
Brukk…
“Hish, senenng banget sih tubuh gue ini nabrak orang,” gumam Laila.
“Lu, juga. Kalau jalan, mata kaki tuh di pakai, dong. Kesel gue!” serunya.
“Mohon maaf sebelumnya, tapi kan yang nabrak kamu. Kenapa kamu juga yang ngomel, ya?” tanya Raihan.
“Ah elah. Iya in aja ngapa, lagian.... Tunggu! Kamu cowok waktu itu, ‘kan?” LLaila ternyata memahami wajah, Raihan.
“Assalamu’alaikum.” Salam Raihan.
“Wa’alaikum sallam,” jawab Laila.
Karena ada sedikit luka di siku nya, Raihan pun mengajaknya untuk duduk dan mengobati luka itu. Kemudian, ia juga memberikan plaster luka kepada, Laila.
“Kalau di lihat-lihta. Nih cowok kok mirip seseorang, ya. Tapi siapa?” batin Laila.
“Sudah, ya. Saya harus cepat pulang. Lain kali hati-hati, jangan sampai nabrak lagi. Assalamu’alaikum.” Raihan berlalu.
“Wa’alaikum salam.”
Laila juga berjalan menuju arah pulang. Ia memang anak orang berada, namun ia kabur dari rumah karena ingin di jodohkan oleh Kakeknya. Ketika sampai di kos an, Ia melihat kakaknya sedang menunggunya. Namanya, Resti.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum, Laila. Kamu sudah pulang dari kampus?” sapa Resti ramah.
“Wa’alaikum sallam. Ngapain lu kesini?” ketus Laila.
“Astaghfitullah, Kakak tuh khawatir sama kamu. Kamu makan apa, sudah maakan atau belum, lalu tinggal di mana juga. Kakak tuh menghkhawatirkan kamu, La.” Tutur Resti.
“Nggak usah sok peduli, ini ‘kan yang lu dan Umi lu itu mau? Aku keluar dari rumah? Hah basi tau nggak, sih!” seru Laila.
Hubungan antara Resti dan Laila tidak seharmonis hubungan Raihan dan Airy. Resti dan Laila hanya saudara sambung. Uminya Resti menikah dengan Abinya Laila ketika usia mereka 8 tahun. Dan kini usia mereka menginjak 19 tahun.
“Ini ada sedikit uang saku, untukmu.” Ucap Resti, memberikan amplop coklat yang berisikan sejumlah uang.
“Kalau kurang, nanti Kakak transfer, ya.” Lanjutnya.
“Assallamu’alaikum, La.” Salam Resti dengan lembut.
“Wa’alaikum sallam.” Jawab Laila.
Disisi lain, Airy berangkat ke kantor. Ia melihat suaminya sedang bersama karyawan lain sedang bekerja.
“Adnan, tolong biasa, ya. Teh hangat, tapi jangan manis-manis.” Ucap Airy.
“Siap, Bu.” Sahut Adam dengan senyuman.
__ADS_1
“Wuih, ada apa ini gerangan? Nggak kamu, nggak Bu Calista, senyumnya riang banget, ngono loh?” tanya Hasan.
“Ndak papa, kok. Ayo kerja lagi, aku mau ke dapur dulu bikin teh untuk, Bu Calista.”
Bukan maksud Airy tidak mengakui Adam sebagai suaminya saat di kantor. Tapi, memang semua itu Adam yang meminta. Agar tidak menjadi gosip panas di kantor. Namun, baik Adam dan Airy tidak mengelak jika mereka memang sudah berkeluarga.
Tok.. tok.. tok..
“Masuk!” ucap Airy.
“Permisi, teh nya Bu.” Ujar Adam, menaruh cangkir itu ke meja isrinya.
Airy segera beranjak dari kursinya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Ia langsung memeluk suaminya dari belakang.
“Mas Adam, kangen.” Ucap Airy.
“Di kantor, Sayang,” tutur Adam.
“Pulang yuk ke kampung. Aku nggak suka tinggal di sini,” ajak Airy.
“Kuliahmu? Tanggung jawabmu dengan pekerjaan? Dan juga janjimu kepada Bang Rai, gimana?” tanya Adam.
Airy melepas pelukannya, memang susah jika menanggung tanggung jawab. Airy tidak ingin terjun di dunia bisnis seperti perkantoran. Banyak godaannya, lebih lagi dia tidak suka dengan kehadiran Hans dalam hidupnya.
__ADS_1