
Assalamu'alaikum, Hansel.
Ucap Mita.
Raihan membuka pintu, lalu mempersilahkan Mita untuk masuk. Ternyata, Mita telah membawakan makanan yang sengaja ia masak sendiri untuk, Raihan.
"Untukmu," kata Mita, sembari memberikan rantang imut berbentuk doraemon kepada Raihan.
"Jadi ngrepotin, nih." senyuman Raihan membuat jantung Mita berdebar.
"Enggak, kok. Pearl di mana?" tanya Mita basa-basi.
"Dia, sedang tidur siang. Kamu ... nggak kuliah?" tanya Raihan kembali.
"Aku? Haha, aku bolos, hari ini nggak enak badan. Eh, maksudku, pagi tadi." alasan Mita, hanyalah ingin bertemu dengan Raihan.
"Oh, iya Hansel. Bagaimana, keadaan adikmu di Jawa?" imbuhnya.
__ADS_1
"Aku lebih suka, kamu memanggilku dengan nama Indonesiaku. Alhamdulillah, adikku sudah sehat. Anaknya laki-laki.
"Sudah, ya. Aku sibuk hari ini." Raihan, ingin Mita cepat pergi dari rumah.
Meskipun itu di luar negri, tapi Raihan adalah seorang muslim. Ia masih teguh, dengan akhlak yang ia miliki, untuk tidak berlama-lama duduk sebangku dengan perempuan yang bukan atau belum menjadi mahram nya.
"Kenapa, sih. Raihan, sepertinya tidak mau aku selalu dengan dengannya." gumam Mita, berjalan menjauh dari rumah Raihan.
"Karena, dia seorang muslim. Kamu harus mengetahui hal itu, agama nya sangat kuat. Seorang muslim, pasti tidak ingin berlama-lama di samping orang yang belum mahramnya. Apalagi, hanya ada kalian berdua dirumahnya." sahut Raditya tiba-tiba muncul.
"Wa'alaikumsalam, Radit! Kamu bikin aku kaget, deh." Mita mengusap-usap dadanya.
"Tapi, aku menyukai Raihan sudah sejak lama, Dit. Gimana dong?"
"Aku juga ingin, menjadi belahan jiwanya kelak," harap Mita.
"Hahaha, kalau begitu, kamu harus lapangkan dada. Raihan, dia tidak ada keinginan untuk menikah muda," jawab Raditya.
__ADS_1
Jika begitu, Mita akan berusaha lebih keras lagi. Supaya, Raihan bisa menerima cintanya. Sebaliknya, doa Raihan hanya untuk keluarganya, soal pasangan, ia hanya bisa berharap, Allah mendatangkan jodohnya di waktu yang tepat. Di saat, dirinya sudah mampu menjalankan tugasnya sebagai anak lelaki, dan seorang kakak yang baik.
"Ya Allah, aku memiliki adik 10, yang sudah menikah hanya 1. Belum lagi, adik dari saudara sambung Uti. Aku adalah kakak tertua diantara meraka, bimbinglah aku selalu di jalan-Mu, Ya Allah." hembus Raihan, memejamkan mata.
1 bulan berlalu, Airy dan Adam masih enjoy menjalani kehidupan sebagai orang tua baru. Semenjak memiliki anak, bukan hanya Hafiz, bahkan Ustadzah Ifa juga sering atang ke rumah. Hafiz sangat menyayangi Rafa, begitu juga dengan Ustad Zainal dan istrinya.
"Mulai bulan depan, kamu akan bermain dengan, Umi Ifa dulu ya, Nak. Mama akan bersiap cari ilmu lagi." bisik Airy sambil mengganti baju Rafa, yang baru selesai mandi.
"Jadi nih, nerusin kuliah?" tanya Adam, memeluk Airy dari belakang.
"Jadi, dong. Dengan begitu, nanti aku bisa menjadi ibu sekaligus istri yang mampu dalam segala hal." jawab Airy.
"Jangan memaksakan diri, tapi Mas akan jauh lebih bahagia, jika kamu menikmati nikmat yang Allah beri. Apapun yang menurutmu bagus, monggo, Mas akan dukung." tutur Adam.
"Ada Mbak Ifa juga kan? Siapa tau bisa mancing dia buat memiliki anak sendiri, pahala jangan di tolak. Asal, kasih sayang dari kita untuk Rafa, tidak berkurang." tukas Airy.
Mungkin, karena sudah menjadi orang tua. Airy bisa lebih dewasa dari sebelumnya. Ia juga terlihat sangat anggun dalam berpenampilan juga. Adam pun semakin mencintai dan menyayangi istrinya itu.
__ADS_1