
Tiga hari berlalu, pengantin baru juga sama sekali belum pernah merasakan malam pertama. Tak ada yang mereka lakukan di malam hati kecuali main game dan saling beradu tenggorokan. Namun, hubungan mereka tetap adem saja, karena bukan masalah yang besar saat memperebutkan hal yang tidak penting.
Malam itu, hujan deras mengguyur kota. Listrik padam, dan juga angin kencang yang membuat semua umat manusia malas gerak kemana-mana. Termasuk Airy dan Adam yang sudah masuk kamu setelah sholat Isyak, kebetulan Rafa juga sudah tidur awal.
Disusul Raihan dan Laila, mereka sama-sama memainkan ponsel masing-masing. Raihan mendengarkan tausiyah, sedangkan Laila memainkan game online.
"Yahh, lowbat." keluh Laila.
Raihan masih saja sibuk mendengarkan tausiyah, beribu tingkah Laila agar mendapatkan perhatian. Tapi tak kunjung membuahkan hasil juga. Raihan tetap cuek dengan ponselnya.
"Ya Allah, berikanlah hamba suami yang pengertian di saat batrai hp-ku habis," Laila masih berusaha.
"Ya Allah, kenapa lelaki di sampingku ini tidak peka sama sekali, sih? Jadi kangen sama mantan yang selalu perhatian, deh," sindirnya.
"Ya Allah…."
"Ya Allah…"
"Ya Allah…"
Gemas dengan Laila yang terus mengeluh, Raihan menutup ponselnya, kemudian mendekat kepada Laila. Kini, wajah mereka sangat dekat sekali, mungkin suara hela nafas aja, bisa mereka saling dengar.
__ADS_1
"Ka.. Kamu, mau nga.. ngapai?" tanya Laila gugup.
Tanpa menjawab apapun, Raihan hanya menatap wajah Laila di kegelapan malam. Cahaya yang redup membuatnya harus bisa memastikan, seperti apa wajah sang istri jika dari jarak dekat.
Seperti terdengar alunan lagu, Aisyah Istri Rosullah dan lagu India. Begitu tatapan Raihan yang tajam menusuk kalbu Laila.
"Terlalu dekat, Rai!" Laila mendorong sedikit tubuh Raihan yang menindihinya.
"Aku cuma mau lihat aja wajahmu dari dekat," ucap Raihan. (Hmm polos amat kau Bang).
"Ya jangan, dong!" seru Laila sedikit menjauh dari Raihan.
"Ngeyelan, dan sana tidur! Pokoknya jangan lakuin dulu, aku belum siap!" ketus Laila.
Padahal seperti malam biasanya. Bagi mereka, malam itu seperti malam panjang yang listrik tak kunjung menyala.
"Kenapa jadi nggak bisa tidur gini, sih?" keluh Laila.
"Raihan,"
"Emm"
__ADS_1
"Belum tidur juga?" tanya Laila. Laila masih sulit untuk memanggilnya Abang atau Mas. Jadi, perlahan ia akan membiasakan diri memanggil suaminya dengan sebutan Abang.
"Eh, maaf. Abang maksudku,"
"Kalau memang belum bisa, nggak usah di paksain. Santai saja," sahut Raihan menyalakan ponselnya.
"pinjam, dong..." pinta Laila.
"Apa?"
Laila menunjuk ponsel Raihan. Dengan sangat mudah, Raihan memberikan ponselnya begitu saja. Ternyata sama sekali tidak ada game di ponselnya. Namun, Laila mendapatkan beberapa foto masa kecil suaminya dan beberapa saudara-saudaranya.
"Haha, ini, kamu?" tanya Laila menunjukkan sebuah foto dirinya tengah nangis di jewer oleh Ruchan.
"Ih, buka-buka. Jangan, dong!" Raihan berusaha merebut ponselnya kembali.
"Haha, dasar cengeng. Pasti, dulu kamu anak bandel, ya? Ngaku!"
"Mana ada. Di keluarga ini, anak yang paling bandel itu, Airy. Tidak bisa di ragukan lagi. Kalau Aminah masih mending. Tapi, kalau Airy seluruh keluarga pasti ada saja yang menghukumnya dalam waktu satu hari," ungkap Raihan.
Raihan merentangkan tangannya, dan menempatkan kepala Laila di lengannya. Lalu, ia banyak menceritakan kisah masa kecilnya.
__ADS_1