
Hari kedua di Korea. Membuat Aminah semakin merasa tak nyaman dengan perasaannya. Yusuf meminta Aminah dan Raditya untuk pulang terlebih dahulu. Agar mereka dapat menyelesaikan perasaannya masing-masing. Sedangkan Trio lestari (Yusuf, Hamdan dan Falih) mereka masih ingin menikmati liburan di Negara gingseng itu.
"Hari ini? Kenapa kalian mau pulang? Saudara kalian yang lain masih ingin di sini loh! Nggak betah ya tinggal sama Ayah Lek?" ujar Kabir. Ayah Lek sebutan baru dari Aminah untuk Kabir.
"Bukan gitu, Ayah Lek. Besok aku akan masuk sekolah, dan Bang Dit mau kembali ke Malang, begitu!" jelas Aminah setengah-setengah.
"Sebenarnya aku masih betah di sini, kok, Om. Tapi emang aku harus balik ke Malang dulu, ada beberapa hal yang harus aku urus, hehe. Sudah lama juga aku ninggalin Malang soalnya," sambung Raditya.
"Ya sudah kalau gitu. Nggak papa kali, Yah. Biarin aja mereka pulang, nanti kalau ada waktu pasti mereka main ke sini lagi. Iya, 'kan? Jangan kapok-kapok ya main ke Korea, nanti biar Ayahnya Hamdan yang antar kalian ke Bandara," ucap Ceasy.
"Oh, nggak usah. Biarin kami berangkat berdua saja, Tante. Terima kasih," sela Raditya.
Seketika jantung Aminah kembali berdegup. Apa yang harus ia lakukan ketika berangkat pulang hanya berdua. Ada niat tersendiri kenapa Raditya menolak di antar oleh Kabir. Ia ingin menuntaskan rasa yang tertunda itu dengan Aminah.
-_-_-
Sementara trio lestari sedang tidur siang, Aminah dan Raditya silakan berangkat ke Bandara. Beberapa oleh-oleh juga sudah ia bawa untuk orang rumah. Ke Bandara, mereka mengendarai taksi. Di taksi pun mereka masih diam saja, Raditya sibuk dengan musik yang di dengarnya, dan Aminah sibuk dengan lamunannya.
Sesampainya di Bandara, dengan santainya Raditya menawarkan diri untuk membawakan barang-barang milik Aminah. Dalam hatinya, Aminah bertanya-tanya, apakah Raditya tidak merasakan apapun ketika dirinya mengungkapkan isi hatinya? Itu saja yanga ada di otak Aminah saat itu.
"Uh, ada boneka lucu. Bisakah kita beli itu?" tanya Aminah melihat Claw Machine.
"Kau lebih lucu dari boneka itu, nanti kita beli di Malioboro sepuas hatimu!" ucap Raditya.
Deg!
"Apa lagi ini? Dia bilang aku lebih lucu dari boneka saja, sudah jantungan begini. Gimana kalau dia.... Ahhh, Ya Allah, aku kenapa? Gila, kah?" racau Aminah dalam hati.
Penerbangan akan berangkat sebentar lagi, segera Aminah dan Raditya masuk ke pesawat dan menyamankan diri duduk manis di bangku. Ketika Aminah sedang membuka novelnya, Raditya menyentuh lengannya menggunakan ponselnya.
__ADS_1
"Ada, apa?" tanya Aminah.
"Tentang kemarin...." kata Raditya terpotong.
"Jangan di bahas!" sela Aminah.
"Kenapa?" tanya Raditya.
"Aku malu, kurang jelas? Sudah jangan di bahas, lagi pula ada hati yang Bang Dit jaga, bukan?" hardik Aminah. "Jangan bikin aku patah hati ketika baru menyukai lelaki! Kesel, deh!" lanjutnya.
"Kamu mau nggak, nikah sama aku?" tiba-tiba Raditya mengucapkan itu.
Tentu saja membuat Aminah ternganga untuk kesekian kalinya. Ia bahkan belum melupakan ajakan nikah kemarin, sekarang tambah ia harus terbebani dengan ajakan nikah yang kedua.
"Jangan mengolokku dengan ajakan menikah. Aku punya perasan, Bang Dit!" ketus Aminah.
"Aku serius," mata Raditya memang tak bisa berbohong, ia mengungkapkan perasaannya.
"Cintamu tidak bertepuk sebelah tangan. Hati yang aku jaga itu, adalah kamu. Sejak kapan, dan bagaimana cinta itu terbentuk, aku juga tidak tahu. Tapi, setiap malam, pikiranku hanya dipenuhi oleh sikapmu, namamu, dan semua tentangmu. Jadi, dari pada kita terus terjerumus dalam dosa karena zina pikiran, bagaimana jika kita menikah?" ucap Raditya.
"Aku masih sekolah, bagaimana kalau kita... em pacaran halal dulu, kita jalani dulu saja. Gimana?" usul Aminah.
"Pacaran halal itu hanya menikah. Aku tidak mau pacaran seperti yang lain," jelas Raditya.
"Kenapa? Bahkan kita pacaran juga tahu aturan, bukan? Kita mamantapkan rasa dulu, Bang!" seru Aminah.
"Aku tidak ingin menambah dosa dengan pacaran. Akan aku buktikan keseriusanku. Karena aku benar-benar mencintaimu, aku akan datang ke rumahmu dan menanyakan hubungan kita selanjutnya kepada orang tuamu." tukas Raditya memakai earphone nya kembali.
Pembicaraan selesai, mereka kembali saling terdiam. Meskipun sedikit sesak di dada karena Aminah menolak untuk diajak serius, tapi Raditya sudah merasa lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya. Begitu juga dengan Aminah, Ia tak lagi salah paham tentang siapa hati yang saat ini dijaga oleh Raditya. Akan tetapi, ajakan menikahnya itu belum tepat bagi Aminah karena dirinya masih sekolah dan harus meneruskan pendidikannya ke jenjang berikutnya.
__ADS_1
Sekitar 7 jam 36 menit mereka sampai ke Jogja. Perjalanan kali ini tidak secepat kemarin, karena memang waktunya tidak mendesak. Selama 7 jam itu, mereka juga tak banyak bicara, mereka habiskan tidur dan makan di pesawat.
"Aku akan mengantarmu dulu." ucap Raditya menawarkan barang-barang Aminah.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Bang Dit pulanglah, ke Malang. Keluargamu menunggu, bukan? Aku bisa sendiri," tolak Aminah.
"Bahkan sekarang kamu menolak untuk di antar pulang? Kamu pulang dari Korea bersamaku, aku harus memastikan dirimu pulang ke pesantren dengan selamat, dong!" desis Raditya.
"Aku bilang nggak perlu ya perlu. Sebaiknya sekarang Bang Radit pesan tiket ke Malang, lalu belum pulang ke Malang, oke? Aku bisa pulang sendiri, makasih udah khawatirin aku!" nada Aminah berbeda dari sebelumnya, sedikit bergetar mungkin karena ingin menangis.
"Tapi..."
"Pulang!" bentak Aminah.
"Baiklah, aku akan cairkan taksi untukmu dulu," ucap Raditya masih dengan kelembutan.
"Nggak perlu! Aku, bisa sendiri, pulanglah!" tolak Aminah.
"Assalamu'alaikum!" salam Raditya terlihat kecewa.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
Terlihat dari jauh Aminah masih saja terlihat ketus. Raditya merasa memang seharusnya ia pergi terlebih dahulu. Beberapa waktu lalu, dia bahagia mendengar Aminah juga menyukainya, bahkan mencintainya. Tapi ia tidak menyangka jika akan membuat hubungan keduanya menjadi renggang seperti ini.
Tak lama setelah itu, Aminah mendapat taksi. Sebelum berangkat, ia meminta izin kepada sang sopir agar tak menghiraukannya karena dirinya hendak menumpahkan air mata yang sudah ia bendung sejak berpisah dengan Raditya. Beruntung sopir itu sangatlah baik, beliau seorang bapak-bapak dan menyuruh Aminah untuk terus menangis menumpahkan segala keluh kesalnya agar bisa meringankan bebannya.
"Kenapa to nduk, kok menangis?" tanya Pak sopir.
"Bapak ngertos to wonten dalem agami islam niku mboten pareng pacaran? Kulo remen sanget kalian lare jaler, wonten ngenten niku awak dewe dereng saget sesarengan. Menawi kedah tetep saget sesarengan niku pripun ngonten loh, Pak? Kulo bingung ting mriku, sakniki malah kulo kalian lare jaler wau dados salah tampi ngenten," terlihat Mainan masih menangis sesenggukan.
__ADS_1
(Bapak tahu kan kalau di dalam Islam itu nggak boleh pacaran? Aku mencintai seorang lelaki dan kami belum bisa untuk bersatu. Tapi kami ingin menjalani hubungan ini, itu bagaimana gitu loh, Pak? Aku bingung dan sekarang malah kita jadi salah paham kek gini)
Pada dasarnya pacaran sebagai sebuah bentuk sosialisasi dibolehkan selama tidak menjurus pada tindakan yang jelas-jelas dilarang oleh syari'ah. Yaitu pacaran yang dapat mendekatkan para pelakunya pada perzinahan. Lebih baik menghindari, karena sebaik dalam apapun pacaran, pasti akan ada saja melakukan zina, dan zina itu bentuknya banyak. Bukan berhubungan badan saja.