Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 141


__ADS_3

"Keluargamu terlalu banyak sayang, aku jadi ndak hafal semuanya. MasyaAllah," ucap Adam masih bingung.


"Yang jadi masalahnya, kenapa mereka pada nggak mau ngurusin bisnis keluarga?" tanya Adam membelai pipi Airy.


"Ya karena ndak mau ribet aja mungkin. Lebih baik jadi diri sendiri, dan berdiri di atas kaki sendiri ye kan hahahaha, aku pusing kalau ngurus ginian. Mas aja yaaa," celetuk Airy dengan santai.


"Sttt, kita bahas besok lagi ya, pengen bobok dipeluk dari belakang," pinta Airy dengan nada manja.


Adam pun menuruti permintaan Airy itu. Iya lah! Lelaki mana yang tidak mau memeluk pasangannya dari belakang. Itu suatu keindahan saat tidur bersama pasangan di kamar. Adam terus saja menciumi bahu Airy dengan lembut.


"Dengar, apapun yang terjadi, kamu dan calon anak kita ini pasti bisa melewati ujian ini bersama-sama," bisik Adam sambil mengusap-usap perut Airy.


"Ujian yang mana dulu ini? Karena usaha lagi down, apa kita dapat rezeki nomplok?' tanya Airy.

__ADS_1


" Kita pikirin besok aja, hayuk kita bobok dulu. Jangan lupa berdoa terlebih dahulu."


Mereka pun tertidur, di sisi lain, Akbar dan Fatim masih bingung membahas perusahan yang akan di pegang Airy itu. Akbar hanya khawatir jika Airy belum bisa meng-handle semuanya, karena Airy masih terlalu muda, dan belum mengerti tentang perusahaan keluarga.


"Terus bagaimana Bang?" tanya Fatim.


"Airy dan suaminya harus tinggal di Jakarta. Kalau tidak, mereka tidak bisa mengurus semuanya!" jawab Akbar.


"Tapi Kak Ais aja bisa loh. Bismillah, semoga saja Airy bisa juga ya," ucap Fatim.


"Mungkin Mama, bukankah Mama juga seperti itu? Kalau Kak Ais itu nurun baru banget sama Abi, lemah lembut, penyayang, sabar nya itu loh. Kalau Airy MasyaAllah, aku sendiri sampai bingung dengan kelakuannya, untung sekarang setelah menikah udah agak mendingan," sahut Fatim dengan memberikan secangkir teh untuk Akbar dimalam itu.


"Kasihan suaminya hahahhaha." ucap Akbar dengan tertawa jahat.

__ADS_1


Sebaliknya dengan Raihan, di Kairo dunia masih tetang benderang. Ia pun mencoba menelfon Rifky hendak pulang tidak lama ini. Ia akan meminta izin secara langsung untuk lanjutan kuliahnya di Jerman bersama dengan salah satu sahabatnya, yaitu Raditya.


"Ndak di angkat loh! Masa iya jam segini udah tidur." gumam Raihan.


"Coba lagi deh, kali aja sedang ada tamu!" sahut Raditya.


Sekian kali Raihan mencoba menelfon Rifky, kali ini Rifky baru mengangkat telfonnya. Ternyata Rifky baru saja pulang dari rumah Keny karena memiliki keperluan yang penting.


"Assalamu'alaikum, ada apa Bang?" tanya Rifky.


"Papa darimana saja sih? Kenapa Abang telfon nggak ngangkat juga dari tadi? Papa baik-baik saja kan? Papa sehat kan?" tanya Raihan panik.


"Alhamdulillah, Papa sehat wal'afiat. Sehat bugar, tanpa ada kekurangan suatu apapun hehehe, ada apa sih? Kangen ya sama Papa yang ngganteng ini?'

__ADS_1


" Seminggu lagi Abang pulang Pa, jemput di bandara ya kalau bisa. Nanti Abang kabari lagi!" Raihan mencoba menahan air matanya. Bukan karena cengeng atau bagaimana.


Jika sudah menyangkut orang tua, semua anak pasti akan merasa tersentuh, apa lagi orang tua hanya tinggal satu-satunya saja. Raihan mencoba untuk tidak membuat Rifky khawatir dengan menelfonnya, untuk memberitahukan kalau ia akan pulang dalam waktu dekat, dan akan pergi lagi untuk melanjutkan belajarnya.


__ADS_2