
Sampai rumah, Airy langsung beberes rumah. Dari menyapu, ngepel hingga mencuci. Semua sudah di selesaikan secara ringkas. Karena bingung mau melakukan apa, Airy pun menelfon Aisyah dan berbicara banyak hal.
"Kuliah? Mi, aku ini udah nikah, jika aku kuliah, aku harus izin dulu sama Ustad Adam, aku juga butuh bicarakan dulu dengannya." kata Airy.
"Iya Ami tau nak, Ami kan cuma ngusulin. Coba deh kamu kuliah keluar negri sana, nggak harus ke Kairo atau Maroko, yang jelas kamu kan masih bisa kuliah" Kata Aisyah.
"Nggak mudah Ami, kenapa juga aku harus keluar negri, rumah ini baru jadi, dan baru di tempati. Aku juga bisa kok ngejar impian tanpa kuliah," jawab Airy.
"Iya Ami juga tau itu, tapi apa masalahnya kamu kuliah, Ami bisa bantu biaya juga kok. Kamu bicarakan baik-baik sama Adam ya."
"Ami salah jika ngomong gitu, jika pun aku kuliah, aku yakin Ustad Adam bisa membiyayaiku, tapi aku juga tidak ingin menjadikan bebannya, please jangan bahas ini lagi oke? Assallamu'alaikum!"
__ADS_1
Airy menutup telfonnya, dari luar juga Adam sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Airy. Usia nya masih 18 tahun, sayang juga jika tidak melanjutkan pendidikannya. Adam tidak ingin merebut masa remaja dan kebebasan Airy, bahkan jika harus keluar negripun, Adam yakin bahwa dirinya bisa membiayayai kuliah Airy.
"Assallamu'alaikum warrohmatullahi wabborakutuh," salam Adam masuk kerumah.
"Wa'alaikum sallam warrohmatullahi wabbarokatuh, eh sudah pulang dari masjid?" Airy mencium tangan Adam.
"Sudah, nanti jam 8 aku ngajarnya. Mau istirahat dulu, entah kenapa kakiku masih nyeri saja, bisa antar aku ke kamar?" Goda Adam.
"Jalan dari masjid kesini aja bisa loh, dari sini ke kamar minta antar? Ck ck ck, Ustad ini memang manja ya, aku baru tau sifat Ustad yang begini, hayuk lah, sini pegang tanganku." Ucap Airy.
"Ustad," sapa Airy.
__ADS_1
"Iya, ada apa zawjati?" jawab Adam membuat hati Airy adem.
"Ulu ulu lembutnya. Setelah ini aku harus apa? Aku nggak ada kegiatan Ustad, mau bikin kue, ini maaih jam puasa. Bingung akutuh," ucap Airy sambil memijat kaki Adam.
"Bagaimana kalau kamu mulai daftar kuliah? Kemana gitu, aku lihat si Bang Raihan, Diaz dan Raditya lagi sibuk ngurus pendaftaran mereka ke Kairo, apa kamu juga mau kesana?" tanya Adam.
"Jauh banget, enggak deh. Aku dirumah aja, menyelesaikan hafalanku yang lain," kata Airy berusaha tegar.
"Kamu kan memiliki cita-cita, kenapa tidak kamu kejar? Aku akan menemanimu kemana kamu akan kuliah, sebaiknya kamu fikirkan itu, kamu bisa menghafal denganku Dek." Kata Adam mencolek hidung Airy.
"Dek? Sejak kapan aku menjadi Adikmu Ustad? Aku nggak mau dipanggil Adik, hufft nggak greget tau," kata Airy merapatkan tangannya dan memalingkan muka.
__ADS_1
Melihat Airy seperti itu membuat Adam.menjadi semakin gemas, ia pun terus mencubit pipi Airy yang tembam itu. Mengingat sedang puasa, Adam harus mengontrol nafsunya, agar tidak batal puasanya.
Mereka pun juga bersenda gurau di kamar, karena memang tidak ada pekerjaan lain lagi, Airy menjadi sangat jenuh. Adam berusaha menghiburnya sampai waktu mengajarnya tiba nanti.