
"Kemana kita pergi?" tanya Raditya.
Akhirnya mereka berdua keluar juga. Tujuan utama mereka saat ini menuju ke tower Namsan lagi. Kemarin sore, Aminah belum puas berada di sana. Banyak hal yang ingin Aminah ungkapkan di sana. soal Ibu kandungnya yang sangat ia rindukan.
"Pemandangannya bagus banget dari sini. Kota Seoul jadi terlihat jelas deh, sejuk juga!" ucap Aminah.
"Iya, tahu sejarah Tower ini nggak?" tanya Raditya.
Aminah menggelang.
"Namsan tower mulai dibangun pada tahun 1969 dengan tujuan untuk difungsikan sebagai pemancar radio dan televisi. Baru, pada tahun 1980, menara ini dibuka untuk umum dan dijadikan objek wisata yang menawarkan pemandangan indah Kota Seoul dari puncak menara," jelas Raditya.
"Haha sok tau," ucap Aminah.
"Tadi aku baca di sana!" tunjuk Raditya.
"Ohhh…." jawab Aminah.
"Kamu juga tahu kan lampu di tower ini sering berubah-ubah?" tanya Raditya.
"Nggak ngeh sih, ada perbedaannya juga, kah?' tanya Aminah.
"Warna lampu di Namsan tower pada malam hari berubah-ubah sesuai dengan kondisi udara saat itu. Warna biru menandakan cuaca sangat baik. Warna hijau menandakan kondisi udara tidak terlalu baik dan disarankan menggunakan masker. Sedangkan warna merah menunjukkan bahwa udara sangat buruk dan sebaiknya masyarakat tidak keluar rumah," jelas Raditya lagi.
Aminah tidak menyangka jika Raditya tahu semua itu. Namun, Raditya sendiri memang membaca semua itu di bawah tower yang memang sudah tertulis. Setelah puas di atas, Aminah mengajak Raditya ke gembok cinta yang terkenal di sana. Banyak permohonan, doa dan harapan yang tersematkan di gembok itu.
"Wah, ini dari Indonesia. Mereka pasti sudah menikah, karena di sini mereka ke mari tahun lalu, dan mau menikah 3 bulan lalu. Senangnya…." ucap Aminah membaca gembok dari salah satu pengunjung asal Indonesia.
__ADS_1
"Kamu juga mau? Aku sudah beli dua, satu untukmu dan satu untukku!" usul Raditya yang sebelumnya memang sengaja membeli gembok saat mereka hendak ke gembok cinta.
"Bang Dit belinya kapan? Warna hijau kan kesukaanku juga, kok tau, sih? Makasih…" ucap Aminah senang.
Mereka pun menulis harapan dan doa di gembok itu. Mungkin bagi mereka hanyalah iseng dan ingin ikutan saja, karena doa yang sesungguhnya mereka ucapkan di dalam hati seraya menyebut Asma Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
"Itu nama siapa? bukannya Mama-mu namanya, Balqis?' tanya Raditya.
"Iya, Mama-ku namnya Balqis yang sekarang. Tapi, ini nama kandung Umi-ku, Ibuku yang sudah di panggil oleh Allah. Setiap dzikir aku sebut nama beliau agar suatu saat nanti kita di pertemukan, beliau mampu mengenali putrinya sendiri, aamiin…" ungkap Aminah.
Tak terduga, Aminah yang sebelumnya memang periang dan jarang menangis. Kali ini terlihat buliran air matanya terjatuh di pipinya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya memiliki Mama sebaik Balqis, namun tak bisa di bohongi saat dirinya merindukan sosok Ibu kandungnya.
Disaat Aminah hendak melempar kunci dari gemboknya, Raditya menahan tangannya, kembali membuat jantungnya berdegup kencang. Mungkin memang tidak menyentuh kulit tangannya, hanya di lengan bajunya. Akan tetapi, jantung Aminah tidak bisa dikendalikan lagi, semakin ia rasakan degupan itu, dada Aminah terasa sesak. Dia tidak tahu rasa apa itu. "Kenapa selalu ada di saat ia bersama Bang Raditya, bukan dengan yang lain?" batin Aminah heran.
Teringat kata-kata Mayshita, saat dirinya diam-diam jatuh cinta dengan sorang lelaki. Mayshita mengatakan jika itu akan terjadi di saat kita bersama dengan orang yang kita sukai. Lain dengan suka bersama saudara laki-laki/sepupu.
"Jika kamu jatuh cinta nanti, pasti kamu akan merasa aneh ketika bersama atau bertemu dengan lelaki itu. Jantungmu akan berdegup dengan kencang, bahkan kau tidak akan mampu mengontrolnya. Lalu, di saat dia bicara, entah kenapa pasti akan membuatmu meneteskan air mata karena haru,"
"Kita mulai memikirkannya, apapun perkataannya pasti selalu kita ingat. Tapi, ada juga yang mencintai karena hawa nafsu, na'udzubillah semoga kita tidak mencintai seseorang lelaki karena nafsu saja!"
"Apa yang dikatakan May, sekarang aku merasakan itu. Apakah aku jatuh cinta dengan Bang Dit? Tapi kenapa dia?" batin Aminah.
"Jangan buang sembarangan, nanti bisa jadi sampah. Lihat ada kotak di situ, kan? Nah, kita akan buang kuncinya di kotak itu. Karena memang sudah disediakan oleh pihak keamanan, ayo!" tunjuk Raditya.
Suara Raditya bisa memecah kehilangan lamunan Aminah. Aminah merasa jika dirinya memang jatuh cinta kepada Raditya, entah karena sering bersama, entah memang Raditya jodohnya.
"Setelah ini mau kemana?" tanya Raditya.
__ADS_1
Lagi-lagi Aminah melamun, ketika Raditya panggil pun Aminah tidak mendengarnya. Ia malah menjawab hal yang tak nyambung dengan pertanyaan Raditya.
"Bang Dit, pernah jatuh cinta nggak?" tanya Aminah masih saja terjebak di lautan cinta.
"Ehem," Raditya mendehem.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Raditya.
"Jawab saja! Aku hanya ingin mendengar jawabanmu itu, kita ngobrol sambil duduk aja ya...." ajak Aminah.
Raditya menjelaskan bahwa dirinya pernah mengalami jatuh cinta di usia yang sama seperti Aminah sekarang. Namun ia tak tahu cinta yang seperti apa yang ia miliki dulu kepada wanita itu. Ketika mereka masih di pesantren, mereka di pertemukan dan Raditya menyukainya karena sosok wanita itu adalah periang. Tapi semakin lama, perasaan itu hilang ketika wanita itu pergi dari pesantren.
"Siapa wanita itu?" tanya Aminah.
"Namanya Nadia, dia sahabat Airy. Tapi, dia pergi dan sampai sekarang aku tidak mendengar kabarnya lagi," jawab Raditya.
"Lalu, apakah rasa itu akan sama jika wanita itu kembali?" tanya Aminah.
"Tidak, InsyaAllah tidak. Karena ada hati yang aku jaga sekarang, dan entah kapan aku bisa memilikinya. Mungkin hanya sebatas angan saja, karena dia tidak menyukaiku. Setiap kita bertemu, kita hanya bertengkar saja," ungkap Raditya.
Mendengar ada hati yang sedang dijaga Raditya. Hati Aminah terasa sesak nan sakit. Seperti pisau tajam yang menancap di hatinya. Dia benar-benar jatuh cinta kepada sahabat Abangnya itu.
"Lalu, siapa hati yang di jaga itu?" tanya Aminah.
"Ya itu rahasia, dong! Kenapa sih kamu tanya seperti ini? Sudahlah jangan di bahas lagi, kita makan siang saja yuk! Tante-mu bukannya mau mengajak kita ke rumah makan temannya, ya? Hayuk atuh!" Raditya mengelak pertanyaan Aminah yang membuat Aminah kesal.
"Opo susahe ngomong, sih? Emange sopo sik di senengi ke, wah! Sebel aku nek ngene iki, pengen tak jambak! Hiss!" umpat Aminah.
__ADS_1
(Apa susahnya ngomong, sih? Memangnya siapa yang di sukai, wah! Kesal aku jika seperti ini, pengen tak jambak!)
Aminah mengikuti langkah Raditya yang sudah melangkah lebih jauh di depannya. Mereka hendak mengunjungi rumah makan Yoona dan Jamil yang sebelumnya memang sudah di rencanakan oleh Ceasy untuk mengajaknya ke sana.