Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 377


__ADS_3

Sejak saat itu, Raditya masih terus berusaha meyakinkan Aminah melalui banyak orang, bahkan sampai Syakir dan Balqis pun tak luput dari Raditya memberi penjelasan. Sama saja, Aminah masih kesal dengannya, karena saat itu Raditya tidak mengejar Aminah ketika Aminah lari meninggalkan mereka.


Sore itu di cafe, Raditya mengajak Mayshita bertemu di sana. Tentu saja membicarakan pasal Aminah yang sulit ditemui akhir-akhir itu. Mayshita menyarankan ingin memberi Aminah waktu sendirian dulu. Karena dirinya juga harus fokus ke sekolahnya.


"Jadi, bersabarlah. Beri dia waktu untuk berpikir. Aku tau, kok, dia memang sedikit plin plan dengan hatinya. Tapi, yakinlah, jika hatinya hanya untukmu," jelas Mayshita sembari menyeruput coffe latte-nya.


"Kamu malah lebih dewasa dibandingkan Aminah. Kamu dan Aminah, lahir duluan siapa?" tanya Raditya.


"Kedewasaan tidak diukur dari usia kita, Mas Radit. Jadi, dalam waktu setahun itu, di pakai lahir Aku, Yusuf dan Aminah. Aslinya, Hamdan dan Falih itu lahir di tahun sebelumnya. Tapi karena memang kami hanya selisih beberapa bulan.. ya jadi seangkatan," jelas Mayshita.


"Jadi, siapa diantara kalian yang lebih tua?" tanya Raditya masih penasaran.


"Falih, tapi dia nggak mau dituakan. Jadi, posisi itu di ambil oleh Hamdan. Padahal Hamdan lahir setelah Yusuf dan Aminah," ucap Mayshita.


"Kok gitu?" tanya Raditya.


"Hamdan ini konyol, memang Ibunya hamil duluan dari Ami Aisyah dan Umi Ika. Tapi ketahuannya itu lama, setelah Ami dan Umi dinyatakan hamil. Lahirnya Yusuf dan Aminah juga kecepetan, jadi lahir mereka duluan. Kata Hamdan, tetap saja dia yang sudah merasakan duduk nyaman di rahim lebih dulu, gitu." jelas Mayshita.


Mendengar kisah dari Mayshita membuat Raditya tertawa. Betapa ributnya jika dibayangkan Hamdan ngotot pengen dipanggil kakak. Sedangkan dirinya memang lahir paling akhir diantara lima remaja itu. Hamdan tetap ngotot karena sudah menduduki dan bermain di rahim lebih dulu dari Yusuf, Aminah dan Mayshita. Padahal lahirnya juga duluan mereka.


"Haha, aku nggak bisa bayangin betapa konyolnya dia pas ngotot soal itu," tawa Raditya.


"Bukan lagi, dia memang paling heboh. Apalagi pas di singgung dirinya hilang selama tujuh tahun dulu. Pasti bikin ngakak nggak henti-henti, karena dirinya hidup di desa yang kumuh dan bermain dengan kera," Mayshita terus membongkar kekonyolan yang dimiliki saudara-saudaranya.


"Hilang? Oh iya aku pernah dengar itu dari Raihan. Kalau adiknya yang di Korea sudah di temukan sejak hilang tujuh tahun. Lalu, kalau Aminah dan Yusuf? Mereka katanya dekat sekali, ya?" ternyata Raditya masih penasaran.


"Kalau dibilang yang deket dengan Yusuf itu siapa, ya aku. Karena dari kecil kita udah banyak saingan dalam mengaji dan belajar. Tapi, kalau dekat secara batin, ya Aminah. Karena mereka se air susu, dan juga Aminah paling lemah di pelajaran agama, jadi dia nempel mulu dengan Yusuf," jelas Mayshita.

__ADS_1


Berbicara dengan Mayshita, membuat Raditya mengetahui semua sikap dan sifat Aminah yang belum ia ketahui. Jadi, ia bisa mengerti jika Aminah masih kesal dengannya karena cemburu dengan Nadia. Padahal diantara mereka (Raditya dan Nadia) sudah tidak ada hubungan apapun kecuali hanya alumni dari pesantren yang sama.


-_-_-


Hari demi hari berlalu, ujian sekolah semakin dekat. Falih dan Mawar juga sudah kembali ke Jepang setelah pertemuan keluarga, berkenalan dengan teman-teman Yusuf yang baru dan berkeliling jogja bersama. Mawar merasa puas liburan di Jogja.


Semua itu, tertulis dalam buku hariannya Mawar. Gadis bercita-cita ingin terjun ke dunia hiburan ini sangat suka mengarang cerita dan membuat sebuah karya seperti, novel, komik dan juga karikatur. Di Jepang sana, remaja seperti Mawar memang sangat di sokong oleh negaranya.


"Dua hari lagi ujian, jangan lupa puasa dan ikhtiar agar bisa lulus dengan nilai bagus," ucap Airy menyiapkan makan malam di rumah Yusuf.


"Iya, Kak...." jawab Yusuf dan Hamdan bersamaan.


"Lagian, sebentar lagi aku juga akan kembali ke Korea. Kak Airy sering-sering masakin aku ya, nanti aku kangen sama masakan Kak Airy di sana," ucapan manis Hamdan membuat Airy sedih.


"Uhh, jadi sedih. Kenapa nggak kuliah di sini saja, sih? Kan banyak juga Universitas yang bagus. Bisa kuliah bareng dengan Yusuf nantinya," usul Airy, ia belum tau jika Yusuf juga akan berangkat ke Korea.


Airy melirik ke arah Yusuf, raut wajahnya menjadi datar. Sejak awal memang Airy tidak setuju Yusuf pergi kemana pun, termasuk ke Korea.


"Tidak, dia tidak akan pergi kemanapun!" seru Airy membereskan rantangnya dan bersiap pulang.


"Kak… kenapa?" pertanyaan Yusuf menghentikan langkah kaki Airy.


"Kakak bilang tidak ya tidak. Berhenti membahas hal ini. Assallamu'alaikum." Airy langsung keluar meninggalkan Hamdan dan Yusuf.


Menyalakan mesin mobilnya dan segera pulang ke rumah. Kecewa, kesal dan rasa heran menjadi satu dalam benak Yusuf. Ia beranjak dari meja makan dan masuk ke kamarnya tanpa menyentuh makanan yang Airy siapkan.


"Cup! Makan dulu lah!" teriak Hamdan. Namun tidak didengar oleh Yusuf.

__ADS_1


Begitu juga dengan Airy, ketika sampai di rumah langsung masuk ke dapur dan mencuci tantang dengan tenaga ekstra. Kemarahan perempuan memang seperti itu, entah marah, kecewa atau sedang lelah, pasti mencuci piring seperti membanting piringnya. Adam yang sedari tadi sudah memperhatikan pun tak tahan melihat istrinya seperti itu. Ia mendekati dan menanyakan apa yang sebenarnya tau terjadi.


"Assalamu'alaikum, bidadariku...," goda Adam.


"Bidadari dari mana? Dari sawah?" jawab Airy.


"Kenapa, sih? Pulang-pulang kok langsung marah begini? Ada apa? Cerita dong dengan, Mas," Adam membelai kepala Airy dan menciumnya.


"Yusuf, dia mau ninggalin aku. Aku nggak


mau dia ninggalin aku, Mas," jawab Airy dengan suara bergetar dan tiba-tiba menangis. Adam langsung memeluknya, memintanya untuk cuci tangan dan duduk bersama membahas apa yang ingin dibicarakan oleh Airy tentang Yusuf.


Tak ada yang salah jika Yusuf mau ke luar negri. Tapi, Airy merasa jika dirinya berat melepas Yusuf tinggal sendirian di sana, sejak kecil Yusuf selalu bersamanya. Bahkan, setelah orang tuanya tiada pun Airy yang selalu bersama di samping Yusuf.


"Dan sekarang dia udah pura-pura sok kuat, sok dewasa. Bergaya mau kuliah di luar negri, aku nggak mau dia sendirian di sana, Mas. Siapa yang akan menjaganya, siapa yang akan memasak untuknya, siapa yang akan mencuci dan menyetrika bajunya, siapa juga yang akan merapikan lemari pakaiannya. Dia sendirian di sana, dan aku nggak mau dia sendirian, Mas...." ternyata, Airy masih menganggap Yusuf seperti ekornya yang selamanya akan ada di belakangnya.


Adam menatap mata dan wajah Airy dengan dalam. Dengan senyuman hangat dan sentuhan lembutnya di pipi, Adam menjelaskan jika adiknya itu benar-benar sudah mulai dewasa. Adam berharap Airy bisa memberikan kesempatan untuknya hidup mandiri.


"Hidup mandiri apa? Iya kalau kost masih di sekitar Jogja. Lah ini di luar negri loh, Mas. Ngga bisa! Aku nggak bisa biarin dia sendirian!" Airy masih saja ngotot.


"Sayang, hey. Dengarkan, Mas, dulu. Yusuf tinggal di samping apartemen Pak Lek Kabir, bukan? Ada Tante Ceasy, Om Jamil dan Tante Yoona juga ada di sana, mereka juga keluarga kita. Mereka yang akan menggantikan posisi kamu sementara di sana, Sayang," tutur Yusuf.


"Percayalah, Yusuf akan baik-baik saja. Dia anak yang sholeh, berbudi luhur, mengerti agama. Dia akan sukses jika kamu mau memberi restu untuknya, bukankah.. kamu adalah ibunya, hem?" lanjut Yusuf.


"Aku Ibunya? Iya, aku ibunya. Karena aku ibunya, itu mengapa aku melarangnya. Aku ingat sekali saat Ami nggak ada, dia memelukku, dia menyuapiku, mengantarku periksa ke dokter kandungan. Waktu Papa menyusul Ami juga, dia selalu memegang tanganku, tersenyum menguatkanku, tapi... aku juga tau kalau dia menyimpan kesedihan. Dia merasa akan sendirian, Mas."


Airy tak kuasa melanjutkan kenyataan pahit itu. Kehilangan orang tua memang sangat memukul di hati dan pikiran bagi seorang anak. Apalagi, orang tua hebat seperti Aisyah dan Rifky. Rasanya, mereka juga masih belum percaya jika pasangan ideal itu telah pergi untuk selamanya. Akankah, Airy akan mengizinkan Yusuf berangkat ke Korea?

__ADS_1


__ADS_2