Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 284


__ADS_3

Hujan di subuh hari memang buat orang enggan untuk beranjak dari tempat tidur, namun Airy beda, ia langsung bangun bersemangat untuk mengecek air seni nya menggunakan testpack. Laila terbangun, bergegas lari menyusul Airy, ingin melihat hasilnya.


"Gimana?" seruduk Laila tidak sabar.


"Hari ini harus ke rumah sakit, no debat!" ucap Airy panik.


"Ada apa, sih? Sepagi ini kalian sudah ribut, apa yang kalian ributkan ini?" sahut Aminah.


Airy menyembunyikan hasilnya, atau tidak nanti Aminah akan heboh sendiri. Setelah sholat subuh dan sarapan, segera Airy dan Laila berangkat ke rumah sakit tempat Keny bekerja. Sementara Aminah dan Mayshita di tugaskan membersihkan rumah dan menjemput Rafa di pesantren.


"Emang sepagi ini, Kak Aer mau ke mana, sih? Aku mencium bau-bau rahasia, hih curiga aku!" gerutu Aminah.


"Nggk usah berpikiran negatif, sebaiknya kita cepat bersihkan rumahnya. Setelah ini, kita masih harus jemput Rafa. Nanti kalau kayak Kak Airy pulang dan kita belum menyelesaikan tugas yang dia kasih, kalau nggak mau dia ngamuk," Mayshita mengingatkan Aminah untuk kebanyakan mencampuri urusan kakaknya.


"Udah tahu sendiri, 'kan? Kalau dia ngamuk gimana?" lanjutnya.


_-_-_-


Sampai di rumah sakit, mereka masih harus antri. Tidak lumayan banyak antriannya, jadi Airy masih tetap mau periksa. 20 menit berlalu, kini giliran Airy yang masuk. Semua sudah jelas, Airy hamil lagi, itu mengapa sebelumnya ia merasakan tidak enak badan, dan tidak datang bulan selama satu bulan lebih.


"Hamil?" Airy dan Laila mengatakannya bersamaan.


"Iya, selamat ya, Bu. Kandungan ibu memasuki minggu ke 6, bulan depan mohon kontrol lagi, ya... " ucap Dokter.


Airy dan Laila saling bertatap, mereka belum percaya jika Airy hamil lagi. Padahal, Airy belum mau kalau punya anak lagi. Masih seputar kehamilan, di dalam mobil, mereka sedikit berdebat soal calon anak itu.


"Ini salah Mas Adam, kenapa dia hamilin aku, sih!" kesal Airy.


"Ya terus dia mau hamilin siapa? Kamu kan istrinya, beb. Dahlah, jangan dulu kamu bilang ke dia, kita bikin kejutan untuk suami dan anakmu," usul Laila.


"Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyiban innaka sami'ud du'a," ucap Airy sembari mengusap perutnya.

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi, rezeki jangan ditolak. Cus ke Mart beli susu kehamilan," ajak Airy.


-_-_-_-_-


Sampai menjelang siang, Airy dan Laila belum pulang juga, Aminah sangat kesal karena dirinya sudah masak, tapi kakaknya belum pulang. Ia menggerutu terus tidak henti, sampai Mayshita menegurnya berkali-kali.


"Awas aja kalau pulang, aku akan smackdown, dia!" gerutunya.


"Janganlah, kita harus akur-akur. Oh iya, Yusuf dan yang lain udah pada pulang, 'kan?" tanya Maysihta mengalihkan pembicaraan.


"Katanya sih siang ini. Nggak tau deh," ketus Aminah.


Airy dan Laila pun kembali, mereka membawakan beberapa jajanan untuk orang yang di rumah. Melihat jajan yang Airy bawa, Aminah tidak jadi marah-marah lagi, ia malah bersemangat merebut jajan itu dari tangan kakaknya.


"Assalamu'alaikum, jawab dulu! Tanganmu, Min!" kata Airy memukul tangan Aminah yang celametan.


"Wa'alaikumsalam, buat aku, 'kan? Noh aku juga sudah masakin buat kalian," ujar Aminah tanpa rasa bersalah.


"Ada di kamar, bentar aku panggilin," jawab Mayshita.


Kehamilan Airy akan di umumkan kalau Adam sudah pulang dari luar kota. Sementara ini, tidak ada yang boleh tau, kecuali Laila yang memang saat itu mengantarnya periksa.


_-_-_-_


Dua hari berlalu, Adam dan Raihan memberikan kabar jika mereka sudah berangkat dari luar kota dan hendak pulang ke Jogja. Seperti biasa, pagi sampai siang terik matahari seperti menyengat kulit, tapi di sore dan malam hari akan hujan disertai petir.


Airy sedang duduk termenung di balik jendela ruang tamu, menatap ke luar dengan berpangku tangan. Ia baru saja selesai memberikan kado kejutan, untuk Adam, Rafa dan Yusuf yang ada di rumah itu.


Kesunyian sore itu terpecah ketika Yusuf duduk di sampingnya. Banyak hal yang ingin Yusuf katakan kepada sang kakak. Lelaki yang akan berusia 17 tahun itu sedang bermanja-manja, bersandar di bahu kakaknya. Menceritakan kisahnya di sekolah, pelajaran di sekolah, hingga kerinduannya kepada orang tuanya.


"Kak,"

__ADS_1


"Emm,"


"Pengen cerita, boleh?" ucap Yusuf menyandarkan kepalanya di bahu Airy.


"Boleh, dong. Mau cerita apa? Kakak siap menjadi pendengar setia," jawab Airy dengan mengusap pipi adiknya.


"Pacaran itu di larang, bukan?" ujar Yusuf.


"Iya, betul. Terus?" tanya Airy.


"Terus kenapa Allah memberikan perasaan itu kepada hamba-Nya di saat waktu yang belum tepat. Lalu, bagaimana cara menyikapinya?" tanya Yusuf.


"Kamu jatuh cinta? Pacaran?" goda Airy.


"Ya nggak pacarnya juga sih, Kak. Cuman aku ada seseorang aja tuh yang buat kagum. Tapi bukan jatuh cinta, aku tahulah hukum pacaran di agama kita. Masa iya sih, aku jatuh cinta. Cuma rasa kagum, aja. Beneran!" jelas Yusuf dengan nada bicara yang tak biasa.


Airy merangkul Yusuf, menceritakan banyak hal tentang orang tuanya waktu muda dulu. Mungkin Yusuf sendiri pernah mendengar kisah itu, tapi tidak sedetail yang Airy ketahui, dimana pernah diceritakan oleh Aisyah sendiri. Bagaimana hubungan mereka terjalin dengan landasan rasa kekaguman seseorang Rifky kepada gadis berseragam osis SMA di bus waktu hujan deras.


Terus saja Airy mengejek Yusuf yang sudah mulai dewasa itu. Ia tidak menyangka jika sang adik yang selalu bertengkar dengannya, berebut barang dengannya, kini sudah besar dan tumbuh dewasa seperti Ami-nya.


"Jangan gitu dong, Kak. Aku kan malu, cuma kagum aja, kok. Aku janji, sebelum aku sukses, dan bisa membahagiakan Kak Airy, Bang Rai dan keluarga besar kita, aku tidak akan menikah dulu," papar Yusuf.


"Ulu-ulu, biasanya juga nyebut nama. Kakak, Yusuf ini, Yusuf itu, sekarang udah pakai kata aku, hahahaha. Tapi, menikah itu ibadah loh, kamu jangan bicara seperti itu," tegur Airy.


"Dulu, Bang Rai juga bilang begitu, nggak mau nikah muda, mau berkarir dulu, nyatanya apa? Malah terlaksana nikah muda, 'kan? Yang terpenting, sekarang kamu belajar yang benar, yang rajin, belajar ilmu sampai ke manapun kamu mau, kakak akan selalu mendukungmu," tukasnya.


Sebenarnya dengan Raihan, Yusuf juga sangat dekat. Tapi ia lebih dekat dengan Airy, karena sejak kecil Airy lah yang selalu ada disampingnya. Untuk itu, dia memilih tinggal bersama Airy, namun tetap berbakti kepada Raihan.


Bagi Yusuf, Airy kini adalah Ibunya, ibu sambung setelah Aisyah pergi. Iya selalu berjanji tidak akan pernah membuat hati sangat kakak sakit, karena ulahnya. Ia juga tidak akan pernah membiarkan air mata sangat kakak jatuh untuk kesalahan yang ia perbuat.


Sore itu, mereka tertawa bersama. Memandang dan bercerita ketika mereka masih kecil. Tentunya ada Rafa juga di sana yang baru selesai sholat dzuhur yang kepepet. Rafa masih suka mengulur waktu sholatnya. Makanya, ia masih suka telah sholat.

__ADS_1


__ADS_2