADS_1


"Geuleul joh-ahani?" pertanyaan Kabir membuat Aminah tak bisa berkutik. Secepat itu Kabir mengetahui apa yang belum Aminah sendiri ketahui perasaannya.


Raditya yang tak mengerti hanya menengok ke arah Aminah. Lalu, Aminah mengatakan jika ia menyukai kimchi buatan Ceasy.


"Geunyeoui gimchicheoleom?" goda Ceasy.


"Hehe, acar mentimun ini juga enak kok, Tente. Bang Dit, ayo di cobain deh acar timunnya." Aminah terus saja salah tingkah.


Melihat Raditya dibodohi, Yumna tidak tinggal diam. Ia pun ingin mengatakan apa yang sebenarnya dikatakan oleh orang tuanya kepada Aminah.


"Oppa, sampean ora pengen ngerti opo sik mbok di omongke Ibu ambi Ayah mau?" tanya Yumna si gadis Korea Jawa.


(Oppa, kamu ndak mau tau apa yang di bicarakan ibu sama Ayah tadi?)


"Yumna!" teriak Aminah.


"Mianhae (maaf)" ucap Yumna. "Sepurane Oppa, ora sido!" imbuhnya (Maaf Oppa, tidak jadi).


"Oke, aku selsai. Aku ke kamar dulu, ya. Oppa, mereka bilang kalau Eonni suka sama Oppa. Aku permisi dulu! Kabir, eh kabuur!" setelah mengatakan hal memalukan itu, Yumna tidak bertanggungjawab langsung kabur ke kamarnya.


Terdengar bunyi jangkrik di meja makan. Karena mengalami kecanggungan di sana, Ceasy pun pamit dengan alasan ada beberapa pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan saat itu juga. Begitu juga dengan Kabir, ia pamit untuk pergi ke tetangga sebelah membahas tentang konsumen baru di restorannya.


Kini tinggal Aminah dan Raditya di meja makan. Tatapan yang dalam dan senyuman yang menggoda Raditya terus melihat ke arah Aminah.


"Ke-kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aminah gugup.


"Nikah, yuk!" goda Raditya.


Mendengar kata itu, Aminah langsung masuk ke kamar dan meninggalkan Raditya sendiri di meja makan. "Lah, bercanda, Min! Kok di tinggal akunya? Aminah!" teriak Raditya melanjutkan makannya.

__ADS_1


__ADS_2