
"Alhamdulillah, selesai akhirnya. Allahumma Sholli'ala Muhammad, Allahu Akbar!" teriak Falih dengan keras.
"Jujur dia bukan kakak, saya," sahut Hamdan.
"Apa, sih! Jawab amin, dong!" tegur Falih.
"Amin," jawab Yusuf dan Hamdan bersamaan.
Merdeka bertiga pun kembali ke kamarnya masing-masing, sembari membersihkan badannya, karena sore hari nanti mereka akan mengikuti acara mujahadah yang di gelar oleh Syakir dan Ustad Gani.
"Baju koko warna coklatku, mana?" tanya Hamdan.
"Ini, hehehe. Pinjem lah! Aku belum nyuci soalnya, boleh ya?" jawab Falih tanpa muka berdosa.
"Lah, terus aku pakai yang mana? Masa iya, pakai gamis ini ini, sih!" keluh Hamdan.
Sementara itu, Yusuf sudah siap dan menunggu mereka berdua di luar kamar. Pertengkaran karena baju koko membuat suasana menjadi gaduh. Falih dan Hamdan jika sudah saking beradu tenggorokan, sering menukar dengan saling melempar pakaian yang sudah di rapikan di dalam almari.
Bug...
Tar...
"Woy!"
__ADS_1
Bug...
"Astaghfirullah hal'adzim, bocah!"
Yusuf langsung masuk ke kamar dan menarik telinganya Falih dan Hamdan. Bukannya diam dan minta maaf, mereka malah semakin ngoceh hingga membuat kepala Yusuf menjadi sakit.
"A’uzubillahi minasy syaitanir rajim. Allahummagfirli zanbi wazhab gaiza qalbi wa ajirni minasy syaitanir rajimi." ucap Yusuf.
"Artinya?" tanya Falih dan Hamdan secara bersamaan.
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Ya Allah, ampunilah dosaku dan hilangkanlah kepanasan hatiku dan lepaskanlah aku dari gangguan syetan yang terkutuk," jawab Yusuf.
"Laiillaha Illallah... kamu pikir kami ini syiton, hah?" kesal Hamdan.
Sementara itu, Airy bersama dengan Rafa dan Zahra serta kedua adiknya pergi ke swalayan dekat mereka tinggal. Entah dari mana datangnya, Hans tiba-tiba menarik tangan Airy dan mulai menggila.
"Akhirnya, selama tiga tahun aku menemukanmu, Airy!" teriak Hans.
"Astaghfirullah hal'adzim, Pak Hans?"
Dengan sigap, Aminah dan Mayshita langsung menarik Rafa dan Zahra ke pinggir jalan, mengamankan mereka.
"Hai Airy, aku rindu sekali, padamu. Tau nggak, aku nggak bisa hidup tenang selama ini. Ayolah, pergi bersamaku ya. Lihatlah, kamu kurus kering begini, pasti suami mu yang miskin itu tidak memberimu makan, 'kan?" celoteh Hans.
__ADS_1
"Tinggalkan anakmu, dan ikut bersamamu, ayo, Airy!" lanjut Hans seraya menarik lengan, Airy.
"Wong edan!" teriak Aminah, dan menjurus Hans dengan tangannya, hingga Hans tersungkur.
Airy hanya diam saja, sementara Aminah melumpuhkan Hans, Mayshita berteriak meminta pertolongan. Beberapa detik kemudian, warga yang melintas pun berhenti, dan membawa Hans ke kantor polisi.
"Hah, hah, hah. Siapa itu tadi, kak?" tanya Aminah.
"Kamu terlalu bar-bar, Min. Lain kali, jangan sambil teriak gitu, nggak baik! Dah lah, kita pulang aja," tegur Airy.
"Lah, ndak jadi jajan ini? Bakso? Mie Ayam? Kak!" teriak Aminah lagi.
Teriakan itu tak di jawab oleh Airy. Di jalan juga, Airy hanya diam saja. Memikirkan tentang Hans, yang tiba-tiba muncul dan ingin mengajaknya pergi.
"Tante comel, tadi hebat deh! Keren banget," sanjung Zahra.
"Wah, alhamdulillah terima kasih keponakanku yang comel," ucap Aminah dengan badan di tegakkan.
"Keren dari mana? Hem, gitu aja Rafa juga, bisa," sahut Rafa.
"Nggak ada kabel nyambung, ngapain nyaut aja, sih?" kesal Aminah, mencubit pipi Rafa.
"Astaghfirullah hal'adzim, kalian brisik banget, sih. Diam ya, anteng. Ini juga wes gerang marai ribut wae, menengo! " sela Mayshita.
__ADS_1
Sementara mereka ribut sendiri, pikiran Airy masih terfokus dengan kemunculan Hans itu. Mungkin Hans akan muncul lagi di kemudian hari, ia harus segera memberitahukan masalah itu kepada, suaminya.