
Sore tiba, Raihan pamit kepada Laila untuk pergi bersama dengan Syakir.
"Tapi, nanti kalau aku nggak bisa, bagaimana?" tanya Laila ragu.
"Ajaklah, Aminah. Dia pasti mengajarimu dengan baik. Nggak papa, 'kan?"
Raihan mengecup kening Laila, kemudian mengulurkan tangannya dan Laila mencium tangan Raihan. Setelah itu, Raihan berlalu, berdebar hati Laila, sama seperti ketika Raihan akan berangkat ke Jerman tiga tahu lalu. Di genggam erat dadanya, semakin di genggam semakin berdebar, begitulah yang Laila rasakan.
"Maafkan aku, aku harus memberimu banyak waktu. Ini caraku, untuk kamu bisa merasakan kembali getaran rasa yang pernah mati itu." batin Raihan dengan mengemudikan motornya.
Setelah sholat maghrib, di rumah Laila kedatangan tamu, yakni Leah. Ia membawakan beberapa bolu yang ia buat sendiri. Tangan yang sudah keriput itu di cium oleh Laila. Meski Leah di antar oleh Aminah, tapi Aminah langsung pulang karena harus mengajari Rafa dan teman-temannya mengaji di pesantren.
__ADS_1
Banyak hal yang Leah bicarakan kepada Laila. Dari Raihan kecil hingga dewasa seperti sekarang. Meski ia tak terlihat istimewa, tapi beban di pundaknya begitu berat, karena harus menjadi contoh yang baik bagi banyak adik-adiknya.
"Jadi, Bang Rai itu... sejak kecil memang orangnya terlihat tenang begitu ya, Uti?" tanya Laila.
"Iya, jika tidak ada orang yang memulainya, dia tak akan pernah mengusik orang lain, itu juga berlaku kepada adik-adiknya," jawab Leah.
"Kamu sudah melakukan itu?" tanya Leah mengarah ke hubungan intim.
Dengan menunduk, Laila menggeleng perlahan. Leah hanya tersenyum, meskipun Leah dulu yang inisiatif sendiri, tapi Aisyah dan Airy juga melakukannya setelah beberapa hari pernikahannya.
"Pernah, tapi tidak bilang, hanya kode. Laila belum siap, karena... Karena malu. Laila dulu pernah di sentuh oleh lelaki lain, tapi tidak melakukan itu kok, Uti!" jawab Laila.
__ADS_1
"Dia menyakitiku dengan melukai lenganku. Dan di sini ada bekas luka, jadi setiap Laila melihat luka itu, hati ini sangat sakit, Laila takut, jika Bang Rai melihat itu, dan..." kata-kata Laila terhenti.
"Dan.. kamu takut jika Raihan berpikir macam-macam, bukan? Jika kamu menceritakan semuanya, pasti dia bisa mengerti," tutur Leah.
Banyak yang mereka bicarakan malam itu, tentang bagaimana Laila dan Raihan pernah bertemu dulu, hingga menceritakan seluruh keluarga besar pesantren. Banyak pelajaran yang bisa Laila petik dari kisah-kisah keluarga suaminya.
Karena sudah begitu larut, Leah pamit pulang di jemput oleh Balqis. Yang di bicarakan Leah dan Airy ada benarnya, tidak salah jika Laila mencoba untuk lebih mempersiapkan diri melakukan hubungan itu. Tapi, semua itu kewajiban, akan dosa jatuhnya jika Laila terus menolak ajakan Raihan.
Laila duduk di sofa dengan mendongakkan kepala di atas, menghela nafas panjang dan terus memikirkan kata-kata Leah dan Airy. Dia memandang foto Aisyah yang terpampang jelas di dinding ruang tamu.
"Assalamu'alaikum, Ami. Mungkin, aku belum pernah bertemu dengan Ami. Tapi, dari semua kisah yang di ceritakan semua orang tenga Ami, membuatku sangat rindu denganmu, andai saja aku datang lebih awal waktu itu, dan bertemu denganmu... "
__ADS_1
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan tentang putramu, dia sangat misterius. Awalnya, aku merasa jika dia hanya mempermainkanku saja. Itu mengapa rasa itu mati," imbuhnya.
"Dia membuatku jatuh cinta, kemudian tak mau memperjuangkan dan memilih ke Jerman. Lalu, setelah tiga tahun, kita di pertemukan lagi, awalnya dia mundur karena tidak mau menikah muda. Kemudian, tiba-tiba langsung memberiku syarat pernikahan. Ami... seperti apa hati anakmu itu." tukasnya.