Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 312


__ADS_3

Di rumah Raihan, Laila masih saja terlihat ketakutan. Raihan mempertimbangkan saran dari Yusuf untuk membawa Laila tinggal sementara di rumah Leah dan Ruchan sampai lahiran nanti. Karena di sana juga Leah dan Ruchan hanya tinggal berdua saja.


"Aku takut, Bang. Aku takut!"


Itu saja yang terus Laila katakan.


"Kita bersiap ke rumah Uti dan Kakung. Abang siapkan dulu semua barang kita yang akan di bawa. Tapi, mobil Airy di bawa oleh Yusuf. Hanya tinggal pic up saja, bagaimana?"


Laila tak masalah dengan apa mereka akan berangkat. Yang pasti, Laila ingin cepat pergi dari rumah itu agar tidak stres dengan bayangan boneka tanpa mata itu. Sebelumnya, Raihan sudah menghubungi Leah terlebih dahulu.


"Ayo kita berangkat!"


Semua barang keperluan di bawa menggunakan pic up. Raut ketakutan Laila juga semakin lama menghilang, ia hanya kaget saja.


"Aku hanya kaget saja, tak takut sekalipun dengan teror itu. Siapa yang kirim itu? Berani-beraninya dia mengusik kehidupanku!" ketus Laila.


"Tapi maksudnya apa, dan siapa di balik semua itu? Kenapa tiba-tiba?" pertanyaan yang sudah Laila jawab dari Raihan. Karena ia juga tidak mengetahui itu.

__ADS_1


Sesampainya di sana, kamar sudah di bersihkan oleh Leah dan Sera. Raihan mulai menceritakan kejadian paket itu. Bagi Leah dan Sera, itu bukanlah hal baru, karena sebelumnya mereka juga pernah mengalami hal semacam itu.


"Nama belakang kita sama, loh!" kata Sera mengurangi kecemasan Laila.


"Masa sih, Tante? Nama lengkap tante siapa memangnya?" tanya Laila.


"Sera Natalia Purnama, hehehe. Nama belakangmu juga Purnama, 'kan? Keknya kita pernah bahas ini, deh. Inget, nggak?" jelas Sera.


"Natalia? Um, maaf!" ucap Laila.


"Iya, Tante mualaf. Em, kamu jangan khawatir, semua itu pasti bisa kita atasi. Kalau boleh tahu, di mana boneka itu sekarang?"


"Yusuf, kenapa sih kamu mau menyelesaikan masalah ini sendiri? Kamu masih ada kami, kami ini juga orang tuamu, Nak!" ucap Ruchan dengan lembut.


"Iya, lagian ini juga teror Abangmu. Kita harus bekerja sama, oke boy?" timpal Leah.


"Kakung, Uti, Pak Lek dan semuanya di sini. Aku hanya tidak ingin kalian terlalu memikirkan masalah ini, selagi aku bisa menanganinya. Kalian semua sudah terlalu lelah menghadapi cobaan orang yang tidak suka dengan keluarga kita. Biarkan kami yang muda yang melakukan itu. Kami juga tidak akan diam kok jika tidak bisa menangani sendiri, pasti akan meminta bantuan kepada kalian yang lebih dewasa," ungkap Yusuf.

__ADS_1


"Abang sudah memiliki keluarga, begitu juga dengan Kak Airy. Aku selaku cucu yang paling tua di pesantren, harus mampu melindungi keluarga menggantikan tugas mereka berdua,"


"Falih, Hamdan, Mayhshita dan Amin.…"


"Woy, lah!" protes Aminah karena di sebut dengan nama Amin.


"Iya, Aminah. Kalian ini semua kan adikku, aku yang akan bertanggung jawab dengan kalian kedepannya. Aku harus menjadi teladan yang baik bagi kalian semua. Jadi, kakung, Uti... Yusuf minta restu, berikan kepercayaan kalian untukku, agar bisa membereskan masalah ini," tukas Yusuf.


Leah dan Ruchan meneteskan air mata. Yusuf ini memiliki jiwa pemimpin seperti Aisyah. Tidak ada salahnya jika mereka memberinya kesempatan untuk menjadi kakak yang baik. Namun, teror itu bukanlah hal yang sepele. Leah dan Ruchan hanya bridal ingin terjadi apapun dengan Yusuf kedepannya.


"Dulu kita memiliki pendekar wani perih seperti, Kak Airy. Lalu, kakak yang tanggung jawab seperti Bang Rai. Sekarang, kita memiliki pemimpin yang lembut nan tegas seperti Yusuf. Tak ada salahnya jika kita semua bekerja sama menuntaskan teror ini, betul apa betul saudara?" sahut Falih.


"Jadi, kita berlima siap menggantikan posisi kalian. Silahkan kalian menikmati masa tua dengan bahagia, dan untuk Bang Rai, Kak Airy juga silahkan nikmati keluarga manis kalian, hehehe," Hamdan juga tidak mau kalah.


"Setuju!" sahut Mayshita.


"Kita ini keluarga, kitab juga bukan anak kecil lagi. Jadi, berikan kita berlima ini kepercayaan Uti, Kakung-ku yang ganteng," kata Aminah.

__ADS_1


Pendidikan moral yang di ajarkan dari keluarga ini memang berhasil. Mungkin, ekonomi mereka lancar, keharmonisan keluarga juga hangat. Namun, mereka tetap di uji oleh gangguan orang luar. Akankah Raihan akan diam saja ketika adik-adiknya membahayakan diri?


__ADS_2