Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 358


__ADS_3

Malam hari, Gu mengintrogasi Raditya sebelum masuk ke kamarnya. Karena Yusuf menyukai ketenangan, semuanya mengalah untuk menggunakan satu kamar untuk berdua. Yusuf juga tak ingin banyak barang di rumah itu. Bahkan, Yusuf juga membuat aturan sepanjang rambut rapunzel dan selebar lapangan sepak bola yang di tempel di ruang tengah.


"Aku janji dah, kulkas aku yang menuhin," ucap Raditya.


"Hey, kita tidak kekurangan pangan yee…," kata Falih.


"Baiklah, aku akan memasak," ucap Raditya.


"Aku koki disini," timpal Gu.


"Em, kalau gitu… aku akan bersih-bersih rumah deh kalau pas libur," ucap Raditya.


"Itu ada di peraturan yang aku tulis, ada di nomor 56. Mohon baca baik-baik," sahut Yusuf.


"MasyaAllah, yo wis aku tak bawain kalian makanan setiap aku pulang kerja," ucap Raditya lagi.


"Buat apa makanan di kulkas kalau Mas Raditya beli? Apalagi setiap pagi dan pulang sekolah Kak Airy selalu menyiapkan makanan untuk kita semua," sahut Hamdan.


"Allahu Rabbi, terus aku harus patungan apa? Masa oya keluar masuk rumah gitu aja, sih? Ya aku merasa enak lah, mau kali selamanya hidup gratis begini…." Raditya mulai kesal.


Puas mengerjai Raditya, mereka akhirnya kembali ke kamarnya masing-masing. Yusuf masih senantiasa memandangi layar ponselnya, mencari-cari informasi tentang pelajaran yang mungkin bisa menambah ilmunya. Terdengar suara pesan masuk berkali-kali dari group chat, dilihat semuanya sedang membahas Yusuf yang putra pesantren.

__ADS_1


"Ini Fatur comel banget dah mulutnya. Udah dibilang jangan upload foto, malah dia kirim semuanya. Gini-gini ketua kelas pula, Fatur, Fatur. Siap-siap din besok banyak yang memandangku dengan tatapan aneh lagi," keluh Yusuf.


Pagi hari seperti biasa, kali ini Airy menambah 1 mangkuk untuk sarapan Raditya. Airy tetap melakukan rutinitas membuatkan sarapan dan makan siang untuk mereka, bahkan disaat dirinya sedang sibuk mengurus 2 balita.


"Sayang, jangan capek-capek, ah. Ini untuk makan siangnya mereka? Kan di kulkas mereka juga lengkap bahan makanannya, kenapa harus dimasakin terus?" tanya Adam sembari menyentuh bagi Airy.


"Aku Ibu mereka di sini. Anak lelaki nggak seperti anak perempuan, mereka akan boros di bahan makanan. Nanti di antara, ya. Mas mau keluar juga, 'kan?"


Adam mengangguk dan tersenyum. Semakin lama, Airy semakin dewasa, tak terlihat lagi Airy yang bandel dengan julukan si pembuat onar.


Sementara itu, Laila dan Aminah berangkat ke rumah Raditya. Tentunya baby Gehna dititipkan bersama Balqis, karena tidak mungkin membawanya. Mereka juga berangkat pagi-pagi sekali, bertemulah mereka dengan Falih dan Hamdan di depan gang samping pesantren.


"Assalamu'alaikum, kalian mau kemana?" sapa Hamdan.


"Hm, aku curiga...," ucap Falih.


"Nggak usia curiga, positif thinking saja ngapa?" sembur Aminah.


Tatapan Laila sudah berbeda dari sebelumnya, Falih dan Hamdan tak lagi mampu mencurigainya lagi. Mereka pun bergegas naik ke angkutan umum yang baru saja mereka hadang. Begitu juga dengan Laila dan Aminah yang lebih memilih naik angkutan umum.


Sesampainya di rumah Raditya, apa sekali Ayah dan Ibunya berasal di rumah. Laila mewakili Syakir dan Balqis, meminta Ibunya Raditya untuk membatalkan perjodohan itu dengan baik-baik. Jika Ibunya Raditya tetap menolak, terpaksa Laila akan memutus perjodohan itu secara sepihak.

__ADS_1


"Ya nggak bisa gitu lah, Mbak. Wong yang mau menikah saja Aminah, kok Mbak ini yang repot, sih? Memang, Mbak ini siapanya Aminah?" tanya Ibunya Raditya.


"Bu, kalau memang mereka mau membatalkan, ya sudah turuti saja. Lagipula, Aminah dan Raditya ini saling menyukai, apa salahnya jika Ibu merestui hubungan mereka, udah syukur mereka tidak kawin lari," sahut Ayahnya Raditya.


"Ini Tante-tante pengen aku bejek-bejek, dah. Dah tua, harusnya bisa mikir lebih luas lagi, ini malah ngotot, ngeyel, ngurat kek bocah. Pen aku gilas kek padi!" bisik Laila.


"Kejam!" seru Aminah berbisik juga.


Ayah Raditya merasa malu atas keras kepalanya istrinya. Beliau tetap menyetujui apa keputusan yang akan diambil oleh keluarga Aminah. Ayahnya Raditya juga mengatakan, jika dirinya akan merestui hubungan Aminah dan Raditya sampai kapanpun juga. Meski mereka tidak meminta restu padanya.


"Mas, kamu itu memang tidak sayang dengan Rasid. Jangan mentang-mentang Rasid itu bukan anak kandungmu, terus kamu seenaknya seperti ini!" protes Halimah, Ibunya Rasid ini memang diminta cekek.


"Saya akan menghargai keputusan Nduk Aminah. Kamu yang akan menentukan kebahagian di masa depan. Jadi, jika kamu dan Raditya ingin bersama, Saya akan menghargai keputusan kalian, asal jangan kawin lari, ya...." pesan Ayahnya Raditya.


"Bapak ini baik banget, pantas jika Bang Raditya juga baik hati. Pasti sifat dan sikapnya nurun dari Bapak. Terima kasih ya Pak, saya mewakili keluarga Aminah, sungguh minta maaf karena tidak bisa melanjutkan perjodohan ini," tutur Laila dengan sopan.


"Saya tidak akan pernah merestui kalian berdua. Jika kalian berani menikah tanpa persetujuan Saya, Saya bersumpah akan mengutuk kalian sampai ke anak turun kalian!" emosi Halimah sampai meledak-ledak, ia langsung masuk ke kamarnya.


Tentu saja membuat Ayah ya Raditya kalap, beliau langsung menyusul Halimah ke kamarnya, dan entah apa yang terjadi setelah itu. Munculah Rasid yang entah dari mana, Laila dan Aminah pamit kepada Rasid dan pergi begitu saja.


"Maaf, tapi dimana Ibu dan Ayahku?" tanya Rasid.

__ADS_1


"Mereka masuk ke kamarnya. Mungkin Ayahmu menenangkan Ibumu dulu, kami telah memutuskan perjodohan ini. Maaf, kami pamit dulu, Mas. Assalamu'alaikum." tegas Laila menyeret lengan Aminah.


Rasid langsung menyusul kedua orang tuanya ke kamarnya. Melerai perdebatan mulut yang memang sudah sering terjadi sejak pernikahan.


__ADS_2