Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 95


__ADS_3

Masakan Airy selesai juga, bukan hanya masakan sayur saja, Airy juga membuat beberapa lauk dan camilan untuk Adam. Sambil menunggu Adam pulang, Airy pun bersiap-siap untuk mendaftar ke kampus bersama dengan Rindi.


Tidak lama setelah itu Adam pulang, ia pulang membawakan makanan untuk sarapan. Adam langsung menuju ke dapur, melihat di atas meja ada banyak masakan, makanan yang dibahwa sebelumnya langsung ia taruh di dalam kulkas. Ia tidak ingin membuat Airy kecewa karena ia membawa pulang makanan dari pesantren. Airy pun keluar dari kamar, ia sudah sangat rapi dan hendak bersiap pergi bersama Rindi.


"Udah pulang? " tanya Airy.


"Assalamu'alaikum, ini semua kamu yang masak? " tanya Adam dengan senyuman.


"Waalaikum sallam, iya, nggak istimewa sih, tapi aku masak sesuai toturial yang aku lihat," jawab Airy sambil mencium tangan Adam.


Airy pun mengambilkan makanan untuk Adam, porsi yang ia ambilkan membuat Adam tertawa, bahkan Airy juga sampai tertawa terpingkal-ingkal.


"Jangan ketawa...!! aku lagi berusaha sekuat tenaga.. !! " seru Airy.


"Apaanya? Aku pulang dari pesantren loh, bukan dari macul, " ucap Adam sambil tertawa.


"Lha biar fresh, gemuk, sehat, wareg kok pie. Biar nanti besar (Idul Adha) bisa di korbanin..!! " seru Airy sambil mengurangi porsi makannya.


Mendengar goyonan dari Airy, Adam menjadi senyum-senyim sendiri. Serasa ia ingin menggigit pipi istrinya yang gembul itu. Ia tidak menyangka jika Airy bisa bercanda seperti itu. Dengan semangat, Adam pun menikmati sarapan yang istrinya masak. Mereka juga saling menyuapi satu sama lain. Tetapi, dalam hubungan mereka ini sangat unik, sampai sekarang mereka belum mengungkapkan perasaan cintanya masing-masing.


"Gimana? " tanya Airy.


"Apanya? " tanya Adam balik.


Airy menyipitkan matanya.


"Hahaha iya, iya, enak deh. Alhamdulillah istriku ini sudah bisa masak, besok-besok masak yang banyak ya, " puji Adam.


"Alhamdulillah, habiskan loh!"


"Oh ya Ustad, Ustad nggak bisa tenan ini, nganter aku sama Rindi? Kok berasa ndak enak ya keluar tanpa suami? " tanya Airy.


"Gombal mukiyo! Maaf ya, sama Rindi dulu perginya, hari ini setelah ngajar, aku ada ketemu lagi sama Pak Kades, usaha kita mulai berjalan dengan lancar loh! " jelas Adam.


Adam menceritakan usaha yang baru ia rintis dengan sejumlah warga disana. Bukan hanya membantu warga dapat pekerjaan saja. Melainkan, usaha itu juga bisa menambah uang bulanan yang masuk di rekening Adam. Lalu, bisa untuk tambah-tambah biaya kuliah Airy.


"Sudah kubilang, aku mau masuk pakai beasiswa. Doakan aku, agar hari ini aku mendapat beasiswa itu Ustad." Tutur Airy memberikan piringnya.

__ADS_1


"Haruskah? InsyaAllah aku bisa kok mencukupi biaya kuliah kamu Dek...! " ucap Adam membantu membereskan meja makan.


"Jangan panggil Dek ah, kesannya nylekit jeru! (Menyakitkan dalam). Masa suami istri panggilnya Adek, sayang, cintaku ngono loh, mosok Adek! Lagian, mau aku coba dulu Ustad, doain aja. Siapa tau lolos tes, uang yang buat biaya kuliah kan bisa di tabung. " kata Airy dengan keyakinan penuh.


Apa yang Airy katakan ada benarnya, ia bisa masuk menggunakan beasiswa karena kecerdasannya. Adam pun mengatakan niat Airy itu, ia juga mendoakan yang terbaik untuk istri nakalnya itu. Apapun yang dilakukan Airy, Adam pasti mendukung, selagi itu masih hal positif. Sebelum berangkat, Adam pun memeluk Airy dari belakang.


"Jangan lama-lama keluarnya ya, selesai langsung pulang! " bisik Adam.


"Kenapa? Mau ngajak pergi? " tanya Airy bersemangat.


"Enggak, aku takut rindu berat aja." Goda Adam.


"Ustad pun pinter menggoda, pengen ku gigir itu bibirnya. " Kata Airy memancing hasrat Adam.


Adam membalikkan tubuh Airy, kini sekarang mereka saling berhadapan satu sama lain. Adam menundukkan bahunya sedikit, lalu dengan sangat lembut, ia mencium bibir mungil Airy yang manis itu. Bahkan, yang lebih syahdunya lagi, Airy bisa meresponnya sekarang. Kini mata mereka mulai saling terpejam, menikmati sarapan ciuman di pagi hari. Tiba-tiba........


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...! " salam Rindi memecahkan keuwuan pasangan suami istri itu.


Apa lagi, Rindi mengucapkan salam bak murid-murid di tadika mesra yang dipimpin oleh ehsan. Ciuman hangat itu ambyar seketika, Airy langsung meraih tangan Adam dan menciumnya.


"Wa'alaikumsalam. Sebentar, duduk dulu Rin! " jawab Airy.


"Ada pengacau, kita sambung nanti lagi ya Ustad. Sarapan yang ini bikin greget, " bisik Airy dengan nada nakal.


Adam menjadi terpancing mendengar nada nakal Airy itu, ia pun menarik Airy ke kamar, lalu meminta Rindi untuk menunggunya sebentar. Di dalam kamar, Adam menyuruh Airy duduk, ia pun langsung melanjutkan apa yang sebelumnya ia lakukan. Dengan tangan nakalnya, ia menjamah gunung kembar bermuda. Airy kaget, bagaimana bisa Adam senafsu itu, ia pun menahan tangan Adam.


"Hanya menyentuhnya saja," bisik Adam.


"Aku males mandi lagi Ustad, nanti malam deh aku berikan..! " seru Airy.


Rindi sampai jenuh menunggu mereka, sekitar 10 menitan mereka pun keluar dari kamar. Langsung Airy berpamitan dan mengajak Rindi segera berangkat. Mereka berdua berangkat mengendarai motor milik Adam. Dijalan, Rindi pun bertanya,


"Lama banget di kamarnya, kalian berdua ngapain saja sih? " tanya Rindi.


"Haih, tali bola kembarku pedot (putus), " jawab Airy santai.


Rindi menggelengkan kepala, dua puluh menit kemudian mereka sampai ke kampus yang mereka tuju. Sebenarnya tidak selama itu jika Airy menyetirnya tidak seperti keong yang sedang jatuh cinta. Selesai memilih bidang apa yang mereka inginkan, Airy memilih jalur ujian masuk. Berhubung ada program beasiswa yang di tujukan untuk mahasiswa yang berprestasi, Airy pun ingin mengikutinya.

__ADS_1


"Lah, buat apa kesana? " tanya Rindi.


"Ikut ujian masuk lah, kan lagi ada program tuh, " jawab Airy menunjukkan papan pengumuman.


"Kamu anak orang berada, suamimu juga penghasilan lumayan loh, kenapa kejar beasiswa? Lagian pesertanya banyak banget, yakin kah bisa lulus seleksi? " Rindi bukan mau membuat nyali Airy menciut, tetapi, seingat dia, Airy mampu jika cuma membayar biaya kuliah saja.


"Hey sis, kalau ada jalur menguntungkan seperti ini, kita harus coba. Lumayan jika lolos seleksi, uang yang sebelumnya mau buat bayar biaya kuliah, bisa di tabung untuk masa depan. " jelas Airy dengan merangkul pundak Rindi.


"Iya bener juga sih? Nggak jadi di Kehutanan? Hahah biar bisa akrab sama saudara-saudara kamu yang bergelantungan..? " tanya Rindi dengan senyum yang mengejek.


"Ck, jangan ingatkan dong. Aku pengen muncak-muncak gitu, tapi ya sudahlah, aku jalani ini aja. Sesuai dengan cita-citaku dulu. " jawab Airy.


Setelah semua urusan selesai, mereka berdua pun bergegas pulang. Kali ini Rindi yang di depan, karena Airy sedang membaca-baca tentang ujian masuk itu. Saat diparkiran, mereka pun bertemu dengan Raka, lelaki yang pernah satu sekolah sebelum Airy pindah ke MA pesantren.


"Airy? Airy kan ya? Assalamu'alaikum, gimana kabarmu? " tanya Raka.


"Wa'alaikumsalam, alhamdulillah baik, kamu siapa? " tanya Airy kembali.


"Kamu ndak ingat to sama aku? Aku Raka, kita pernah satu sekolah dan satu kelas, ya walaupun tidak lama, " jelas Raka.


Mengingat, bagi Airy sulit untuk mengingat lelaki yang bukan mahramnya. Karena tidak ingin kehilangan muka, Airy pun pura-pura sudah ingat dengan Raka. Walapun tidak nyambung, Airy hanya tertawa saja mendengar apa yang dikatakan Raka padanya.


"Ya sudah, aku masuk dulu ya, kalian hati-hati pulangnya. Assallamuallaikum, " Raka pun pergi.


"Wa'alaikumsalam warromatullahi wabarokatuh.. !! " jawab Airy dan Rindi.


" Kamu beneran kenal sama dia? Aku perhatikan kamu B aja kok an. Ndak kayak ketemu sama temen lama gitu loh...?" tanya Rindi heran.


"Ndak usah heran Oke? Lebih baik kita pulang, aku udah kangen sama Ustad ku..!! seru Airy.


" Tapi beneran aku lupa loh, bentar aku ingat-ingat dulu." tutur Airy.


Sekian lama berfikir, Airy baru mengingat siapa Raka. Dialah cowok yang waktu itu mengantar pulang dengan berboncengan motor sampai depan pesantren. Lelaki pertama yang ia kenal saat pindah sekolah.


"Wah parah, kamu melupakan kebaikan orang begitu saja? " tanya Rindi.


"Bukan gitu lah, aku lupa dia siapa, karena dia seorang kaum Adam. Haih, bukan hal yang harus diingat dong, kalau yang pernah menolongku aku ingat gitu, tapi lupa siapa orangnya. " jawab Airy.

__ADS_1


"Mbulet wes lah, ayo bali, selak luwe aku..! (Ayo pulang, keburu lapar aku.. n!) " tungkas Rindi.


Mereka pun berangkat pulang, dan langsung pulang. Sesuai dengan pesan yang Adam sampaikan. Sebelum pulang, mereka mampir membeli jajanan terlebih dahulu untuk dibawa kerumah.


__ADS_2