Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 356


__ADS_3

Kasihan dengan nasib Raditya, malam itu ia tidur di pabrik, dan mungkin mulai malam itu juga ia akan tinggal di pabrik. Tidak mungkin barunya untuk pulang ke Malang karena usahanya ada di sekitar Joga. Ia juga meminta Ayahnya untuk tidak terlalu memikirkannya.


.... . ...............


Sampailah di hari minggu, dimana Yusuf dan teman-temannya akan memulai belajar kelompok di rumah Airy. Yusuf begitu gugup, takut teman barunya itu akan tau jika dirinya putra pesantren juga, ia tidak ingin semua temannya di sekolah tahu jika dirinya juga anak orang berada. Karena ia takut ketenaran aja mengubah semuanya.


"Kamu sudah lama menunggu kami? Maaf ya.. tadi di jalan macet, lagian kita bertiga juga satu kendaraan jadi harus menunggu satu sama lain," ucap Cindy.


"Aku baru sampai kok. Ya sudah kalau gitu, ayo kita masuk. Aku sudah menyiapkan bahannya, kalian bawa bahannya juga, 'kan?" tanya Yusuf.


"Kemana?" tanya Fatur.


"Masuklah. Kemana lagi? Katanya mau belajar kelompok?" jawab Yusuf.


"Ta-tapi ini kan pesantren, Suf. Kita mau belajar kelompok loh, bukannya mau ngaji," sahut Jihan.


"Iya kita akan mengerjakan tugas. Sebaiknya ayo cepat kita kerjakan sebelum para santri keluar." ajak Yusuf dengan santai.


Cindy, Fatur dan Jihan saling menatap. Mereka masih bingung kenapa Yusuf membawa mereka ke pesantren. Mereka juga terus berjalan di belakang Yusuf, melihat beberapa santri keluar menyapanya dengan sopan. Fatur berbisik kepada Cindy dan Jihan soal siapa Yusuf sebenarnya.


"Apakah dia anak pemilik pesantren?" tanya Cindy.


"Aku dengar anak pemilik pesantren ini perempuan. Itupun sekolahnya di sekolah milik pesantren gitu. Entah deh kalau yang lain," jawab Fatur berbisik.


Yusuf menghentikan langkahnya karena sudah sampai di depan rumah Kakaknya. Fatur, Cindy dan Jihan menabrak Yusuf dari belakang karena tidak tahu Yusuf berhenti. Mereka pun terjatuh.


"Aw, bisa nggak, sih, Suf. Kalau berhenti jangan tiba-tiba?" protes Fatur.

__ADS_1


"Maaf-maaf, kalian nggak papa, 'kan? Aku berhenti karena kita sudah sampai depan rumah. Maaf, ya…." ucap Yusuf membantu Fatur berdiri.


Berdirilah mereka di depan rumah bercat putih yang nampak rapi dan besar dari luar. Di depan rumah itu, agak jauh sedikit nampak rumah yang sederhana dengan taman di depannya, yakni rumah sang Kakung Ruchan. Lalu, sebelahnya lagi terlihat rumah yang asri juga, rumahnya Aminah. Sebelahnya lagi baru pintu masuk antara aula santri putri dan santri putra.


"Ka-kamu tinggal di sini?" tanya Fatur.


Yusuf mengangguk,.


"Bukannya kamu bilang.. kalau kamu tinggal di sampingnya saja? Gang sebelah?" tanya Fatur lagi.


"Aku pindah ke sana satu bulan yang lalu. Itu rumah orang tuaku. Kalau ini, rumah kakakku, itu rumah Kakung-ku, yang sebelahnya lagi rumah Pak Lek-ku. Sebelumnya aku tinggal di sini," tunjuk dan jelas Yusuf.


Mereka bertiga hanya melongo, masih belum percaya jika Yusuf benar-benar anak pesantren. Sampai mereka masuk ke rumah Airy dan melihat foto seluruh keluarga di sana. Dimana semuanya masih lengkap ketika Yusuf masih balita.


"Bukankah, ini pendakwah yang terkenal itu? Ustad Syakir, dan ini Abi-nya, Ustad Ruchan muda dan… ini pemilik pesantren (Ikhsan) Ayah dari pemiliknya sekarang namanya Pak Ilham itu ya?" bisik Jihan.


"Lalu… kamu?" tanya Cindy masih penasaran.


Yusuf tersenyum.


"Ini aku, ini kakak kembarku, yang satunya pemilik rumah ini. Lalu ini Ami-ku, namanya Aisyah, dia Dokter Anak, dan ini Abi dari Ami-ku, Ustad Ruchan, Kakungku, atau Kakekku," jelas Yusuf. "Sebenarnya, aku tidak akan mengajak kalian kemari. Tapi, rumah yang aku tinggali sekarang sedang dipakai acara slametan oleh Kakakku, jadi… emm ayo duduk." imbuhnya.


Masih saja teman-teman Yusuf merasa tegang. Mereka baru tahu jika Yusuf ini keluarga dari orang terpandang di Kota itu. Itu semua mampu Yusuf tutupi dengan kesederhanaanya.


"Hm, entah mengapa nyaliku makin ciut jika di dekat, Yusuf. Ahhh, cinta pertamaku salah tempat." batin Cindy dengan menggaruk-garuk kepalanya.


Mereka memulai dengan tugasnya, Airy dan Adam juga menyambut teman-teman baru Yusuf dengan ramah. Bahkan, Adam juga memberikan beberapa kisah cinta remaja yang membuat mereka betah di rumah Yusuf.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika keluarga pesantren se-ramah ini. Benar kata rumor yang beredar, kalian sungguh baik dan humble. Jadi betah nih, apalagi di suguhi makanan seenak ini, hehehe…." sifat tak tau malu Fatur muncul.


"Heh, ngarang wae. Ngapunten nggih, Mas. Rencang kulo niki panci ragi gragas!" seru Jihan memukul pundak Fatur.


(Heh, ngarang saja. Maaf ya, Mas. Teman saya ini memang sedikit gragas)


"Haha jangan di pukul, dong. Nggak papa, makan yang banyak, kan ini semua disediakan memang buat kalian. Ayo dimakan lagi," ucap Adam ramah.


Selesai mengerjakan tugas, Yusuf membawa teman-temannya mengelilingi pesantren sebentar. Namun, Cindy merasa tak enak hati, karena tidak memakai hijab, jadi ia memilih untuk menunggu Jihan dan Fatur kembali.


"Kamu yakin ndak ikut?" tanya Jihan.


"Hooh, rugi loh nanti. Kapan lagi kita bisa keliling pesantren yang tertutup ini?" timpal Fatur.


"Aku di sini saja dengan adek bayi ini. Aku nggak enak karena nggak memakai pakaian tertutup. Kalian saja yang jalan-jalan," kata Cindy menggendong Ayanna.


"Kalau kamu mau, aku bisa pinjami kamu baju lengan panjang dan jilbab. Aku punya saudara yang badannya seukuran denganmu," usul Yusuf.


Tapi Cindy tetap menolak. Ia tetap tidak enak hati jika harus sampai meminjam baju. Ia lebih betah menggendong Ayanna dan bermain dengan Anthea bersama Airy di rumah. Selama Yusuf mengajak yang lainnya keliling, Cindy bersama Airy mengobrol di teras.


"Namamu siapa?" tanya Airy.


"Em, Cindy Kak. Cindy Kristian Novi, itu sebabnya aku nggak berhijab kesini, maaf ya, Kak, aku nggak sopan," jawab Cindy, dengan memainkan kalung salibnya, kemudian memasukkannya ke baju.


"Kenapa dimasukkan, dikeluarkan saja nggak papa, Cindy. Santai saja, perbedaan itu wajar kok. Yang penting, kita tidak minim toleransi, oke?" kata Airy dengan senyuman.


"Ya Tuhan, baik banget. Pasti dulu pas disekolah, dia direbutin banyak cowok, deh. Nggak heran jika adeknya juga baik banget gitu... jadi makin penasaran aku dengan keluarga Yusuf." batin Cindy.

__ADS_1


Cindy juga banyak bertanya dengan Yusuf masa kecil. Tentu saja dengan mulut Airy yang comel, dia mengumbar semua kelakuan Yusuf saat kecil hingga sekarang. Apalagi tentang dirinya yang menolak keras menikah muda, meski keluarganya banyak yang menikah muda.


__ADS_2