
Di Jerman,
Malam itu, seluruh anak muda di sana, sedang keluar menikmati indahnya malam minggu. Banyak festival dan pertunjukkan di makam itu. Tak ketinggalan, Raihan, Raditya, Cilo dan Mita juga pergi menikmati malam itu, kayaknya remaja di sana.
"MasyaAllah, indahnya. Festival ini, jarang er jadi kah?" Tanya Raihan.
"Menurut artikel yang aku baca sih, setahun sekali. Kita udah hampir 7 bukan bukan di si juga?" Sahut Cilo.
"Iya, benar! Ahh, tinggal 2 tahun lima bulan lagi. Kita pasti lulus dengan nilai memuaskan." Timpal Raditya.
"Amin,"
"Em, kita nggak cari makan ini? Ada loh restoran halal di dekat sini. Milik orang Arab, setahuku." Usul Mita.
"Cus lah! Ayo bro!" Ajak Cilo, menarik tangan Raditya.
__ADS_1
"Raihan!" panggil Mita.
"Dalem," jawab Raihan lembut.
"Istri, idaman kamu, yang kayak apa sih?" tanya Mita gugup.
" Kenapa tanya itu? Emm, maksud aku, kenapa dipikirin sekarang gitu. 'Kan jodohnya belum datang juga, emm?" suara Raihan buat hati Mita meleleh.
" Iya, kali aja gitu udah dipikirin dari sekarang. Pengen tau aja sih, istri idaman seorang Raihan itu seperti apa." Lanjut Mita.
Sejak awal pertemuannya dengan Raihan, Mita merasa bahwa dirinya sudah jatuh hati kepadanya. Mita hanya bisa berharap, kalau Raihan bisa menyadari perasaannya itu.
"Terus apa ya. Oh iya, aku suka dengan wanita yang sederhana, mampu menerima kekurangan aku, dan tidak aneh-aneh. Seperti Airy, misalnya." Imbuhnya.
Agama, wanita yang sederhana, Mita merasa insecure dengan semua itu. Mungkin, tidak mengenal banget agama meskipun agamanya sama dengan Raihan. Sederhana, Mita bukanlah gadis yang sederhana. Dia suka glamour, dandan menor, bahkan menyukai keindahan dunia, dan banyak hal lagi.
__ADS_1
"Aku mundur alon-alon kalau gitu mah!" Gumam Mita dalam hati.
"Tapi yang lebih aku sukai wanita yang mampu menemani aku dari bawah. Kemudian, mampu mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Geli enggak sih ngomongin kayak gini? Kita ini masih 19 tahun dan insyaAllah, jika Allah menghendaki, masa depan kita ini masih panjang. Jadi, untuk berpikiran sejauh itu, kayaknya aku belum deh, nikmatin aja apa yang Allah berikan sekarang." Tambah Raihan.
Mereka berdua pun berjalan mengusul Raditya dan Cilo. Kemudian, sampailah di rumah makan halal yang sebelumnya Mita cari. Di sana, kebanyakan pengunjungnya adalah orang Timur.
Di rumah Adam. Semua orang bahagia menyambut lahirnya bayi laki-laki Airy dan Adam. Karena tidak bisa berlama-lama di luar kota, keluarga Adam akan segera pulang malam itu juga. Termasuk Pak Lek nya yang dari luar negri.
"Yah, padahal Airy mau cerita sama, Uti. Malah semuanya sudah mau pulang. Kenapa cepat banget sih, nggak nunggu puputan?" tanya Airy sedih.
"Nak, kita semua ada acara mendadak. Pekerjaan Pak Lek mu yang lain juga nggak bisa di tinggalin. Lain kali, kita semua akan kesini lagi kok." Ucap Leah.
"Yah.... Kalian juga, nggak bisa temani Kak Airy di sini? Kakak 'kan, masih kangen sama kalian semua." Ucap Airy memelas kepada adik-adiknya.
"Kita akan kesini lagi kok Kak, beri tahu kamu kalau udah nemuin nama yang cocok untuk. si botak ya, haha." Sahut Aminah.
__ADS_1
"Aduh!" Aminah kena jitak Airy.
Semua adik lelaki Airy, kalem. Kecuali Aminah. Aminah ini sangat jahil, bahkan dia juga paling bawel di antara semuanya. Yang paling kalem ialah Hamdan, Falih dan Yusuf, anak perempuan dari keturunan keluarga ini semuanya seperti Airy. Entah bagaimana, namun semua memang seperti Airy tingkahnya.