Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 342


__ADS_3

"Bagaikan keadaan, Ibu?" tanya Aminah.


"Alhamdulillah, sekarang sudah baikan. Mungkin, tadi hanya kaget saja ketika aku mengatakan, jika aku mencintaimu," jawab Raditya.


"Alhamdulillah kalau begitu. Aku kepikiran saja, ini aku juga lagi mau cerita ke Abi dan Mama tentang hal ini. Huft, aku pusing, Bang." Aminah mengakhiri pesannya.


Malam itu juga, Aminah menceritakan semuanya kepada Syakir dan Balqis. Beruntung Aminah memiliki orang tua yang pengertian kepadanya. Mereka tidak memaksakan kehendak anak untuk kepentingan pribadinya. Bahkan, Balqis saja menyarankan untuk Aminah pergi ke Singapura dan menempuh pendidikan bersama Sarah, adiknya di sana.


"Abi dan Mama… nggak marah? Karena aku lebih menginginkan, Bang Radit daripada perjodohan itu dengan, Kakaknya?" tanya Aminah polos.


"Untuk apa kita marah, iya kan, Bi? Kita tidak marah, karena kita tahu perasaan itu tidak bisa berbohong," jawab Balqis.


"Masa depanmu hanya ada ditanganmu dengan usahamu sendiri. Lalu, Allah-lah yang memutuskan semuanya." imbuh Balqis seraya menepuk-nepuk bahu Aminah.


Aminah tak percaya jika orang tuanya begitu baik kepadanya. Bukan seperti di film-film maupun di novel yang ia baca. Perjodohan tak selamanya beriringan dengan keterpaksaan.


Kini, Aminah bisa bernafas dengan lega. Dadanya tak lagi merasakan sebak yang tiada henti. Syakir dan Balqis juga tidak menentang perasaannya terhadap Raditya.


"Alhamdulillah sekali, aku bersyukur memiliki orang tua yang super baik dan perhatian kepadaku," gumam Aminah dengan merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.

__ADS_1


Di sisi lain, Rasid masih saja meyakinkan perasaan Raditya dan membahas tentang perjodohan itu. Namun, Raditya tetap teguh dalam keputusannya. Jika Aminah belum lulus sekolah, jadi perjodohan itu juga belum menjadi keputusan terakhir. Jadi, Raditya masih ada waktu untuk meyakinkan keluarga, dan masih bebas untuk mempertahankan cintanya.


"Apakah…." tanya Rasid.


"Jangan dibahas lagi. Biarkan aku memperjuangkan cintaku. dan kau berbuatlah sesuka hatimu, Mas!" seru Raditya.


"Bukan begitu, Dit. Mas hanya tidak ingin menghalangi kebahagiaanmu saja," elak Rasid.


"Pret, ngakak aku. Mana ada? Mana ada Mas Rasid memikirkan kebahagiaanku? Apakah aku sedang di dunia lain?" bisik Raditya.


"Dit, aku tau kau banyak mengalah karena-ku. Tapi, semua itu di luar kendaliku, Ibu yang berperan penting di kehidupan kita, Dit. Jadi, kenapa kau terus mengganggap seolah-olah kau korbannya?" tanya Rasid.


"Waw, aku terharu...." kekecewaan Raditya sudah tak bisa di negosiasi.


Bahkan sampai Raditya menangis pun, semua orang tidak pernah melihat. Bagaimana rasanya jika hidup di keluarga sendiri, tapi seperti orang asing karena tidak pernah di anggap ada. Karena tidak ingin tinggal bersama, Ayah dan Ibunya selalu terpisah. Dia juga memilih untuk tinggal di pesantren dan kuliah di luar negri agar suatu saat kepergiannya di anggap penting oleh Ibunya.


"Ternyata, dia memiliki dendam. Atau lebih tepatnya, dia trauma di masa kecil." gumam Rasid.


-_-_-

__ADS_1


Hujan tiba-tiba turun dengan deras, bahkan membawa temannya sangat petir sampai membuat jantung berdegup kencang seperti hati yang sedang jatuh cinta ketika menyambar. Terlihat, Airy sedang tiduran dengan menyandarkan kepalanya di dada Adam dan menggenggam erat tangan suaminya itu. Keharmonisan yang terjadi, karena Adam menang sangat romantis.


"Mas," panggil Airy.


"Dalem, Sayang...." jawaban Adam sangat menyejukkan hati, dengan suara lembutnya.


"Jika anak si kembar lahir nanti, apakah Rafa sudah siap menjadi kakak? Lihat saja tingkahnya sekarang, sikap dingin dari mana yang dia dapat? Waktu ada Zahra dulu, dia begitu ceria dan banyak cerita, tapi...." ungkap Airy.


"Mungkin, putra kita akan berpikiran dewasa. Tenang saja, pasti dia bisa menjaga adik-adiknya dengan baik. Apalagi, nanti juga akan mendapatkan adik baru dari Bang Rai. Hm? Jangan pikirkan itu, ya. Tidurlah!" tutur Adam sembari membelai rambut Airy yang halus dan lembut.


"Sayang...." panggil Adam.


"Em?"


"Ah, Mas sangat mencintaimu. Sangat, sangat, sangat, wanita satu-satunya yang Mas cintai. Wanita satu-satunya yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Tapi sayang, Mas nggak bisa mencintaimu melebihi Allah, kamu tau, 'kan?" ucap Adam seraya mengecup pipi Airy.


"Karena mencintai sesama hamba Allah itu nggak boleh berlebihan. Ada saatnya perpisahan itu terjadi, tapi tidak dengan Allah yang akan selalu ada untuk kita," balas Airy mengecup bibir Adam.


Adam membalas kecupan Airy, kemudian mencium pipi kanan dan kirinya. Tangannya manarik selimut, hingga menutupi seluruh tubuh mereka. Ciuman itu juga semakin turun ke leher, lalu.........

__ADS_1


Malam yang penuh sensasi. Meski sudah memiliki 3 anak, keromantisan Adam dan Airy tak pernah pudar dimakan waktu. Semakin hari, mereka kian mesra. Bahkan, baik Adam maupun Airy, saling menempel bak prangko satu sama lain.


Berbeda situasi dengan Raihan, yang hanya mengusap perut Laila. Sembari melantunkan sholawat, mata Raihan terus menatap istri nakalnya itu. Betapa tak teganya jika poligami itu terjadi. Laila telah menunggunya selama 3 tahun lebih. Kepercayaannya juga sudah terjalin diantara mereka. Kisah cinta mereka juga bersemi kembali, tak selayaknya jika Raihan menduakan Laila dengan alasan mengangkat derajat seorang janda, dimana janda itu juga tidak mau dinikahkan dengannya.


__ADS_2