
Suasana rumah Leah tidak begitu ramai, tapi ada Balqis dan Aminah disana, dan juga Ruchan, Leah tentunya. Yusuf dan Airy pun bergabung dengan mereka, senda gurau, canda tawa mereka pecah malam itu, karena tambah seru akan kehadiran Airy dan Yusuf.
"Malam ini aku mau nginep disini saja lah, boleh kan Uti? Kamar bekas tante Ceasy kan juga nggak ada yang menempati," tutur Airy.
"Boleh banget dong, Uti sama Kakung malah senang. Nanti Yusuf tidur di kamar Pak Lhek Kabir aja yaa, bersih kok," ujar Leah.
"Tapi kalian bilang dulu sama orangtua kalian. Tau sediri Ami mu itu bagaimana kan?" Ruchan mengingatkan Airy, agar Aisyah tidak keluar tanduknya saat tau Airy dan Yusuf menginap tanpa izin.
Malam hari di pesantren, Adam gundah, ingin sekali menanyakan kabar Airy, tetapi takut jika Airy sedang marah padanya soal dirinya yang menasihati saat di klinik kemarin malam.
"Telfon? Chat? Atau..... Astagfirullah hal'adzim, menanyakan kabar boleh lah," Adam sangat gelisah.
Sejak sholat isya', Adam terus saja dikamar, membuat Kyai besar, Ustad Zainal dan Ustadzah Ifa khawatir. Ustad Zainal mencoba mengetuk pintu kamar Adam, dan mengajaknya ke aula untuk mengajar mengaji.
__ADS_1
Tok... tok....
"Assallamu'alaikum, Dam, Adam, ngapain aja sih di kamar? Ngajar ngaji ngapa?" Teriak Ustad Zainal.
"Wa'alaikum sallam, duluan. Saya nyusul nanti," Adam membuka pintunya dengan wajah yang jutek.
Hujan rintik-rintik malam itu menambah gundahnya hati Adam, berjalan menuju aula yang dekat saja seakan sangat jauh. Melewati taman pesantren yang kecil saja seperti melewati hutan belantara.
"Ini nih, ini yang membuat haramnya pacaran. Memikirkan, mendambakan, merindukan seseorang yang bukan mahramnya. Astaghfirullah hal'adzim, kalau seperti ini, mending kemarin langsung nikah saja," Gumam Adam.
"Wa'alaikum sallam, Rindi aku segera ke aula ya. Assallamu'alaikum," Adam tidak ingin ada kesalah fahaman di antara mereka lagi, maka dari itu dia akan segera pergi ke aula.
"Tunggu! Aku minta maaf atas yang waktu lalu, tapi aku mohon Mas Adam jangan menjauhiku seperti ini, bisa kan seperti sebelumnya Mas?" kata Rindi memohon.
__ADS_1
"Maaf Rindi, hubungan kita hanyalah guru dan murid saja, tidak lebih dari itu. Aku tidak ingin ada hal yang membuat Airy terluka, Assallamu'alaikum!" Adam langsung pergi meninggalkan Rindi begitu saja.
"Wa'alaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh,"
"Begitu mudahnya kamu mencintai Airy Mas? Aku berada disisimu sudah lebih lama dari Airy, tetapi..... ahh Airy memang pantas untukmu, aku harap kalian bahagia. Amiin," tak terasa Air mata Rindi menetes.
Cinta itu memang tidak tahu kapan akan datang, kadang ada sesorang yang benar-benar sudah ada di sejak lama berada disisi kita. Tetapi, orang baru malah bisa membuat kita jatuh cinta. Melihat yang kita cintai itu memang sangat menyakitkan, tetapi lebih sakit jika kita hidup berasama dengan orang yang pura-pura mencintai kita, pura-pura bahagia untuk kita.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, Airy terbangun dan memeriksa ponselnya. Ada pesan dari Raihan yang membuat Airy bimbang.
"Assallamu'alaikum, besok ikut aku. Aku sama Ustad Adam akan keluar kota selama lima hari, menyesal jika tak ikut aku" pesan dari Raihan.
"Hish, maksut Abang apaan ya?" Gumam Airy.
__ADS_1
Airy ini tidak suka basa-basi jika menyangkut kepentingan, langsung saja ia menelfonya Abangnya yang mengesalkan itu.
Aku up dulu segini ya kak. Ada kepentingan mendadak Wassallam