
"Andai kamu tahu, Yusuf. Anak yang kamu tolong ini, adalah anak seorang Mafia. Jika suatu saat kalian berjodoh, pasti akan banyak konflik dalam kisah kalian." batin Clara.
"Tapi menarik juga, anak sholeh, dapat pasangan seorang cucu Mafia. Tapi, dari foto anak ini, nggak ada wajah orang Chinese. Apakah, kakeknya Mafia barat? Haha, ini sudah seperti novel saja. Baik-baik kamu, Yusuf!"
---------------------------------------------
Kelulusan tiba, Yusuf masih anteng diperingkat pertama dengan Candra berasa ditingkat ke dua. Meski begitu, Candra sudah tidak memiliki dendam apapun dengan Yusuf pun mengucapkan selamat kepadanya. Acara demi acara untuk perpisahan juga banyak dilakukan oleh siswa siswi di sekolah. Sampai waktunya satu kelas merayakan pesta sekolah di sebuah resto di dekat sekolah.
"Jangan lupa jam 8 ya. Harus datang kalian, kalau tidak.. jika kalian memiliki acara nanti, jangan harap teman sekelasmu akan datang, oke? Termasuk kamu Yusuf, aku ingin kamu menghadiri pesta ini, dadah.. sampai bertemu nanti malam...." ucap salah satu siswi sekelas Yusuf.
"Aku nggak janji ya. Karena pasti aku akan sibuk malam ini," ucap Yusuf.
"Yah... ayolah Yusuf. Sekali ini saja, dan ini pun perpisahan, masa kamu tidak ikut, sih?" ucap Jihan.
"Iya, kami dengar kamu akan ke Korea. Jadi, kita tidak akan bertemu lagi bukan setelah ini?" sahut siswa lainnya.
Semuanya membujuk Yusuf untuk ikut dalam pesta itu. Tapi, Yusuf sendiri tak ingin pergi karena ia sangat lelah saat itu. Tapi, ia juga tidak ingin melewatkan moment terakhirnya berkumpul bersama teman-temanya. akhirnya, ia pun menyetujui untuk ikut acara itu.
Waktu sangat cepat, tasyakuran atas nilai yang hampir mendekati sempurna milik Yusuf dan Hamdan selesai dan terlaksana dengan lancar sore itu. Setelah berbincang-bincang banyak dengan keluarga, Yusuf pamitan kepada semuanya untuk berangkat ke restoran dimana dirianya akan menghadiri acara kelasnya.
"Kamu nggak capek to?" tanya Airy.
"Aslinya capek banget, Kak. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah berjanji akan datang, Ini juga acara satu kelas, tidak enak jika aku tidak datang," jawab Yusuf.
"Kakak cuma tidak ingin kamu lelah. Kapan kamu akan istirahat, tak lama lagi juga kamu akan sibuk untuk berangkat ke Korea. Kakak hanya takut kamu sakit, Yusuf," Airy begitu mengkhawatirkan adiknya.
__ADS_1
"InsyaAllah, aku pulang lebih awal kok, Kak. Yang penting sudah datang aja gitu, biar ngentengin temen. Aku pamit dulu ya…." Yusuf berpamitan seraya mencium tangan Airy.
Karena acara di rumah sampai maghrib, Yusuf menjadi sedikit telat datang. Karena ia harus pulang lebih dulu, mandi dan persiapan hal lainnya. Bahkan yang membuatnya lama, ia mencari jaket yang lupa dipinjamkan oleh gadis bermata biru itu.
"Assallamu'alaikum, maaf ya aku telat," sesal Yusuf.
"Wa'alaikumsallam, santai saja, Bro. Asal kamu datang saja, itu sudah bagus, terima kasih sudah menyenggangkan waktu untuk kami," ucap Fatur.
Namanya juga anak muda, banyak sekali yang mereka bicarakan. Tak jauh dari rencana selanjutnya setelah lulus SMA. Terlihat Jihan dan Cindy sudah siap-siap untuk melancarkan aksinya. Malam itu, Cindy akan mengungkapkan perasaannya kepada Yusuf.
"Yusuf, kamu ditunggu oleh Cindy di atap. Kebetulan resto ini kan lantai dua, dan di lantai dua, Cindy ingin mengatakan sesuatu kepadamu," bisik Jihan.
Yusuf yang tidak mengerti dengan rencana mereka berdua pun naik ke lantai dua. Mungkin tidak ada suprise atau apapun di sana, tapi Cindy akan memancing perasaan Yusuf terlebih dahulu.
"Cindy, kenapa kamu memanggilku?" tanya Yusuf penasaran.
"Emm, iya, Pemandangan malam dari atas sini memnag indah, lebih tenang juga," ucap Yusuf menikmati semilir angin.
"Yusuf, ada hal yang ingin aku katakan kepadamu. Apakah, aku salah jika aku mencintaimu?" ungkap Cindy. "Tunggu! Kau jangan mengatakan apapun, aku memang mencintaimu, tapi aku tahu jika kamu tidak pacaran. Aku hanya mengungkapkan perasaanku saja," imbuhnya.
"Aku sangat mencintaimu, Yusuf. Sangat, sangat. Aku sakit hati ketika kamu dekat dengan wanita lain, bahkan aku sempat cemburu dengan saudarimu yang dari Jepang itu. Jujur, aku sedih saat kau memutuskan pergi ke Korea. Maafkan aku yang mencintaimu ini, Yusuf." tukasnya.
Yusuf tidak menyangka jika Cindy akan menyatakan cinta kepadanya lagi. Bukan yang pertama baginya, sebelumnya memang masing teringat ketika Cindy menyatakan cinta waktu lalu. Ia mulai melangkah mendekat, ia bukan lelaki yang munafik. Maka, ia akan mengatakan 'tidak' untuk menolak, dan mengatakan 'iya' untuk memberi harapan untuk Cindy.
"Tidak!"
__ADS_1
"Maafkan aku yang tidak bisa memberimu kesempatan. Aku hanya ingin mengejar cita-citaku saja saat ini. Maafkan aku, Cindy," tolak Yusuf.
"Apakah… memang tidak ada harapan untukku? Sekecil ini?" tanya Cindy dengan menunjukkan ujung kelingkingnya.
Yusuf menggeleng.
"Apakah karena aku bukan orang muslim?" tanya Cindy lagi.
"Bukan!"
"Cindy, kalau boleh jujur… kamu sangat cantik menurutku, kamu baik, tidak sombong, bahkan kamu juga bisa diidamkan semua kaum Adam. Kamu bisa mencari lelaki lain, yang bisa mencintamu juga. Percayakan, mencintai sepihak itu sakit, tapi maaf… aku memang tidak bisa memberimu harapan," kekeh Yusuf.
Air mata Cindy mulai berlinang. Ia pun mengusir Yusuf, hatinya begitu sakit mendengar penolakan dari lelaki yang dicintainya. Selama ini, perhatian yang Cindy berikan memang tak pernah diterima oleh Yusuf. Cinta memang tidak dipaksakan, Yusuf juga sudah kekeh dengan pendiriannya untuk sukses dulu, baru memikirkan pasangan hidupnya.
Setelah Yusuf turun, sekitar sepuluh menit Cindy juga turun. Ia duduk sedikit menjauh dari teman-temannya dan minum minuman keras. Yusuf bahkan tidka menyangka jika Cindy bisa mabuk disaat seperti itu. Yusuf terus memperhatikan Cindy, ia hanya takut Cindy berbuat hal yang lebih lagi. sampai akhirnya ia mabuk dan meracau tidak jelas. Fatur dan Jihan menyuruh Yusuf untuk mengantar Cindy pulang.
"Aku tidak bisa mengantarnya. Bagaimana jika kamu saja yang mengantar dia pulang?" tolak Yusuf dan malah meminta Jihan untuk mengantar Cindy pulang.
"Kau gila? Semalam ini aku harus mengantar Cindy? Tak ingatkah dengan kejadian beberapa lalu, dikawasan dia tinggal banyak klitih?" Jihan pun menolak.
Mau tidak mau, dengan terpaksa, Yusuf mengantar Cindy pulang. Karena kebetulan malam itu Yusuf mengendarai mobil milik Airy. Ia lelah jika harus naik motor dan kena angin malam lagi, jadi ia meminjam mobil kakaknya untuk ke acara itu.
"Kenapa kamu sampai mabuk gini, sih? Aku paling benci dengan orang mabuk, apalagi wanita," kesal Yusuf memasang sabuk pengaman untuk Cindy.
"Aku sungguh mencintaimu Yusuf. Tapi kenapa kau tak pernah melihat perhatianku ini? Apakah perhatianku hanyalah mainan bagimu?" racau Cindy dalam dunia bawah sadarnya.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, dan kamu menolakku. Aku sakit hati, Yusuf. Sakit sekali, sakitnya bahkan sampai membuat otakku menggila," imbuhnya.
Di sepanjang perjalanan, cindy terus meracau tentang Yusuf yang menolakknya. Namun hati dan pikiran Yusuf masih sibuk memikirkan gadis bermata biru yang mencuri perhatiannya selama beberapa hari terakhir itu. Apakah Yusuf akan bertemu dengan gadis itu? Lalu, bagaimana dengan Cindy setelah dia sadarkan diri?"