
Setelah subuh, Airy kaget melihat Raihan sudah menunggunya dirumahnya bersama dengan Adam, mereka sedang duduk bersama Ruchan minum teh di waktu jam setengah enam pagi. Airy mengerutkan dahinya, memberi tanda jika ia sebal melihat Abangnya itu.
"Assallamu'alaikum," salam Airy melirik sinis ke arah Raihan.
"Wa'alaikum sallam warrahmtullahi wabbarokatuh,"
Airy langsung masuk dan bersiap-siap mengantar Yusuf kesekolah, karena jika dari rumah Ruchan jaraknya akan semakin jauh. Melihat Airy tidak menyapanya, Adam menjadi gelisah, sebelumnya ia sangat bahagia karena akan bertemu dengan Airy. Tetapi, melihat Airy baik-baik saja, hati Adam menjadi sangat lega.
Pembicaraan Raihan dan Ruchan sudah berbeda, generasi mereka juga berbeda maka Raihan mengajak Adam segera pamitan dan berangkat, agar tidak kesiangan sampai lokasi yang mereka tuju. Tetapi, niat itu mereka urungkan ketika melihat Airy dan Yusuf keluar dari rumah. Hari ini Raihan dan Airy absen sekolah, tidak perlu ditanya lagi. Walapun mereka tidak belajar sekalipun, otak mereka sudah cerdas.
Hanya saja mereka tetap memiliki kekurangan dalam bidang lain, contoh Adam yang tidak pandai dalam berolahraga, dan tidak fasih berbahasa Inggris. berbeda dengan Airy yang super aktif, dan sibuk bermain, sehingga ia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah kecuali mencuci bajunya sendiri dan memasak.
"Uti, Kakung, kita pamit dulu ya, Yusuf masih masuk sekolah minggu ini, Airy nanti langsung pulang kerumah Ami ya," pamit Airy.
"Nggak sarapan dulu?" tanya Ruchan.
__ADS_1
"Yusuf udah kok Kakung, Kak Airy yang belum, dan Yusuf paling malas jika menunggu Kakak makan. Disamping lama, dia makannya sangat banyak Kakung," ujar Yusuf.
"Aw, aw, sakit tau Kak," Jerit Yusuf karena di injak kakinya oleh Airy.
Semua yang ada disana pun tertawa, Raihan memberi kesempatan untuk Adam berpamitan dengan Airy dan mengobrol sebentar. Itu juga sudah ada izin dari Ruchan dan Rifky sebelumnya. Raihan pergi dengan alasan akan mengantar Yusuf kesekolah, sedangkan Ruchan akan masuk sarapan terlebih dahulu, karena ia akan ada acara dakwah bersama dengan Farhan di sebrang desa.
"Aku maunya diantar sama Kak Airy yang bisa seperti rosi Bang, Abang kan nyetirnya seperti keong, lama benget, telat akunya nanti," kesal Yusuf.
"Ini anak nggak bisa diajak kompromi lagi, Assallamu'alaikum semuannya," salam Raihan membungkam mulut Yusuf.
Airy sudah maksut dengan semuanya, ia pun mengajak Adam duduk ditaman kecil milik orangtuanya dulu saat masih kecil. Duduk di ayunan, dimana Aisyah dan Rifky juga mengobrol masa depan disana. Adam gugup, sangat gugup, sesekali melirik ke arah Airy yang sibuk membuka camilannya.
"Assallamu'alaikum warrahmatullahi wabbarokatuh,"
"Wa'alaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh, ada angin jenis apa yang membawa Ustad kemari? Apakah angin kangen? Kalau kangen mending jangan dititipkan ke angin, kasihan aginnya, mobat-mabit ra karuan nanti hehehe," goda Airy.
__ADS_1
"Ha?" Adam sangat malu dengan godaan Airy.
"Astaghfirullah, demi apa aku godain Ustad, siap-siap kena azab ini aku, hey... turun dari mana sifat tak tahu maluku ini Ya Allah," kata Airy dalam hati.
"Em, apa kabar Airy, aku dengar kamu sempat sakit kemarin, apa itu benar? Itu kenapa sampai kamu pulang kesini bukan?" Tanya Adam.
Mendengar kata-kata Adam yang terlihat serius khawatir membuat Airy tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahahaha, siapa yang sakit Ustadku, aku hanya kangen dengan adik-adikku yang disini. Aku juga menghindari pelajaran matematika, aku nggak suka pelajaran itu!" Ungkap Airy dengan senyuman.
"Jadi bukan karena aku? Aku nggak buat kamu kesal kan?" Tanya Adam semangat.
"Astaghfirullah hal'adzim, ingat dosa Ustad! Kita bukan mahram, nggak boleh dekat-dekat gitu ngobrolnya. Udah aku kamu aja nih, emm ," goda Airy.
Banyak yang Airy ceritakan tentang pesantren milik kakeknya itu, Adam sangat menikmati cerita Airy. Alasan Adam datang kerumah Ruchan juga sudah ia ceritakan, dia dan Raihan akan pergi keluar kota selama lima hari, lalu meminta Airy untuk tetap di rumahnya selama lima hari Adam dan Raihan keluar kota. Sebelum Raihan datang, Airy mengajak Adam naik kepohon kesukaannya yang kedua, berhubung pohon dirumahnya ditebang oleh tetangga, Airy masih bersyukur, karena pohon yang berada di dalam pesantren belum ditebang.
__ADS_1