
"Lagi?" gumam Yusuf sambil perlahan membuka paket tanpa nama pengirim.
Bukan hanya itu saja, Yusuf juga sempat memotret surat dan paket itu, lalu di kirimkan kepada Falih, Hamdan, Aminah dan Mayshita.
"Woh, kampret! Bali sekolah langsung on the way iki. Tugas negara, mugo wae ndang ketangkep wong sik neror iki! Asem tenan!" gerutu Aminah sambil menendang meja.
"Istighfar, jangan terbawa emosi. Allah tak suka dengan orang yang gampang emosi, nantinya akan menimbulkan dendam. Harus tenang ya, stel kendo wae!" tutur Mayshita.
"Assalamu'alaikum, Suf. Ada apa? Paket teror, lagi?" tanya Raihan memecah lamunan Yusuf.
"Wa'alaikumsalam, iya. Kali ini dengan surat, aku belum buka suratnya. Kita langsung bawa pergi saja paket ini, rahasiakan dari para wanita, agar tidak menimbulkan kepanikan," Yusuf menunjukkan sifat bijaknya lagi.
"Heh, dasar! Ternyata kau sudah besar, ayo kita ke rumah Uti. Kita makan siang di sana. Kamu nggak sekolah, 'kan? Siap-siap kena hukum langsung dari suhu kita,"
Dua hari berlalu, teror itu masih saja muncul. Sementara Laila dan Raihan masih hidup tenang karena teror itu selalu di kirim ke rumah lama mereka. Teror paket itu juga beragam, dari surat bahasa yang sulit di mengerti hingga peralatan medis yang di rusakkan. Entah apa yang orang tersebut maksud, namun Yusuf dan saudaranya tidak akan mundur. Dari siapakah itu?
Hari ini, Yusuf, Falih, Hamdan, Aminah dan Mayshita mulai menyelidiki tentang teror itu. Benar saja, kurir itu datang memberi paket lagi, Yusuf dan Aminah mengikuti kurir itu, sementara Falih, Hamdan dan Mayshita membawa paket itu kepada Raihan.
"Oh, ini tempat si kurir ambil paketan sebelum dikirim itu?" gumam Yusuf.
Plung!
"Yah, hp anyarku, nyemplung, Suf!" seru Aminah. Ponselnya nyebur ke got yang bau dan berwarna hitam.
"Ck, opo sih?" tanya Yusuf kesal.
"Hp anyarku, Suf. Nyemplung nok comberan, ik! Tulung jimok'o, ngopo?" pinta Aminah.
__ADS_1
(Ponsel baruku, Suf. Nyebur ke comberan, ik! Tolong ambilkan, ngapa?)
Yusuf enggan untuk mengambilnya, karena percuma ponsel itu pasti akan rusak terendam lumpur. Yusuf pun menarik Aminah untuk masuk ke pusat pengiriman barang itu. Sambil terus mengomel, Aminah masih berharap Yusuf mau mengambilkan ponselnya.
"Aminah!"
"Kesempatan ndak datang untuk kedua kali. Tolong kerja samanya!" tegas Yusuf.
"Suf, hp anyar loh, yakin. Le tuku go duitku dewe. Masio mung 2 juta, tapi aku tuku jalur mandiri, duitku dewe, loh, Suf! Tulungo, ngopo!" harap Aminah.
(Suf, ponsel baru loh, yakin. Belinya pakai uangku sendiri. Meski hanya 2 juta, tapi aku beli jalur mandiri, uangku sendiri, loh, Suf! Tolong, ngapa?)
Namun Yusuf masih tidak memperdulikannya, ia berjanji akan membelikan yang baru lagi untuk Aminah. Merasa di sepelekan, Aminah merasa kesal, bukan karena hp nya saja. Melainkan semua nomor yang ia save ada di kartu dan ponsel itu.
Awalnya, Yusuf tidak mendapatkan info tentang pengirim itu. Lalu, Yusuf pun membanting pikiran, jika dia bersikap lembut tidak dapat hasil apa-apa, ia pun menggunakan cara dengan mendesaknya menggunakan embel-embel melaporkan ke polisi. Karena paket itu berisikan teror yang membuat seseorang trauma.
"Kasih tau aja lah, lagian dia juga melindungi kita kalau ada apa-apa!" perintah si Admin.
Akhirnya mereka mau memberikan alamat lengkap pengirim itu. Setelah Yusuf baca, pengirimnya berasal dari Korea Selatan. Di situ Yusuf dan Aminah saling tengkar, Yusuf mempermasalahkan karena dia belum pernah menginjak tanah Korea, sedangkan Aminah ribut masalah ponselnya jatuh di comberan.
Bertemulah mereka di rumah lama Rifky dan Aisyah. Membahas masalah pengirim itu. Sempat-sempatnya Aminah dan Mayshita malah menonton drakor di saat genting.
"Allahu La ilaha illa huwal hayyul qoyyum...." ucap Yusuf sambil menepuk kening Aminah.
"Woy, lah! Memangnya aku ini setan, dibacakan Ayat Kursi!?" tepis Aminah.
"Fokus, ngapain malah nonton drakor, Amin!" bentak Falih.
__ADS_1
"Ck, iya. Gimana, udah tau belum alamat itu di mana?"
Hamdan mengatakan jika alamat itu ada di dekat daerah tempat tinggalnya dulu. Ia juga meminta informasi dari Arnold (papa sambungnya) untuk menyelidiki siapa nama pengirim itu.
"Jadi kita harus terbang nih, ke Korea? Agar bisa ngomongin langsung gitu sama pengirimnya?" tanya Falih.
"Tapi kita harus tahu dulu motif dari mengirim paket nggak jelas ini. Lebih baik kita tunggu aja dulu info dari Papanya si Hamdan!" sahut Yusuf.
Secepat kilat, Arnold menghubungi Hamdan kembali. Dari informasi yang Arnold dapat, bahkan informasi dari Yoona juga, pengirim itu menggunakan identitas palsu. Pengirim aslinya, yakni senior Aisyah ketika masih bekerja di Korea.
"Jadi orang yang ngirim itu seniornya Ami Aisyah? Apa mungkin dia belum tahu ya kalau Ami Aisyah itu udah nggak ada… jadi dia masih mengirim ke rumah lama?" kesimpulan Mayshita sangat tepat.
"Tepat sekali, sebabnya teror itu hanya ada di rumah Ami Aisyah. Tak sampai ke alamatnya Uti dan Kakung, padahal Bang Rai sama Kak Laila udah pindah ke sana, dan paket itu terus di kirim ke rumah Ami Aisyah?" sambung Hamdan.
"Kita harus Korea, kita harus temui orang ini, dan katakan yang sebenarnya, jika yang dia teror sudah meninggal semua!" usul Yusuf.
"Tapi, kita belum tau wajahnya seperti apa. Di jaman Ami Aisyah ke Korea saja, kita masih belum terbentuk. Orang Kak Airy sama Bang Rai saja masih bayi," sahut Falih.
"Ehem...." Aminah mendehem.
"Mohon maaf, mengganggu suasana yang hendak terbang ke Korea. Tapi sebelumnya... mau ngomong aja, kita ke luar negeri itu juga butuh visa sayang-sayangku, lalu kita mau pakai bisa apa? Liburan atau bisnis? Kalau liburan kita masih butuh orang dewasa say!" jelas Aminah.
"Ngurusnya juga tidak satu sampai dua hari kelar, bahkan ada yang 1 minggu sampai 1 bulan baru kelar. Nih satu lagi, pasport Mayshita udah koid, butuh waktu lagi buat ngurus, Sayang. Seenak udelnya aja main terbang-terbangan ke Korea segala. Mikir dulu pakai logika, jangan kek novel-novel yang langsung terbang sampai ajah!" tugas Aminah.
Mereka masih harus dapat izin dari keluarga juga. Tapi, semuanya akan di bereskan oleh Airy dan Raihan. Mereka berdua yang akan mengurus semua keperluan yang di butuhkan adik-adiknya terbang ke Korea.
Begitu juga dengan Raditya yang akan menemani mereka ke Korea. Meski sudah terpenuhi, baik Yusuf dan Aminah harus menarik tabungannya untuk biaya hidup sementara di sana. Sedangkan Mayshita tidak akan ikut, karena ia harus menjaga Rafa yang ngambek ketika semuanya akan berangkat ke Korea.
__ADS_1