
"Raka, segitu besarkah cintamu kepada Airy?Bahkan, Airy pun juga sudah punya suami, tetap saja kau masih mencintainya. Tak bisakah kau melihat aku yang ada di sampingmu ini Raka?" batin Maurin
"Emm Raka, hey! Kamu sedang apa? " tanya Maureen.
"Lagi baca buku, duh maksud aku, aku sedang baca artikel nih di ponselku. Kenapa? Ada hal yang penting kah? " tanya Raka kembali.
"Lagi mikirin Airy ya? Apa sih yang kamu suka dari Airy. Dia itu kan sudah bersuami, kamu nggak boleh mengharapkan dia lagi Raka! " kata Maureen dengan lembut.
Mendengar perkataan dari Maureen, Raka terkejut dan langsung pergi begitu saja. Perasaannya memang salah, cintanya memang tidak tepat, tapi hatinya memang untuk Airy. Hanya Airy. Ia bahkan sudah mencoba untuk melupakan rasa cintanya itu namun semuanya sia-sia.
__ADS_1
Disisi lain, Adam segera kembali ke pesantren sebentar, lalu berangkat lagi ke rumah sakit untuk menunggu istrinya. Suasana hatinya sedang buruk, itu karena Sari mengingatkan tentang Hafiz. Hafiz adalah putra tertua dari keluarga Adam. Namun, ia berbeda bapak dengan Adam dan Ustad Zainal. Hubungan mereka sebelumnya sangat baik, hingga dulu pernah berselisih faham, Hafiz pergi dari pesantren.
Agama Hafiz juga sangat bagus, mungkin bisa dikatakan lebih bagus dari Asam dan Ustad Zainal. Tetapi, hatinya sangat keras, ia tidak bisa memaafkan seseorang jika hatinya sudah merasa kecewa.
Karena sedang kacau, Adam hampir saja menabrak sorang pengguna jalan di jalur pejalan kaki. Beruntung orang saja Adam langsung gerak cepat, hingga tabrakan itu bisa terhindari.
"Innalillahi, Ya Allah Ya Rabbi, kenapa hatiku menjadi tidak karuan begini! " ucap Adam seraya keluar dari mobilnya menemui orang itu.
" Alhamdulillah Le, Simbah ora nopo-nopo, ora usah goroh. (Alhamdulillah Le, Simbah tidak kenapa-napa, tidak usah panik.) " ucap nenek itu.
__ADS_1
"Estu Mbah? " tanya Adam.
Nenek itu memberi wejangan kepada Adam, karena nenek itu tahu jika Adam sedang gelisah. Beberapa gambaran hidup juga di ceritakan oleh nenek itu. Beruntung Adam bisa menyerap wejangan dari Nenek itu, sehingga hatinya kini sangat lega.
Adam pun melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah sakit. Siang itu, Adam membawakan nasi padang kesukaan Airy, yang sebelumnya memang Airy pesan. Bukan hanya itu saja, bahkan Adam juga membawakan sedikit camilan untuk Ustadzah Ifa dan Rindi. Sampai di ruangan Airy, Adam melihat Airy sedang tertidur sangat lelap. Ia jadi tidak tega untuk membangunkannya. Semantara Ustadzah Ifa dan Rindi baru saja pulang karena tidak memiliki cukup waktu untuk menunggu Adam kembali.
"Assalamu'alaikum, maaf mau tanya Sus, dua perempuan yang tadi menjaga istri saya kemana ya? " tanya Adam kepada perawat yang kebetulan sedang bertugas mengecek infus Airy.
"Wa'alaikumsalam, sudah pergi Pak, baru saja kok. Dan Ibu Airy juga baru saja istirahat, mohon untuk tidak mengganggu istirahat pasien ya Pak, terima kasih." Jawab perawat itu pergi.
__ADS_1
Memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur adalah hal yang indah bagi Adam. Ia tidak menyangka jika dirinya memiliki istri seperti Airy. Gadis yang baik, tidak neko-neko, tidak tergiur dengan duniawi yang terlalu berlebihan, dan bahkan mampu menjaga martabat nya sebagai seorang istri. Adam pun membelai pipi Airy dengan sangat lembut. Lalu ia berbisik, "Shukraan lak 'azizati , 'ana haqana 'ahbik."