
Mereka tak hanya sholat ashar saja, karena rindu dengan sosok Aisyah, mereka melanjutkan pergi ke makam mendoakannya, serta Rifky. Setelah itu, mereka berjalan-jalan sore menikmati indahnya sore itu sambil jajan batagor yang mereka sukai.
"Oh ya, aku mau kita bahas sesuatu," ucap Hamdan sambil makan batagor nya dengan lahap.
"Apa tuh?" tanya Falih.
"Aku nggak munafik, ya? Tapi, kita nih kan udah remaja, bahkan hampir mau ke fase dewasa. Misal kita jatuh cinta, dengan cewek... apakah kita tetap akan biasa saja seperti ini? Nggak ada masalah gitu karena kita sibuk sendiri dengan urusan pribadi?" ucap Hamdan.
Falih dan Yusuf terdiam. Mereka juga pernah berpikir sampai di situ. Pasti ada kalanya mereka akan jatuh cinta, karena mereka lelaki normal. Ketertarikan ke lawan jenis tentunya akan ada.
"Itu hak kalian, kalau aku tidak. Jadi, jangan bahas wanita denganku, aku tidak ingin melanggar janjiku," ucap Yusuf.
"Iya, si Ucup ini kan anak sholeh, tapi jangan sedih jika nanti kita sibuk dengan pacar-pacar kita, oke?" ledek Falih merangkul Yusuf.
Yusuf tak ingin berkata 'tidak' dan 'iya', karena ia takut akan melanggar janjinya untuk menahan hawa nafsunya agar tidak jatuh cinta sebelum sukses, dan hanya akan jatuh cinta kepada gadis yang akan menjadi istrinya kelak.
"Aku belum pernah dengar kalian dekat dengan cewek manapun, jadi aku takut... aku akan jatuh cinta lebih dulu dengan cewek sebangku-ku, karena kami akan tiap hari bertemu, dan duduk berjam-jam berdampingan. Jadi, aku tidak akan membahas masalah cewek dengan kalian," jujur Yusuf.
"Kamu menang anaknya Ami Aisyah, aku semakin sayang kepadamu, wahai saudara! Ayo kita pulang!" seru Hamdan.
Sampai di rumah, mereka ganti baju dan bergegas ke masjid untuk menunaikan sholat magrib di sambung menunggu isya' tentunya. Yusuf mendapat tawaran untuk mengajar anak-anak kecil mengaji di sore hari atau setelah maghrib, awalnya Yusuf menolak karena ia akan sibuk dengan sekolahnya. Tapi, dengan dukungan Falih dan Hamdan, Yusuf pun menerima tawaran itu dengan syarat kedua saudaranya ikut serta mengajar ngaji di masjid itu.
"Kamu nggak jadi ke resto, kah?" tanya Gu kepada Yusuf.
Saat ini mereka sedang makan malam. Gu menanyakan kenapa Yusuf tak jadi ke resto menemuinya. Lalu, Yusuf menjawab jika dirinya pergi bersama Falih dan Hamdan ke makam Aisyah. Tentu saja Gu gak jadi protes, karena itu hal positif yang dilakukannya.
Usai belajar, Yusuf membaca beberapa kitab dulu sebelum tidur. Itu akan membuatnya tenang, sama seperti halnya dirinya melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Terdengar sering ponselnya, ia melihat tak ada nama dari pemanggil itu, karena tak ingin sembarangan mengangkat telpon, iapun membiarkannya begitu saja.
__ADS_1
"Siapa ini? Jangan-jangan antara Fatur atau Cindy. Ah, tapi ngapain juga mereka malam-malam hubungi aku? Ini group apaan pula?" gumam Yusuf sibuk dengan ponselnya.
Setelah di masukkan group chat oleh Fatur, banyak yang mengirim pesan dan gift love kepada Yusuf. Bukan hanya itu saja, kebanyakan ciwi-ciwi ini juga mengirimkan fotonya kepada Yusuf.
"Astaghfirullah hal'adzim, Fatur. Kenapa juga... eh, tapi aku memang sudah.. aih, dosaku semakin banyak. Iya deh iya, aku balas besok aja." gerutunya.
"Iki opo maneh? Nggo lope-lope barang ih, ya Allah. Ono-ono wae, sih?" lanjutnya masih membaca pesan tersebut. (Ini apa lagi? Pakai lope-lope segala, Ya Allah. Ada-ada saja, sih?)
[Yusuf, ya? Selamat datang di group kelas. Semoga kamu betah]
[Oh, ini Yusuf. Anyeong haseyo]
"Haih, segala nyapa pakai bahasa Korea, lagi!" seru Yusuf tak henti menahan tawa membaca sambutan itu.
[Kamu si ganteng itu? Aaa, aku save yaa... ]
"Alhamduhillaahil- ladzi ahyaanaa ba'da maa amatanaa wa ilaihi nusyuur." ucap Yusuf.
"Allahumma ij’al fi qalbii nuuran wa fii sam’ii nuuran wa fii basharii nuuran wa fii khalfii nuuran wa an syimalii nuran wa amamii nuran wa ‘an yaminii nuuran wa fauqii nuran wa tahtii nuran, waj’al lii nuuran." imbuhnya, agar di beri cahaya di pagi hari.
Dasarnya para lelaki, mandi pun harus rebutan karena mereka tak ingin tertinggal sholat berjama'ah di masjid. Kamar mandi hanya dua, dan itupun ada di kamar Gu dan satunya di samping dapur.
"Opo iki? Duwekke, Falih? Haha, tak buang wae, ben ra kesuen!" Hamdan mulai iseng dengan membuang sarung Falih yang sedang mandi. Sedangkan ia lupa jika sarungnya masih di luar.
(Apa ini? Punyanya, Falih? Haha, tak buang saja, agar tidak kelamaan!)
"Woy, iseng banget, sih? Yang ada malah makin lama Tukijo!" seru Yusuf.
__ADS_1
Karena tidak mau antri, Hamdan mendesak ke kamar Kakaknya agar segera menyelesaikan mandinya dan segera berangkat ke masjid. Bahkan, ia sempat adu mulut menggunakan bahasa Korea dengan Gu.
"Ibwa, hyeongnim. Deo isang chameul su eobseo chokollisi naogo sipeo ajig taeeonaji anheun ji 3 il dwaesseoyo!" teriak Hamdan.
(Ayolah, Kak. Aku sudah tak tahan lagi, si coklatku pengen keluar, udah 3 hari belum lahiran aku!)
"hwanja!" jawab Gu
(Sabar!)
"astaghfirullah hal'adzim, deo isang chameul su eobseo. Gumeong kkeuteissneun geos gat-eun neukkimieyo, hyeongnim!" masih saja tidak sabar si Hamdan.
(astaghfirullah hal'adzim, aku sudah tak bisa bersabar lagi. Rasanya sudah di ujung lubang, Kakak!)
"Haish, hwanja!" teriak Gu sambil memukul pintunya.
Falih keluar tanpa rasa bersalah, begitu juga dengan Yusuf yang masih mendengarkan Gu dan Hamdan berdebat yang tidak berujung.
"Kita seperti menonton drakor, mereka sedang apa, sih? Bahasanya begitu, baku eh?" tanya Falih.
"Mereka sedang macul (nyangkul)!" jawab Yusuf.
"Waw, aku tercengang...." sahut Falih.
Yusuf meminta Falih untuk segera pergi, dan dirinya masuk untuk mandi. Setelah drama di subuh hari, Gu dan Hamdan masih saja mendiamkan satu sama lain. Saat mereka pulang dari masjid, sengaja Falih dan Yusuf malah semakin memanas-manasi mereka dan membuat situasi semakin heboh.
Kalau ada yang pintar bahasa Korea, mohon perbaiki ya. Aku baru belajar 3 hari ini 😂 yuk belajar bersama. Biar pas nonton drakor rada mudeng meski gak baca translate.
__ADS_1